Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Gulai Ikan Patin Asam Pedas

Riak Tenang Sungai Siak & Kedai Panggung Tepian Bandar

Di bawah bentangan Jembatan Siak dan embusan angin khatulistiwa, pertemuan dua insan mempertemukan logika kota yang dingin dengan kehangatan adat dan kuliner asam pedas Melayu.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


### Adegan I: Pelataran Taj Mahal Riau

Pertemuan di Bawah Kubah Zamrud Masjid Raya An-Nur

🍜 🍲 🍧

Matahari Pekanbaru menggantung tanpa ampun tepat di atas ubun-ubun khatulistiwa, memancarkan gelombang hawa panas yang membuat aspal Jalan Hang Tuah tampak bergetar seperti fatamorgana minyak mentah. Fathan mengusap keningnya yang basah dengan punggung tangan, menarik napas panjang seraya menyandarkan bahunya pada pilar marmer putih Masjid Raya An-Nur. Masjid agung yang dijuluki Taj Mahal Riau itu berdiri kokoh laksana permata di tengah savana beton: kubah-kubah hijau toskanya memayungi kolam luas yang memantulkan langit biru jernih tanpa cela. Namun, di dalam dada Fathan, udara terasa sesak dan bising.

Ia membawa terlalu banyak puing dari Jakarta. Tiga tahun bekerja sebagai analis strategi korporat telah membonsai jiwanya menjadi serangkaian matriks efisiensi yang dingin. Ia masih ingat dengan amat getir malam ketika pertunangannya karam enam bulan lalu—bukan karena tiada cinta, melainkan karena ia menolak menjadi sekadar mesin pencetak prestise sosial bagi keluarga sang mantan kekasih yang gemar pamer di pesta-pesta Senopati. Kata-kata terakhir wanita itu masih terngiang bak duri berkarat: 'Kamu terlalu idealis, Fathan. Realitas itu dihitung pakai angka, bukan pakai rasa.' Di sinilah ia sekarang, melarikan diri ke tanah Riau, berharap aroma rempah pesisir mampu membasuh bau keringat keputusasaan yang melekat di kerah kemejanya.

'Kalau melamun di pelataran An-Nur, nanti disangka patung marmer tambahan oleh marbot, Uda,' sebuah suara lembut mengalun, membelah kesunyian tengah hari dengan intonasi berirama yang renyah.

Fathan tersentak dan menoleh. Di hadapannya, berdiri seorang perempuan muda dengan senyum terkulum yang memancarkan keteduhan luar biasa. Tengku Zulaikha mengenakan baju kurung modern berwarna hijau lumut pastel dengan sulaman benang emas songket Siak yang melingkari pergelangan tangan dan ujung bajunya. Selendang sifon sewarna tersampir anggun di bahunya, melingkar membingkai wajah lonjong dengan mata berbinar jenaka. Di lehernya tergantung sebuah kamera mirrorless mungil dengan tali kulit cokelat tua, kontras namun serasi dengan aura ningrat Melayu yang melekat padanya.

'Tengku Zulaikha?' Fathan menegakkan punggungnya dengan kikuk, merapikan tas punggungnya yang tampak kusam di hadapan kerapian sang gadis.

'Panggil saja Zulaikha, Uda Fathan,' jawabnya sembari mengatupkan kedua belah tangan di dada—sebuah salam khas anak negeri Melayu yang membatasi jarak raga namun menghangatkan persaudaraan kalbu. 'Saya sudah menunggu sepuluh menit. Melihat Uda menatap menara masjid seperti hendak menghitung beban struktural fondasinya, saya jadi ragu apakah Uda ini penulis cerita perjalanan atau auditor pajak yang sedang menyamar.'

Fathan tergelak canggung, pipinya menghangat. 'Kebiasaan lama, Zulaikha. Di kota saya, kalau tidak menghitung sesuatu setiap detik, orang akan mengira kita sedang membuang-buang modal hidup.'

Mendengar kalimat itu, kilau tawa di mata Zulaikha meredup sejenak, digantikan oleh kedalaman tatap yang menyiratkan pemahaman sunyi. Gadis itu menatap pantulan kubah zamrud di permukaan kolam. Di balik keceriaannya sebagai pembuat konten budaya yang digandrungi ribuan pengikut digital, Zulaikha sesungguhnya memikul kepedihan yang sama sunyinya. Ia ingat pesan almarhum kakeknya—seorang pemangku adat di Siak Sri Indrapura—sebelum mangkat dua tahun silam: 'Ika, orang sekarang pandai membeli cermin mahal, tapi lupa cara memandang budi sendiri. Kalau budak Melayu sudah malu berpantun dan malu berbahasa santun, runtuhlah segenap marwah Lancang Kuning.' Zulaikha sering merasa kelelahan bertarung melawan banjir konten dangkal di gawai pintar, di mana budaya luhur direduksi menjadi sekadar joget viral lima belas detik.

'Orang Melayu tak pernah menghitung hidup dengan angka, Uda,' ucap Zulaikha pelan, suaranya tenang bak gemerisik daun kelapa dihembus angin selat. 'Sebab hidup ini adalah hamparan pantun. Pembayangnya adalah takdir yang tersurat, dan isinya adalah bagaimana budi pekerti kita menjawabnya. Nah, sebelum kepala Uda meledak karena rumus-rumus Jakarta itu, ada baiknya kita selamatkan lambung Uda dulu. Patin asam pedas di tepian Siak sudah memanggil-manggil!'

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


### Adegan II: Badai Asam Pedas & Pantun Dangdut

Adu Mulut Jenaka Demi Kepala Patin di Bawah Bayang Jembatan Siak

🍜 🍲 🍧

Kedai makan berdinding papan kayu ulin itu bertengger di atas tiang-tiang pancang di tepian Sungai Siak—sungai terdalam di Nusantara yang airnya mengalir tenang berwarna cokelat tembaga legam. Dari dermaga kayu panggung ini, siluet megah Jembatan Siak III menjulang membelah langit sore, sementara aroma kayu basah, lumpur sungai yang hangat, dan asap pembakaran sabut kelapa berbaur menjadi latar wangi yang eksotis.

Namun, aroma yang merajai udara saat itu berasal dari periuk tembikar besar di sudut kedai: uap pekat membubung tinggi, membawa keharuman sitrus segar yang menyengat hidung, wangi bunga kecombrang yang harum merekah, dan sengatan cabai merah giling yang membuat air liur siapa pun terbit tanpa ampun. Pelayan paruh baya berselempang kain pelekat menghidangkan semangkuk besar Gulai Ikan Patin Asam Pedas tepat di tengah meja kayu mereka.

Kuahnya merah membara berpadu kuning kunyit yang berkilauan berminyak alami. Di dalam genangan kuah mendidih itu, terbaring sepotong kepala patin sungai berukuran raksasa, dikelilingi irisan asam kandis yang gelap pekat, bunga kecombrang merah jambu yang mekar, dan daun ruku-ruku yang layu dalam kelezatan sempurna.

Perut Fathan berbunyi keras—sebuah bunyi protes organik yang tak bisa disamarkan oleh martabat sarjana ekonomi mana pun. Matanya berbinar lapar. Ia langsung meraih centong bambu, hendak mencomot kepala patin yang penuh lemak gurih itu.

'Eits! Tunggu dulu, Laksamana!' bentak Zulaikha dengan mata melotot jenaka seraya sigap menyambar centong bambu itu dari genggaman Fathan.

'Ada apa lagi, Zulaikha? Demi Tuhan, aroma ini sudah menyiksa saraf otak saya sejak sepuluh kilometer yang lalu!' keluh Fathan sembari menatap mangkuk itu dengan tatapan memelas.

'Di tanah Lancang Kuning ini, tak ada suapan patin yang halal dinikmati tanpa mahar seuntai bait pantun Melayu, Uda!' Zulaikha menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi rotan, melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan. 'Kalau Uda mau menyendok kepala patin yang lemak manis ini, Uda wajib membalas salam makan dengan pantun empat kerat. Kalau rimanya sumbang, kepala patin ini jadi milik saya, dan Uda cukup makan nasi putih berteman kuah jelantah!'

Lihat selengkapnya