Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Pendap Ikan Kelapa Daun Talas

Rahasia Pendap Daun Talas di Bawah Lindungan Benteng Marlborough. Sebuah perjalanan rasa dan pergulatan batin di tanah pengasingan Bung Karno. Ketika seorang jurnalis urban yang terpasung paranoia kalsium oksalat bertemu dengan seorang gadis penjaga rimba Rafflesia dan pusaka kuliner berumur ratusan warsa.

“Daun talas yang tadinya gatal bisa menjadi sajian termulia jika dimasak dengan sabar. Manusia yang sombong pun bisa luluh jika disentuh dengan kebaikan.” — Fatimah Zahra, Lorong Bata Benteng Marlborough

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


### Bagian I: Bayang-bayang Anggut Atas dan Jiwa yang Terpasung

Di Bawah Kanopi Beringin Rumah Pengasingan - Rumah Pengasingan Bung Karno, Anggut Atas, Bengkulu

🍜 🍲 🍧

Matahari Bengkulu menggantung rendah di atas pepohonan Anggut Atas, menumpahkan cahaya tembaga yang gerah dan lembap ke atap seng Rumah Pengasingan Bung Karno. Angin pesisir berembus membawa partikel garam samar dari arah barat, bergesekan dengan dedaunan beringin tua yang akarnya menjuntai seperti tirai waktu. Di beranda depan berlantai papan jati yang masih menyimpan bau pernis lawas, Fathan berdiri mematung. Jemarinya yang pucat meraba kusen jendela kayu bersahaja—tempat seorang proklamator pernah menghabiskan empat tahun dalam kesunyian yang dipaksakan kolonial, merajut impian tentang kemerdekaan di tengah keterasingan total.

Namun bagi Fathan, pengasingan bukanlah peristiwa sejarah bertanggal 1938. Pengasingan adalah kondisi batinnya sendiri. Sepanjang dua tahun terakhir, semenjak kantor media investigasi di Jakarta membuangnya demi menyelamatkan muka konglomerat pemilik modal, Fathan telah mengunci diri dalam benteng kecurigaan. Baginya, setiap senyum adalah perangkap, setiap kebaikan adalah racun berbunga gula, dan dunia luar adalah medan ranjau yang siap meledakkan sisa martabatnya yang compang-camping.

"Bung Karno dulu ndak mengutuk sunyinya Bengkulu, Mas. Beliau justru berkebun, merancang panggung tonil Monte Carlo, dan mengagumi puspa Rafflesia kek cinta yang tulus," sebuah suara berujar pelan dari samping tangga beranda. Suara itu tenang, nyaris seperti desir dedaunan ruku-ruku yang disapu angin sore.

Fathan tersentak kecil, lekas menarik tangannya dari kusen kayu seolah baru saja menyentuh kawat beraliran listrik. Di sampingnya telah berdiri Fatimah Zahra. Gadis berkerudung hijau lumut dengan jaket kanvas lapangan pudar itu tengah membetulkan tali tas selempang purunnya. Wajahnya bundar teduh tanpa sapuan riasan, tapi sepasang matanya menyimpan ketajaman seorang peneliti rimba yang terbiasa membaca gerak-gerik spora dan lumut di dasar jurang Bukit Daun.

"Bung Karno itu orang besar berjiwa samudra, Zahra. Dia bisa mengubah keterbuangan jadi lentera," sahut Fathan dengan bibir tertarik sinis, mencoba menutupi debar jantungnya yang selalu mendadak kencang jika didekati manusia lain. "Sedangkan orang biasa seperti kita? Kita cuma serpihan debu yang tersesat di kota antah berantah, menunggu waktu untuk dibuang lagi."

Fatimah tidak langsung menyangkal. Ia hanya tersenyum tipis—senyuman khas pesisir Melayu Bengkulu yang tidak terburu-buru menghakimi, melainkan membiarkan kalimat itu mengapung hingga karam oleh keheningan sendiri. Gadis itu lalu menepuk pelan rantang anyaman daun pandan di pangkuannya. "Kota ko bukan antah berantah, Mas Fathan. Bengkulu ko tanah bertuah. Kalau orang datang membawa racun prasangka, tanah ko bakal balas kek kegelisahan. Tapi kalau datang kek perut lapar dan hati terbuka... Ambo jamin, badai di kepala kau itu bakal jinak."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


### Bagian II: Paranoia Daun Talas dan Perkara Tempat Sampah

Insiden Bungkus Organik di Pintu Keluar Anggut - Jalan Soekarno-Hatta menuju Pesisir Marlborough

🍜 🍲 🍧

Perjalanan menuju pesisir Marlborough mendadak berubah menjadi drama kepanikan ketika Fathan melirik isi kantong purun yang diletakkan Fatimah di jok belakang mobil sewaan mereka. Di sana, teronggok sebundel benda berbentuk silinder tebal seukuran telapak tangan, dibungkus berlapis-lapis daun hijau kehitaman yang layu dan terikat erat oleh tali bambu kasar. Aroma tanah gambut basah, kelapa pekat, dan tajamnya rempah pedas merembes dari lipatan daun yang berkeringat minyak kemerahan.

"Astaga! Zahra, kenapa ada sampah sisa kompos hotel bintang lima ikut masuk ke mobil?!" Fathan menjerit tertahan, refleks memegang ujung kerah bajunya untuk menutupi hidung. Tanpa pikir panjang, ia meraih bungkusan berlemak itu dengan dua pucuk jari, berniat melemparkannya ke bak sampah drum oranye di pinggir trotoar jalan.

"Astaghfirullah, Mas Fathan! Berenti! Lepaskan tangan kau dari bungkusan tu!" Fatimah memekik panik, gerakannya secepat gerakan ranting bambu yang terlenting. Tangannya yang mungil namun liat mencengkeram pergelangan tangan Fathan tepat saat bungkusan itu hanya berjarak sepuluh sentimeter dari bibir tempat sampah berkarat. Mata gadis itu membulat sempurna, nafasnya memburu.

"Itu Pendap, Mas! Pendap ikan! Lauk pusaka Bengkulu! Ambo beli subuh tadi di Pasar Panorama dari Mak Tuo Rasimah yang paling sohor! Kau buang makanan ko, durhaka tujuh turunan kau kek tanah Melayu!" sergah Fatimah dengan intonasi Melayu Bengkulu yang mengalir kental tanpa kompromi.

Fathan ternganga, lalu buru-buru melepaskan pegangannya hingga bungkusan itu jatuh aman ke pangkuan Fatimah. Namun kepanikan Fathan bukannya reda, malah berputar seratus delapan puluh derajat ke arah yang lebih konyol. Pria itu menyalakan layar ponsel pintarnya, jarinya mengetik panik dengan gemetar: 'Daun pembungkus pendap Bengkulu racun kalsium oksalat gejala'.

Lihat selengkapnya