Fathan Ar-Rimbai harus transit di Jakarta tanpa boleh terendus intel suruhan ayahnya yang mengepung seantero ibu kota. Bersama Bianca Maharani—produser media sarkas yang memegang seluruh aib masa kecilnya—sang pewaris tahta konglomerat ini harus belajar meraba kenyataan hidup di balik kepulan arang kerak telor bebek, aroma gurih susu Soto Betawi, dan heningnya perdamaian antara Istiqlal dan Katedral.
Kerak Telor Lapangan Banteng dan Penyamaran Sang Sultan Buronan. Kutipan Ikonik: "Jakarta itu keras buat mereka yang cuma cari pamer, tapi hangat buat mereka yang mau duduk melingkari bara kerak telor."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
=== Bagian I: Gerbong KRL dan Sengatan Realitas Metropolitan ===
Lokasi: KRL Lin Bogor Menuju Stasiun Juanda, Jakarta Pusat
🍜 🍲 🍧
Baja gerbong Kereta Rel Listrik Lin Bogor berderit parau tatkala rem magnetik mencekeram rel di bantalan jembatan layang Cikini. Di dalam kompartemen ketiga yang padat tak berjarak, Fathan Al-Ghazi terhimpit di antara bahu basah seorang kurir paket bermotor dan ransel kanvas seorang mahasiswi yang terus-menerus mendesak rusuk kirinya.
Seumur hidupnya selama dua puluh enam tahun, Fathan tidak pernah tahu bahwa aroma manusia kota bisa begitu telanjang dan jujur. Tidak ada jejak wangi oud berharga jutaan rupiah per ons seperti yang biasa dihirupnya di ruang kerja marmer ayahnya di kawasan elit Menteng. Yang mengisi rongga dadanya kini adalah aroma kain basah tersiram gerimis petang, minyak angin aromaterapi dari leher bapak pensiunan di hadapannya, dan uap kopi saset yang terperangkap dalam sengatan pendingin udara yang bekerja kepayahan.
Topi pelukis—sebuah baret wol murah berwarna zaitun belel yang dibelinya di lapak loak Pasar Senen—tertarik turun hingga nyaris menyentuh bingkai kacamata bundar berengsel longgar yang dipakainya. Menyamar sebagai juru gambar jalanan adalah ide paling absurd yang pernah ia eksekusi, namun kota kelahirannya ini sekarang bukan lagi rumah ramah; Jakarta telah bermutasi menjadi labirin perburuan di mana wajahnya terpampang di ponsel ratusan petugas keamanan pribadi Konsorsium Ar Rimbai.
Ponsel flip jadul tanpa koneksi internet di saku jaketnya bergetar tiga kali. Satu pesan singkat masuk dari nomor berkode enkripsi khusus: 'Juanda. Pintu barat arah Masjid Istiqlal. Lu telat lima menit, gue tinggal makan soto sendirian, Tuan Muda.'
Fathan menghela napas tipis, merasakan degup jantungnya berdentam ganjil di balik tulang rusuk. Nama sang pengirim pesan adalah Bianca Maharani. Satu-satunya orang di kota metropolitan seluas tujuh ratus kilometer persegi ini yang tahu persis bahwa pewaris imperium properti dan media nasional itu kini hanya bernilai selembar tiket harian KRL seharga lima ribu perak.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
=== Bagian II: Kacamata Retak dan Histeria di Hadapan Anglo Arang ===
Lokasi: Pelataran Kaki Lima Sisi Timur Lapangan Banteng, Menghadap Monas
🍜 🍲 🍧
"Astaga naga, Fathan! Lu mau nyamar jadi seniman Pasar Seni Ancol angkatan delapan puluh apa kakek-kakek rabun ayam yang kabur dari panti wreda?" Suara Bianca Maharani menyengat telinga Fathan bahkan sebelum punggungnya sempat berbalik sepenuhnya di pedestrian Lapangan Banteng.
Perempuan itu berdiri bersedekap di bawah bayang-bayang pohon mahoni tua. Ia mengenakan mantel hujan tipis berwarna krem dengan potongan tegas khas pekerja televisi metropolitan, kamera Leica jadul menggantung santai di dada, dan sepasang mata elang yang memancarkan campuran rasa geli dan penghakiman tanpa ampun.
"Bisa pelanin suara lu nggak, Bi?" bisik Fathan getir sambil membetulkan letak baretnya yang miring. "Intel bokap gue disebar dari Cengkareng sampai Halim. Telinga mereka lebih peka dari anjing pelacak bea cukai."
"Ya elah, bapak lu nggak bakal nyangka anak semata wayangnya yang biasa minum air mineral impor dari gletser Islandia sekarang nongkrong di pinggir selokan Lapangan Banteng sambil nyium asep knalpot metromini," balas Bianca tanpa tedeng aling-aling, lalu menarik lengan jaket Fathan menuju gerobak kayu kecil beratap terpal biru. "Udah, duduk. Lu pucet kayak mayat kekurangan likuiditas. Kita makan kerak telor dulu sebelum lu pingsan kena angin malam Jakarta."
Di depan mereka, Bang Sukardi—penjual kerak telor berperawakan kurus dengan peci hitam miring—sedang mengipasi anglo tanah liat yang memuntahkan lidah bara jingga kemerahan. Begitu Fathan memesan dua porsi dengan telur bebek, pertunjukan ketangkasan khas Betawi itu dimulai.
Bang Kardi menyendokkan dua takar beras ketan putih yang telah direndam semalaman ke dalam wajan wajan cekung kecil tanpa minyak. Suara mendesis lembut terdengar saat ketan bertemu logam panas. Sebutir telur bebek berukuran jumbo dipecahkan dengan satu ketukan mantap, diikuti taburan ebi sangrai yang ditumbuk halus kemerahan, garam, sedikit gula, dan bumbu rahasia beraroma ketumbar dan merica putih.
Dengan centong kayu pipih, Bang Kardi mengaduk dan meratakan adonan ketan dan telur hingga membalut seluruh dinding wajan menjadi lingkaran tipis keemasan. Fathan mengamati setiap gerakan itu dengan mata terpaku, terpesona oleh aroma gurih asin yang tiba-tiba mengaburkan seluruh ketegangan pelariannya.
Namun, tepat saat kerak adonan itu mulai mengering, Bang Kardi melakukan gerakan akrobatik dapur yang membuat darah aristokrat Fathan tersentak copot: sang abang penjual mengangkat wajan itu, membalikkannya seratus delapan puluh derajat ke bawah, dan menelungkupkannya persis beberapa sentimeter di atas arang yang sedang membara merah menyala!
"Awas jatuh, Bang! Wajannya tumpah!" teriak Fathan histeris dengan refleks luar biasa konyol.