
### Bandung: Colenak Peuyeum Bakar dan Rayuan Manis Neng Geulis Dago
Seri: Kembara Rasa Nusantara (Babak 2B: Denyut Jantung Jawa & Sunda Kecil) - Wilayah: Bandung, Jawa Barat | Suhu: 18°C
═━═━═━═ Kembar Rasa ═━═━═━═
--- Adegan I: Riak Melati di Pelataran Kota Kembang ---
Latar: Taman Depan Gedung Sate, Kota Bandung | Suhu: 21°C
🍜 🍲 🍧
Kabut tipis sisa hujan subuh masih menggelayut malas di atas menara tusuk sate yang tersohor itu, membiaskan cahaya keemasan matahari Parahyangan yang baru saja merangkak naik dari punggung Bukit Manglayang. Udara Bandung pagi itu meresap ke dalam pori-pori seperti embun dingin yang menenangkan, berbaur dengan semerbak wangi bunga kana jingga dan rumpun melati air yang bermekaran basah di taman pelataran Gedung Sate. Namun bagi Fathan, kesejukan kota ini justru terasa ganjil di tenggorokan. Selama tiga tahun terakhir hidupnya tak ubahnya seperti buronan bayang-bayang—berpindah dari pesisir Cirebon hingga tapal batas Jawa Tengah, membawa sebuah ransel kanvas lusuh yang beratnya tak sebanding dengan timbunan rahasia di dalam benaknya.
Ia berdiri kaku di samping pilar batu andesit, meraba saku jaketnya. Di sana, sebuah buku catatan kecil bersampul kulit rusa milik almarhum ayahnya terasa membakar ujung jari. Kalimat terakhir yang ditulis tangan gemetar tujuh tahun silam itu kembali mengiang tanpa ampun: 'Carilah sulaman benang perak di Tatar Sunda sebelum musim kemarau menghanguskan segalanya.' Fathan menarik napas panjang, berusaha menepis debar kecemasan yang terus meremas lambungnya. Apakah keputusannya menyamar sebagai penulis ensiklopedia kuliner pengelana ini benar-benar aman, atau justru membimbingnya masuk ke liang perangkap?
'Aa Fathan! Ih, geuning ngalamun waé meni jero kitu siga nu teu acan sarapan saminggu!'
Sebuah suara melengking jernih dengan cengkok khas Priangan yang mendayu-dayu memecah lamunannya seketika. Dari arah gerbang samping, sesosok gadis melangkah anggun namun lincah, menuntun sebuah skuter matik Vespa tua berkelir merah muda menyala—warna merah muda pastel yang sangat mencolok hingga kontras dengan arsitektur kolonial yang angkuh di sekitarnya. Gadis itu mengenakan tunik rajut longgar berwarna gading dipadu jilbab pashmina ungu muda yang menjuntai rapi, hasil rancangannya sendiri yang tampak begitu modis namun bersahaja. Di dadanya tersemat pin mungil bertuliskan 'Ar Rimbai Parahyangan'.
Neng Salma Salsabila. Host program budaya pariwisata sekaligus perancang busana muslimah muda yang tempo hari menghubunginya lewat surel redaksi. Senyumnya mengembang lebar, memperlihatkan lesung pipit di kedua pipinya yang kemerahan alami diterpa hawa sejuk pegunungan.
'Punten pisan atuh nya Aa, abdi rada telat sakedik,' ujar Salma seraya menyeka ujung jidatnya dengan saputangan bermotif mega mendung modern. Matanya berbinar jenaka, memindai Fathan dari ujung sepatu boot kanvas hingga wajahnya yang kaku. 'Jalanan Pasteur tadi macetna ampun-ampunan, siga semut ngariung gula aren Ciwidey. Tapi tenang, Si Denok ieu bageur pisan kok, moal matak nguciwakeun!' Ia menepuk jok vespa pink-nya dengan bangga, seolah benda besi itu adalah kuda kavaleri kerajaan.
Fathan berusaha tersenyum sopan, meski nalurinya yang waspada tetap menakar setiap gerak-gerik sang mojang. 'Tak apa, Neng Salma. Saya juga baru beberapa menit tiba. Terima kasih sudah bersedia menemani riset kuliner saya hari ini.'
'Aduh, tong formal-formal teuing atuh Aa Fathan! Meni asa keur sidang skripsi di ITB waé,' Salma terkekeh renyah, tawanya seringan derai lonceng angin bambu. 'Panggil Neng Salma wéh, atanapi Neng geulis gé wios, da emang geulis ti dituna, hehe. Dinten ieu, Salma bade ngajak Aa ngarasakeun kumaha carana urang Sunda ngarawat haté ku cara dahar anu ngeunah. Siap meluncur ka Dago Atas?'
Fathan mengangguk pelan, tanpa menyadari bahwa aroma melati dan vanila yang menguar lembut dari kain jilbab Salma membawa jejak misteri yang jauh lebih pekat daripada kabut yang menutupi lembah Bandung.
═━═━═━═ Kembar Rasa ═━═━═━═
--- Adegan II: Tragedi Tanjakan Curam dan Atlet Dadakan ---
Latar: Tanjakan Terjal Dago Atas menuju Ciburial | Suhu: 19°C
🍜 🍲 🍧
Perjalanan menembus denyut kota Bandung mulanya berlangsung menawan. Udara semakin dingin tatkala jalanan mulai menanjak melewati deretan kafe berarsitektur kaca, rimbun pohon pinus tua, dan rumah-rumah peninggalan era Hindia Belanda yang anggun di sepanjang kawasan Dago. Namun romantisme itu berumur pendek. Begitu memasuki jalur curam Dago Pakar yang memiliki kemiringan nyaris tiga puluh derajat, suara mesin Vespa tua milik Salma mulai mengeluarkan bunyi batuk-batuk parau yang mencemaskan.
'Neng, yakin vespanya kuat nanjak?' Fathan yang duduk di jok belakang mulai merasakan getaran tak wajar di bawah kakinya. Mesin dua tak itu meraung seperti banteng tua kehabisan napas.
'Kuat atuh Aa! Si Denok ieu tos sering ka Gunung Tangkuban Parahu, komo mun saukur tanjakan Dago mah—eh, naha geuning?!'
Tepat di kelokan paling tajam dan terjal, suara mesin mendadak tersedak: 'Klotok... brum... pfffshhh.' Disusul kepulan asap putih tipis berbau bensin basi, mesin Si Denok mati total seketika. Skuter matik itu terhenti kaku, dan gravitasi bumi yang kejam langsung menarik mereka berdua meluncur mundur ke bawah!
'Aa Fathan remnya tahan, aaaaa!' jerit Salma histeris sambil memegang erat setang motor.