Pusaka Gurindam Dua Belas • Pasal Kelima (Raja Ali Haji)
"Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa. Gurindam Raja Ali Haji itu cermin jiwa."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
## Adegan I: Ombak Selat Riau dan Topi yang Melayang
Di Atas Pompong Kayu yang Mengguncang Arogansi. Lokasi: Selat Riau, perlintasan Sri Bintan Pura menuju Pulau Penyengat | Waktu: Menjelang Siang yang Terik Berangin | Suasana: Berguncang, Kikuk, Renyah, Percikan Romansa
🍜 🍲 🍧
Deru mesin diesel satu silinder itu memuntahkan irama yang tak kenal ampun: *pong... pong... pong... pong.* Suara itu bukan sekadar bebunyian mekanis, melainkan detak jantung purba Selat Riau yang telah berdenyut ratusan tahun sebelum kapal-kapal kargo berbendera asing menggores garis cakrawala. Di atas lambung kayu bercat hijau lumut yang terombang-ambing dihempas alun pasang, Fathan Al-Ghazi mencengkeram tiang penyangga atap perahu dengan buku-buku jari memutih. Jika ada pemandangan yang paling mencederai martabat seorang konsultan finansial lulusan Melbourne dengan setelan linen Italia senilai belasan juta rupiah, itulah dirinya saat ini: berdiri kaku serupa patung garam yang panik, berusaha menakar apakah air laut yang memercik ke sepatunya mengandung kadar garam perusak kulit samak.
"Encik Fathan, kalau tegang macam tiang bendera begitu, nanti punggung awak yang patah, bukan perahunya!" seru Aisyah Karim dari bibir haluan. Suara gadis itu melengking bening, berkejaran dengan deru angin selat yang asin dan liar. Aisyah berdiri tanpa berpegangan pada apa pun—kedua kakinya yang beralaskan sandal tali rotan seolah berakar langsung pada urat-urat kayu meranti perahu pompong. Kerudung biru toska miliknya berkibar ceria, membingkai wajah kuning langsat yang dipahat matahari pesisir. "Duduklah, Cik. Laut Penyengat ini tak suka orang sombong yang menolak bergoyang mengikuti gelombangnya."
"Saya tidak tegang," sahut Fathan defensif, kendati rahangnya terkancing begitu rapat hingga pelipisnya berdenyut nyeri. Di dalam rongga dadanya, guncangan lambung perahu ini membangunkan hantu lama yang tak pernah benar-benar mati. Tiga tahun lalu, di lantai tiga puluh empat gedung pencakar langit Sudirman, lantai marmer di bawah kakinya terasa bergetar serupa ini—saat palu dewan komisaris jatuh, melucuti proyek ambisius yang ia bangun dengan darah dan air mata, disertai tatapan kecewa mendiang ayahnya yang dingin membeku: *'Kau terlalu terburu-buru, Fathan. Kau kira dunia bisa kau taklukkan hanya dengan angka di atas kertas?'* Sejak hari itu, Fathan mengutuk segala ketidakpastian. Dan laut ini adalah definisi murni dari ketidakpastian.
Tiba-tiba, sebuah alun pendek kiriman kapal feri Batam Fast melintas di lambung kiri. Perahu pompong terlonjak miring empat puluh derajat. Pak Murad di buritan sigap memutar kemudi kayu sembari menghembuskan asap rokok nipah tanpa setitik pun kepanikan di matanya yang keriput. Namun bagi Fathan, cakrawala serasa jungkir balik. Bersamaan dengan pekikan tertahannya, angin selat yang mendadak ganas menyambar topi panama berkelas yang menutupi rambut klimisnya.
"Topi saya!" jerit Fathan, refleks mengulurkan tangan ke udara kosong.
Sebelum topi itu sempat mencium buih air laut, tubuh Aisyah telah melesat lincah meniti pinggiran bibir perahu. Dengan satu liukan lentur seorang anak pesisir sejati, jemari mungilnya menyambar pinggiran topi tepat setengah jengkal di atas permukaan ombak. Gerakan mendadak itu membuat tubuhnya terdorong ke belakang oleh gravitasi alun yang mengayun perahu kembali ke kanan.
Fathan terkesiap, tanpa berpikir panjang melepas pegangan tiang dan mendekap bahu gadis itu agar tak terpelanting ke lantai kayu basah. Sentakan ombak mengunci mereka berdua pada posisi yang tak pernah ada dalam kalkulasi bisnis mana pun. Punggung Aisyah membentur dada Fathan yang bidang, lalu berputar sekejap hingga wajah mereka berdua terhenti hanya berjarak sejengkal napas. Begitu dekat, hingga aroma wangi sabun sereh dan rempah jeruk kesturi dari tengkuk Aisyah melarutkan sengatan air asin yang menusuk hidung Fathan. Di balik manik mata kecokelatan gadis itu, Fathan melihat pantulan dirinya sendiri—bukan sosok eksekutif muda yang dingin tak tersentuh, melainkan seorang pemuda linglung yang jantungnya berdentum lebih liar daripada deru mesin pompong Pak Murad.
"Dapat," bisik Aisyah perlahan. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya yang basah oleh percikan air laut, tak ada secuil pun getar takut di nadanya. Gadis itu mengetukkan ujung topi basah itu ke dada Fathan. "Lain kali, ikat hatimu kuat-kuat, Encik. Angin Tanjung Pinang ini pintar mencuri apa saja yang tak kau genggam dengan ikhlas."
Fathan menelan ludah dengan tenggorokan kering kerontang. Ia buru-buru melepaskan pegangannya, mendadak merasa perahu pompong yang berguncang ini seratus kali lebih stabil daripada gempa halus yang baru saja meremukkan dinding keangkuhannya.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
## Adegan II: Tragedi Gonggong Terbang di Tepian Rimba Jaya
Ketika Keangkuhan Metropolitan Bertemu Cangkang Pesisir. Lokasi: Kedai Makanan Laut Panggung Tepi Laut, Pelantar Tanjung Pinang | Waktu: Tengah Hari, Matahari Menyepuh Selat Berkilau Emas | Suasana: Jenaka, Komedi Pesisir, Meledak Rasa, Gurih Alami
🍜 🍲 🍧
Pelantar kayu ulin di kedai panggung tepi laut itu berderit ritmis setiap kali ombak pasang menampar tiang pancangnya di bawah lantai. Udara Tanjung Pinang siang itu dipenuhi aroma yang memabukkan indra: uap bawang putih goreng, kepulan asap arang dari pembakaran ikan lebam, dan bau gurih mineral dari kuali besar yang merebus ribuan siput laut. Di atas meja kayu panjang yang permukaannya sudah terkelupas oleh usia, terhidang dua piring porselen besar berisi tumpukan siput gonggong rebus yang masih mengepulkan uap hangat beraroma serai dan daun jeruk purut, ditemani mangkuk kecil sambal terasi merah menyala yang diperas jeruk kunci kesturi.
Fathan menatap gundukan siput bercangkang kerucut belang-belang cokelat keemasan itu dengan pandangan menyelidik, seolah-olah hidangan itu adalah laporan neraca keuangan yang penuh manipulasi angka. "Ini... siput yang melegenda itu? Mengapa bentuknya seperti batu kerikil pantai yang lupa dipecahkan koki?"
"Astaga, Encik Sultan..." Aisyah menopang dagunya dengan sebelah tangan, matanya menyipit geli melihat setelan jas Fathan yang kini dilipat kaku di sandaran kursi. "Gonggong ini pusaka selat kami. Dagingnya manis renyah macam udang, tapi auranya ningrat. Dia tak sembarangan menyerahkan diri kepada pemakan yang rakus. Awak kena tahu budi bahasanya dulu baru dia sudi keluar dari sangkarnya."
"Budi bahasa? Ini moluska, Aisyah. Hewan tanpa sistem saraf pusat," kilih Fathan pongah. Otak korporatnya langsung menolak premis mistis tersebut. Di restoran Prancis langganannya di Senopati, escargot disajikan anggun dalam piring perak berlekuk enam lengkap dengan penjepit khusus bergagang gading. Mengapa pula ia harus berfilsafat di depan sepiring kerang rebus di kedai pinggir dermaga?