
Tradisi Nyeruit dan Sumpah Daun Singkong di Pesisir Teluk
"Kisah benturan dua dunia di tepian Selat Sunda: antara dinginnya protokol sendok perak aristokrat Menteng dan ledakan kehangatan tradisi Nyeruit ikan baung beraroma mangga kuweni yang meruntuhkan segala kepalsuan."
"Nyeruit itu bukan sekadar makan kenyang. Nyeruit adalah janji bahwa tak ada yang boleh kelaparan selagi kita masih duduk melingkar bersama." — Dian Paramita, Duta Pariwisata & Penari Bedana Lampung
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
# Tradisi Nyeruit dan Sumpah Daun Singkong di Pesisir Teluk
Wilayah: Bandar Lampung, Lampung (Sumatera)
🍜 🍲🍧
Kabut tipis beraroma garam dan serpihan jelaga arang masih mengapung rendah di atas permukaan Teluk Lampung ketika fajar merobek cakrawala timur. Dari tubir Bukit Teropong Kota, daratan pesisir terhampar serupa lukisan cat minyak yang belum sepenuhnya mengering: dermaga kapal Panjang yang berkedip suram dalam siluet tembaga, gugusan pulau karang yang bergeming bagai raksasa purba tertidur, dan di kejauhan tak kasat mata—terbungkus kabut tebal Selat Sunda—bayang-bayang angker Gunung Anak Krakatau berdenyut pelan dalam mitologi letusan yang tak pernah benar-benar mati dari ingatan orang pesisir.
Fathan berdiri mematung di bibir tebing kayu, merapatkan mantel wol tipis buatan Milan yang sama sekali salah kostum untuk udara tropis Sumatera yang lembap menusuk pori-pori. Tangannya menggenggam erat saku celana, tempat ia biasa menyelipkan kotak kecil beludru berisi sendok perak Prancis warisan kakeknya—sebuah benda kecil dari masa kanak-kanak yang dingin di Menteng, di mana keintiman keluarga ditakar lewat ketepatan sudut garpu dan keheningan ruang makan bergaya kolonial. Bagi Fathan, logam perak itu adalah perisai; selama ada sebilah logam antara mulutnya dan dunia luar, ia merasa aman dari jamahan apa pun yang kotor, semrawut, atau terlalu manusiawi.
"Nyeruput kopi kotok pagi-pagi sambil ngelamun gitu bisa bikin pikiran kesambet roh laut Teluk Betung, geh," sebuah suara lembut, renyah namun berwibawa, memecah desau angin bukit.
Fathan menoleh cepat. Dian Paramita berdiri bersandar pada pilar kayu saung. Gadis itu mengenakan blus putih berpotongan sederhana yang dipadukan dengan selempang kain tapis bermotif pucuk rebung keemasan. Sorot matanya cokelat gelap, tajam namun menyimpan keteduhan yang ganjil—tatapan seorang penari yang sanggup menembus dinding pertahanan lawan bicara tanpa perlu meninggikan suara. Rambutnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang menari ditiup angin laut berbau kuweni liar.
"Saya sedang mengamati bentang topografi," Fathan berdalih kaku, membetulkan letak kacamata berbingkai titaniumnya. "Teluk ini... tampak misterius. Terlalu sunyi untuk sebuah pintu gerbang pulau sebesar Sumatera."
Dian tersenyum tipis. Lesung pipinya terbit sejenak, mengikis aura mistis yang sempat menggantung. "Di Lampung ini, Bang Fathan, laut nggak pernah benar-benar sunyi. Laut itu nyimpan cerita orang-orang yang nyeberang dan nggak pernah kembali. Tapi sudahlah, jangan pasang muka tegang kayak mau sidang skripsi begitu geh. Perut abang itu udah kedengaran keroncongan sampai ke Tanjung Karang. Ayo turun, Nek Halimah sudah nyalain tungku sabut kelapa di rumah panggung pesisir. Hari ini, abang harus ngelepas jas mahal itu kalau mau selamat dari ritual makan siang kita."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Rumah panggung kayu ulin bertiang kokoh itu berdiri menjorok ke perairan dangkal dekat Teluk Betung, dikepung aroma asin tiram, lumpur bakau basah, dan asap pembakaran sabut kelapa yang mengepul gurih ke udara. Di atas lantai tikar pandan yang terbentang bersih, sebuah panggung kuliner kolosal telah disiapkan tanpa ada satu pun meja berkaki atau piring keramik porselen. Hanya ada bentangan daun pisang batu lebar yang telah dilayukan di atas bara, hijau mengkilap diusap minyak kelapa murni.
Di tengah daun pisang itu, tergeletak seekor ikan baung raksasa berbobot hampir dua kilogram—hasil pancingan liar dari lekukan arus Way Sekampung. Dagingnya yang tebal putih susu telah dibakar keemasan dengan arang sabut kelapa, memancarkan aroma gurih manis yang khas sungai tropis. Di sebelahnya, bertengger mangkuk tanah liat berisi sambal terasi mentah yang diulek kasar bersama cabai rawit burung merah menyala, asam wangi tempoyak durian pedalaman, dan cacahan segar buah mangga kuweni matang pohon yang baunya meledak tajam memenuhi ruangan. Tak jauh dari sana, aroma santan gurih dari semangkuk Gulai Taboh kental yang direbus perlahan bersama rebung manis dan belimbing wuluh mengepulkan uap hangat yang sanggup meruntuhkan iman orang berpuasa.
Fathan menelan ludah dengan susah payah. Namun ketika ia melihat tidak ada sendok, tidak ada garpu, dan tidak ada piring pembatas antarporsi, kepalanya seketika berputar diserang vertigo etiket.
"Dian... mana piring pembagiannya?" bisik Fathan cemas, melirik berkeliling. "Dan... maaf, apakah ada sendok perak atau setidaknya sendok bebek plastik? Kita tidak mungkin makan makanan berlemak dan bersaus asam begini langsung dengan tangan telanjang di atas daun yang sama, kan? Bagaimana dengan higienitas silang?"
Nek Halimah yang sedang menuangkan air kendi tanah liat tergelak renyah, sementara Dian menepuk dahinya pelan dengan ekspresi geli yang tak tertahankan.
"Ya ampun, Bang Fathan! Ini namanya Nyeruit, tradisi makan besarnya orang Lampung!" seru Dian sambil berkacak pinggang gemas, logat pesisirnya makin kental keluar. "Nyeruit itu makannya melingkar bareng-bareng di atas daun pisang, nyampur sambal, nasi, ikan, tempoyak, sama kuah taboh pakai jari sendiri! Mak ngedok sendok-sendokan di sini, geh! Sendok perak abang simpen dulu di dompet, jangan bikin baung Way Sekampung ini tersinggung!"
"Tapi jariku—"
"Cuci tangan di kobokan kembang kantil itu, lalu duduk sila!" perintah Dian dengan nada lembut yang tak terbantahkan, memancarkan wibawa putri bangsawan Pepadun.
Fathan menuruti dengan canggung luar biasa. Kakinya yang panjang melipat kaku di atas tikar pandan. Ketika Dian mulai mencabik daging ikan baung yang berasap, membaurkannya dengan segenggam sambal terasi tempoyak kuweni dan sejumput daun singkong rebus di depan matanya, Fathan merasa sedang menyaksikan upacara alkimia purba. Bau kuweni yang manis-menyengat berpadu dengan asam fermentasi durian tempoyak menyerang indra penciumannya dengan kebiadaban yang menggoda.
Dengan ragu-ragu, Fathan mencelupkan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya ke gundukan nasi panas. Minyak sambal kuweni yang merah oranye langsung melumuri kulitnya yang pucat. Rasa panas cabai rawit mulai meresap ke kutikula kukunya. Tiba-tiba, rasa gatal tak tertahankan hinggap di pelipis kirinya, merambat cepat ke kelopak mata.