
Palembang: Diplomasi Pempek Kapal Selam dan Cuko Hitam Menyerang Jantung. “Pempek tanpa cuko itu hampa, ibarat hidup yang bergelimang harta tapi tak punya rasa cinta.”
### Palembang: Diplomasi Pempek Kapal Selam dan Cuko Hitam Menyerang Jantung. **Wilayah**: Palembang, Sumatera Selatan
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
#### Adegan I: Riak Keruh Sungai Musi dan Bayang-Bayang Sangkar Emas
Menyusuri Tepian Pasar 16 Ilir di Kala Mentari Sumatera Menggelincir. Waktu: Sore Menjelang Senja (16.45 WIB) | Lokasi: Dermaga Pasar 16 Ilir, Tepian Sungai Musi, Palembang
🍜 🍲 🍧
Derit kayu ulin tua di bawah sol sepatu pantofel kulit anak sapi milik Fathan Al-Ghazi berbunyi seperti protes tertahan. Di hadapannya, Sungai Musi membentang selebar hampir lima ratus meter—permukaannya berwarna cokelat pekat keemasan menyerupai teh susu kental yang diaduk tergesa. Bau lumpur basah bercampur aroma solar mesin perahu, asap bakaran ikan, dan udara lembap tropis menyergap paru-paru Fathan yang selama dua puluh delapan tahun hidupnya terbiasa dengan udara AC hepa-filter gedung perkantoran kawasan Sudirman.
“Payo Kak Fathan! Langkahnyo jangan cak perawan mau dipinang, licin ulin tu kalu dak biasa!” suara melengking nan renyah membelah gemuruh riak air. Selly Agustina menoleh sambil memutar gimbal ponselnya dengan kelincahan seorang pesulap jalanan. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu mengenakan atasan blus katun berpadu selendang motif songket limar mini berwarna jingga terakota. Di kerah bajunya tersemat mikrofon clip-on nirkabel berkedip halus, merekam setiap embusan angin dan tawa lepasnya.
“Saya tidak terbiasa berjalan di atas titian terapung tanpa pagar pengaman standar ISO, Selly,” sahut Fathan datar. Ia menarik sedikit kerah kemeja linen biru tuanya yang mulai lembap oleh keringat. “Dan tolong matikan kamera itu. Kita ke sini untuk mengaudit kelayakan aset mitra Ar Rimbai Sriwijaya, bukan syuting opera sabun petualangan.”
Selly justru tergelak, memperlihatkan lesung pipit di pipi kanannya yang mempertegas tatapan matanya yang hidup. “Apo dio audit-audit tu? Di Palembang ni, Kak, sebelum kito ngomong duit miliaran di meja notaris, kito harus kenal dulu samo isi perut Musi! Tengok tuh perahu jukung muat kelapa dari Upang, tengok ketek yang laju tu. Hidup di sini dak pacak diitung pake rumus spreadsheet Excel Kakak yang kaku nian!”
Fathan menghela napas panjang, namun pupil matanya tak dapat menyembunyikan kekaguman yang samar. Di belakang Selly, hilir mudik perahu jukung bertiang bambu dan perahu ketek kecil bermesin dongfeng membelah riak air dengan dengungan berirama khas: tek-tek-tek-tek. Di kejauhan, siluet raksasa Jembatan Ampera berdiri dengan dua menara pilon megah berkelir merah padam, merentang pongah menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir.
Sebuah kilatan retrospeksi mendadak menyengat dada Fathan. Ia teringat makan malam keluarga di penthouse Menteng tiga bulan sebelum ayahnya mangkat. Meja makan marmer Carrara sepanjang delapan meter, hanya diisi tiga piring porselen dingin. Ayahnya melarang denting garpu menyentuh piring. Suara tawa dianggap tanda lemahnya wibawa dewan direksi. Segala sesuatu harus terukur, steril, dan tidak boleh ada noda minyak yang menetes. 'Seorang Al-Ghazi mengendalikan emosi, bukan dikendalikan selera,' bisik sang ayah kala itu.
Kini, berdiri di hadapan gadis yang rambutnya berkibar diterpa angin sungai berlumpur, Fathan merasa pertahanan logikanya yang dibangun bertahun-tahun mulai goyah seperti paku karat di dermaga kayu ini. Selly melompat ringan menaiki undakan menuju Kedai Wak Cik—sebuah warung panggung kayu terapung beratap seng yang menyebarkan aroma harum gurih ebi dan jelaga arang.
> "Sungai Musi tidak pernah berpura-pura jernih, Kak. Ia keruh oleh tanah purba, tapi justru di sanalah hidup bermula."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
#### Adegan II: Petaka Cuko Hitam Lubuklinggau dan Simfoni Cegukan Ketek
Ketika Etiket Restoran Bintang Lima Diluluhlantakkan oleh Segelas Gerabah Cuko. Waktu: Senja Tembaga (17.30 WIB) | Lokasi: Kedai Pempek Tradisional Wak Cik, Tepian Seberang Ulu
🍜 🍲 🍧
Kedai Wak Cik berdinding papan kayu bercat biru pudar yang terkelupas oleh uap air sungai. Di sudut meja kayu jati belanda yang permukaannya dipenuhi guratan pisau dapur, asap putih membubung dari panggangan arang tempurung kelapa. Wak Cik, seorang pria paruh baya berkaus kutang putih dengan handuk kecil di leher, sedang mengipasi potongan Lenggang Panggang di dalam wadah takir daun pisang.
“Payo Wak Cik! Masukke kapal selam duo, lenggang panggang sikok, samo mie celor kagek ye!” teriak Selly riang tanpa melihat daftar menu. Ia menarik kursi kayu bulat berkaki empat dan menyodorkannya ke hadapan Fathan. “Duduk Kak. Jangan tegang cak nak diwawancarai KPK.”
Sepuluh menit kemudian, hidangan pusaka itu mendarat di hadapan mereka. Di atas piring keramik putih kusam, berbaring sebuah Pempek Kapal Selam berukuran sebesar kepalan tangan petinju. Kulit luarnya berwarna kuning keemasan berkilau, mengembang dengan gelembung-gelembung mikro yang menandakan adonan ikan tenggiri segar yang dipadatkan dengan presisi tangan terampil. Ketika Selly membelahnya dengan garpu, bagian perut pempek merekah, memamerkan sebutir telur bebek oranye pekat yang lumer lembut di bagian tepi namun padat di tengah.
Namun perhatian Fathan teralihkan oleh sebuah mangkok gerabah tanah liat hitam berdiameter delapan sentimeter yang diletakkan tepat di sisi kanannya. Cairan di dalamnya berwarna hitam legam mengilat, memantulkan bayangan lampu neon kedai yang mulai menyala. Permukaannya tampak tenang, menyebarkan uap tipis beraroma karamel terbakar, bawang putih sangrai, dan sengatan asam buah yang tajam.
Di benak Fathan yang terlatih dalam jamuan makan malam ala Prancis di Le Quartier, mangkok keramik mungil di sisi kanan hidangan pembuka selalu berarti satu hal: amuse-bouche herbal atau consommé pekat penstimulasi indra pengecap.
“Ah, hidangan pembuka aromatik. Penyajiannya sangat minimalis dan otentik,” gumam Fathan dengan anggun. Ia mengangkat mangkuk gerabah itu dengan dua jari bersarung kemeja linen, mendekatkannya ke hidung, lalu tanpa ragu sedikit pun... menenggaknya sekaligus seteguk penuh!
“WAK DUARRR! KAK FATHAN JANGAN—!!” jerit Selly histeris, tapi gerak refleks Fathan lebih cepat daripada hukum gravitasi.
Cairan hitam itu meluncur mulus ke dinding tenggorokan Fathan. Dan seketika, neraka rempah meletus tanpa ampun.
Gula batok Lubuklinggau yang pekat hanya memberi ilusi manis selama setengah detik sebelum puluhan biji cabai rawit burung hijau yang ditumbuk bersama bawang putih kating melabrak ujung saraf lidahnya seperti rentetan mortir. Asam jawa tua yang mengendap di dasar mangkok mengikat asam lambungnya dalam cengkeraman pedas yang membakar naik ke pangkal hidung, menembus sinus, dan meledak tepat di belakang bola matanya!
Mata Fathan seketika membelalak selebar piring cangkir. Pembuluh darah di pelipisnya mencuat ungu kebiruan. Wajahnya yang semula pucat aristokrat mendadak berubah warna dari merah tomat menjadi ungu terung dalam hitungan tiga detik. Ia terlonjak berdiri dari bangku kayu hingga kursi itu terjungkal ke belakang.