Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Rabeg Para Sultan Banten

Serang: Rabeg Para Sultan Banten dan Ujian Mental Santri Kalong. "Sebuah kisah tentang keangkuhan yang ditaklukkan oleh kepasrahan, aroma pala Banten, dan jejak ziarah doa seorang ibu yang menembus waktu." "Makan itu ibadah jika dimulai dengan bismillah dan ditutup dengan syukur. Kelezatan rabeg ini adalah sedekah bumi yang diberkahi para wali." — Ustadzah Nabila Fauziyah, Serambi Pesantren Ar Rimbai

Ketika sang pewaris konglomerasi Jakarta bersua dengan Ustadzah Nabila di serambi pesantren Banten Lama. Di balik komedi sarung sutra Italia yang melorot dan koreksi tajwid oleh santri cilik 7 tahun, aroma biji pala Banten dan kuah rabeg kuali tembaga menuntunnya pada rahasia air mata sang bunda yang lama terkubur.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


## Adegan I: Menara Banten Lama dan Gemuruh di Balik Siluet Putih

Langkah Pertama di Tanah Para Jawara dan Wali. **Waktu & Latar**: Menjelang Ashar, Pukul 15.15 WIB | Kompleks Masjid Agung Banten Lama & Karangantu, Serang

**Tema & Simbolisme**: Menara heksagonal putih Banten Lama melambangkan keteguhan iman yang tegak menantang abrasi waktu, kontras dengan jam tangan platinum Fathan yang hanya menghitung detik-detik laba.

🍜 🍲 🍧

Lembayung pesisir utara Banten belum sepenuhnya turun, namun angin masin dari arah Pelabuhan Karangantu telah bertiup kencang menyapu pelataran bata merah Masjid Agung Banten Lama. Di sanalah Fathan Al-Ghazi berdiri mematung. Matanya menengadah menatap Menara Tike—menara heksagonal putih gading setinggi dua puluh empat meter yang menyerupai mercusuar pelaut Eropa sekaligus pagoda bertingkat tanah seberang. Sebuah monumen bisu yang dibangun dengan darah ketabahan arsitek Cek-ban-cut pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, tempat di mana gema azan dan dentum meriam pertahanan pernah beradu di bawah langit Selat Sunda.

Fathan meremas jemarinya di dalam saku celana. Di pergelangan kirinya, arloji Rolex Oyster Perpetual platinum berdetik dingin tanpa jiwa. Selama tiga puluh tahun hidupnya di lantai lima puluh pencakar langit Mega Kuningan Jakarta, waktu baginya hanyalah kalkulasi deviden, valuasi akuisisi, dan senyum kepalsuan antar-pemegang saham. Namun, sore ini, berdiri di atas tanah tempat para sultan dan syuhada Banten disemayamkan, dada Fathan dihantam sesak yang ganjil. Bau tanah basah berpadu aroma kamboja tua dan asin lumpur pesisir merembes ke pori-porinya, membangkitkan bayangan masa kanak-kanak yang sengaja ia kubur rapat-rapat.

Ia teringat malam gulita dua belas tahun silam. Malam ketika ibunya, Maryam, mengembuskan napas terakhir di ranjang rumah sakit yang dingin dan steril. Ayahnya—sang konglomerat baja yang dijuluki 'Tangan Besi'—bahkan tidak melepaskan ponsel satelitnya saat monitor detak jantung ibunya berbunyi garis lurus mendatar. Bagi sang ayah, kematian adalah kerugian waktu operasional. 'Jangan menangis seperti orang kalah, Fathan. Tangisan tidak mencairkan cek bank,' begitu suara dingin ayahnya mendengung di kepalanya seperti kutukan. Sejak malam itu, Fathan mengunci hatinya dengan brankas baja. Ia berkelana dari satu restoran bintang lima di Paris hingga Tokyo, mengunyah kelezatan duniawi hanya untuk membuktikan bahwa ia tidak butuh siapa pun. Tapi mengapa, begitu kakinya menjejak Serang, lambung dan jiwanya justru mendambakan sesuatu yang tak kasat mata?

"Angin pesisir Banten itu pandai membaca niat orang, Kang Fathan. Kalau hatinya datang membawa angkuh, menara itu hanya terlihat seperti tumpukan kapur mati. Tapi kalau datang mencari cermin diri, batu-bata purba ini bisa menangis."

Sebuah suara memotong lamunannya. Suara yang jernih, tenang, dan berwibawa—seperti tetesan air wudhu pertama di sepertiga malam. Fathan menoleh cepat. Di dekat gerbang gapura berundak, seorang wanita muda melangkah mendekat dengan langkah anggun yang terjaga. Ia mengenakan gamis bersahaja berwarna hijau zaitun lembut, khimar syar'i menutupi dada dengan sematan bros perak antik bermotif sulur Kesultanan Banten. Tidak ada riasan berlebih di wajahnya, namun sepasang matanya memancarkan kedalaman intelektual dan keteduhan iman yang seketika membuat lidah Fathan kelu. Dialah Ustadzah Nabila Fauziyah—putri kiai terpandang, magister lulusan luar negeri, sekaligus pembina gerakan UMKM pangan Ar Rimbai yang tersohor.

"Ustadzah Nabila?" Fathan berdeham, berusaha mengembalikan wibawa eksekutif ibu kotanya yang mendadak tercekat di tenggorokan.

"Panggil Nabila saja, Kang. Kula bukan pejabat pemda yang butuh protokoler kaku," jawab Nabila dengan senyum tipis yang berjarak namun hangat. Sorot matanya melirik sekilas ke arah koper kulit mewah dan setelan linen mahal Fathan. "Selamat datang di Serang. Tanah tempat jawara merunduk di hadapan ulama. Saya dengar dari perwakilan dinas, sampeyan rela menyeberang pulau demi sepiring Rabeg peninggalan Sultan?"

"Bukan sekadar mencicipi, Nabila. Saya ingin membeli hak waralaba resep otentiknya untuk jaringan fine dining saya di Jakarta dan Singapura," ujar Fathan mantap, kembali mengenakan topeng pebisnisnya. "Uang bukan masalah bagi saya."

Nabila tidak tertawa, tetapi ujung bibirnya terangkat penuh makna filosofis. "Di Banten, Kang, ada hal-hal yang tidak punya label harga. Rabeg para sultan bukan sekadar daging yang direbus kecap. Ia adalah nazar, sedekah, dan keberkahan doa para wali. Kalau sampeyan hanya membawa dompet tebal tapi hati kosong, lidah sampeyan hanya akan mengecap minyak dan gosongnya kayu manis. Sore ini, sebelum mencicipi kuali Ar Rimbai, sampeyan harus melewati satu pintu dulu."

"Pintu apa? Ujian kelayakan bisnis?"

Nabila menggeleng lembut. Matanya melirik ke langit yang mulai menguning kemerahan. "Ujian mental. Sampeyan harus menjadi santri kalong di pesantren keluarga kami sebelum matahari tenggelam. Aje kendo, Kang Fathan. Di sini, sarung lebih berharga daripada dasi sutra."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


## Adegan II: Ujian Tajwid Santri Cilik dan Tragedi Sarung Sutra Italia

Ketika Keangkuhan Konglomerat Tumbang di Serambi Pesantren. **Waktu & Latar**: Ba'da Ashar, Pukul 16.20 WIB | Serambi Terakota Pesantren Modern Ar Rimbai, Serang

**Tema & Simbolisme**: Sarung sutra Italia yang licin mencerminkan kedok kepalsuan Fathan yang mudah tergelincir, sedangkan lantai terakota pesantren adalah tanah kerendahan hati yang menuntut kejujuran telanjang.

🍜 🍲 🍧

Setengah jam kemudian, di serambi depan Pesantren Ar Rimbai yang beralaskan ubin terakota terawat, pemandangan paling janggal abad ini resmi tersaji. Fathan Al-Ghazi, sarjana ekonomi lulusan London School of Economics yang biasa berhadapan dengan menteri keuangan, kini duduk bersila kaku seperti patung lilin museum.

Masalah pertamanya adalah pakaian. Demi mematuhi syarat 'menyamar jadi santri', Fathan menolak sarung katun Mangga atau Wadimor murah yang disodorkan pengurus pondok. Dengan pongah ia mengeluarkan sarung koleksi pribadinya dari koper: sarung tenun sutra murni buatan perajin Como, Italia, bermotif damask emas seharga belasan juta rupiah. Sarung itu memang luar biasa indah dan berkilau bak air raksa, tetapi ada satu cacat fatal yang tak terpikirkan oleh otak ekonominya: bahannya teramat sangat licin! Setiap kali Fathan mencoba melipat dan menggulung pinggangnya, kain sutra itu merayap turun perlahan bagai belut sawah Kasemen yang dilumuri pelumas mesin.

"Kang, aje kendo gulungane! Niku sarung tah slebor traktor? Licin temen koyo iwak gabus!" seru seorang bocah berusia tujuh tahun yang duduk persis di hadapannya.

Nama bocah itu Kang Ilham. Badannya gempal, peci hitamnya miring menutupi separuh alis kiri, dan di pangkuannya terbuka kitab Juz Amma bersampul hijau lusuh. Di sekeliling serambi, puluhan pasang mata santri cilik lainnya memandang Fathan dengan tatapan geli bercampur takjub, seolah sedang menonton pertunjukan badut pasar malam berparas tampan.

Ustadzah Nabila duduk di sudut serambi beralaskan tikar pandan, menyandarkan buku catatan sambil mengawasi dengan wibawa dingin seorang mudabbirah. "Silakan, Kang Fathan. Syarat pertama sebelum sampeyan berhak melangkah ke dapur rabeg: simak hafalan Ilham, lalu baca balik Surah Al-Quraisy dengan tajwid yang lurus. Di pesantren ini, siapa yang tidak bisa membaca kalam Ilahi dengan tartil, tidak berhak menyentuh rezeki berkah para sultan."

Fathan menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan kerah baju kokonya. Membaca laporan audit keuangan setebal lima ratus halaman dalam bahasa Inggris adalah makan siangnya. Namun membaca huruf Arab gundul dengan hukum tajwid? Terakhir kali ia memegang Al-Qur'an adalah ketika kelas empat SD, sebelum ibunya jatuh sakit dan ayahnya memecat guru mengaji privatnya karena dianggap 'tidak menambah produktivitas akademis'.

Ilham melantunkan ayat demi ayat Surah Al-Quraisy dengan suara cempreng namun tartil sempurna, dengung makhraj huruf 'Ain dan Ha'-nya keluar dari tenggorokan dengan sangat fasih. Begitu selesai, bocah itu menatap Fathan dengan senyum menantang. "Monggo, Kang Santri Anyar. Giliran sampeyan. Awas lho, nek salah tak ketok nganggo mistar kayu!"

Fathan menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba membusungkan dada, memanggil kembali sisa-sisa ingatan masa kecilnya. "Bismillahir-rahmanir-rahim... Li-iilafi quraaisyy..."

Lihat selengkapnya