Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Gulai Tepek Ikan Batanghari

Fathan yang terbiasa dengan santapan fine dining dan keju parmesan Eropa mendadak panik ketika aroma menyengat tempoyak durian menusuk hidungnya di sebuah kedai tepian Sungai Batanghari. Di tengah kekacauan komikal itu, Mayang Sari—arkeolog muda bersuara sejuk—membimbingnya melintasi batas prasangka melalui keajaiban rasa Gulai Tepek Ikan dan ketenangan abadi di Kompleks Percandian Muaro Jambi.

**Kutipan Ikonik**: "Durian yang difermentasi mengajarkan kita: sesuatu yang awalnya terasa asing dan tajam, bisa menjadi hal paling dirindukan bila dipahami dengan hati."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


### Adegan I: Lembayung Batanghari dan Angin Gentala Arasy

Lokasi: Jembatan Pedestrian Gentala Arasy, Sungai Batanghari | Waktu: Sore Menjelang Magrib (17.15 WIB)

🍜 🍲 🍧

Angin senja bertiup membawa aroma tanah basah bercampur semilir uap air raksasa. Di bawah rentangan kabel baja Jembatan Gentala Arasy yang meliuk anggun bagai huruf S, Sungai Batanghari mengalir tenang dengan warna cokelat keemasan—urat nadi purba yang telah menyaksikan ribuan perahu cadik melintas sejak zaman Kerajaan Melayu Kuno hingga armada Sriwijaya berlabuh di tanah ini. Cahaya tembaga matahari terbenam memantul di permukaan air yang beriak halus, memecah siluet Menara Jam Gentala Arasy di kejauhan seolah kota ini sedang membasuh dirinya dari debu peradaban modern.

Namun, di tepi pagar jembatan, Fathan Al-Ghifari justru sedang sibuk berperang dengan selembar tisu basah desinfektan berkandungan alkohol medis 75%. Dengan gerakan presisi seorang ahli bedah saraf, ia mengusap permukaan pegangan besi jembatan berulang kali sebelum memberanikan diri menumpangkan kedua tangannya. Kemeja linen putih rancangan penjahit Milan miliknya terkibas angin kencang, menampakkan kegelisahan yang tak mampu disembunyikan oleh kacamata berbingkai titanium mahal.

"Abang Fathan, kalau besi jembatan tu abang bersihkan sampai berkilat macam cermin wastafel hotel bintang lima, nanti penunggu sungai Batanghari malah silau matonyo," suara itu terdengar lembut, mengalun dengan cengkok Melayu Jambi yang bersahaja dan renyah. Mayang Sari berdiri selangkah di sampingnya, mengenakan jaket lapangan warna kanvas zaitun yang pudar di bagian siku—tanda nyata seorang arkeolog yang lebih banyak berdialog dengan cangkul ekskavasi dan serpihan bata kuno ketimbang karpet marmer gedung perkantoran Sudirman.

Fathan melirik gadis itu dengan alis terangkat setengah senti. "Mayang, kamu tahu berapa ribu telapak tangan yang memegang pagar ini setiap harinya? Mikroba di iklim tropis dengan kelembapan delapan puluh lima persen bereproduksi secara eksponensial. Ini bukan sekadar higienitas; ini mitigasi risiko epidemiologis."

Mayang menahan senyum tipis di sudut bibirnya. Matanya yang jernih memandang aliran sungai yang luas membentang. "Di Jambi ko, Bang, air Batanghari sudah ratusan tahun menghidupi jutaan orang. Dari tanah hulu di Kerinci sampai muara di Berbak, tak ado yang mati keno angin sungai. Yang membunuh orang di kota besar tu kadang bukan kuman, tapi pikiran yang terlalu ketat macam tali biola mau putus."

Kata-kata Mayang menusuk tepat di celah terdalam dada Fathan. Pria itu terdiam. Bayangan meja rapat dewan direksi keluarga di Jakarta mendadak melintas di benaknya—sebuah ruangan kedap suara berpendingin udara ekstrem, di mana ayahnya selalu memukul meja dan menuntut kesempurnaan laba tanpa kompromi. Fathan meremas tisu desinfektan di jemarinya yang mendadak dingin. Di sini, di atas jembatan yang terayun pelan oleh tiupan angin bebas, rongga dadanya untuk pertama kali dalam lima tahun merasakan tarikan napas yang tidak terasa sesak.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


### Adegan II: Alaram Kebocoran Gas di Kedai Tepian

Lokasi: Warung Makan Tradisional Selaras Rasa, Seberang Kota Jambi | Waktu: Senja Berganti Malam (18.30 WIB)

🍜 🍲 🍧

Lihat selengkapnya