
Tahu Gimbal Udang dan Kejaran Teror Kawanan Unggas Kota Lama. Di antara hembusan angin payau Laut Jawa dan bayang-bayang pilar kolonial Gereja Blenduk, aroma gurih rebung muda dan petis udang memicu huru-hara komedi tak terduga—menyingkap trauma kesepian seorang pemuda Jakarta dan keteguhan hati seorang pendekar putri Solo-Semarang.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
#### Bagian I: Kubah Blenduk, Rebung Hangat, dan Bayang-Bayang yang Mengintai
🍜 🍲🍧
Matahari petang Semarang menggantung malas di atas kubah tembaga Gereja Blenduk yang menghijau dimakan lumut zaman. Udara pesisir utara berhembus gerah, membawa serta aroma asin air laut bercampur uap selokan tua berlumut dan desau angin yang mengelus fasad bata merah gedung-gedung neo-klasik abad ke-18. Di sudut Taman Srigunting, burung-burung gereja melompat cemas di sela akar pohon beringin tua, seolah ikut merasakan detak jantung seorang pria Jakarta yang langkah kakinya teramat tergesa.
Fathan Al-Ghazali merapatkan jaket kanvas lusuhnya ke dada. Di tangan kanannya, ia mencengkeram erat sebuah kantong kertas cokelat berminyak yang masih mengepulkan uap hangat. Dari pori-pori kertas itu, merebak aroma yang sanggup meruntuhkan pertahanan iman seorang musafir: perpaduan antara rebung bambu muda pilihan yang difermentasi sempurna tanpa setitik pun bau pesing, tumisan udang windu tambak pesisir yang manis gurih, orak-arik telur kampung, dan balutan kulit tipis lembut basah yang diolesi saus kental cokelat berpati aren wangi bawang putih kating.
"Mas Fathan mlampah niku ampun kados tiyang dipunoyak deb collector cicilan KPR to..."
Suara itu mengalun begitu tenang, bagai gesekan dawai siter di pendopo keraton yang sejuk. Sekar Ayu Prameswari melangkah setengah langkah di sampingnya. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu tampak anggun luar biasa dalam balutan atasan lurik gelap berpadu selendang batik motif Truntum yang tersampir bersahaja di pundaknya. Langkah kakinya seringan kapas, menyentuh konblok tua Kota Lama nyaris tanpa desah suara, khas seorang pendekar pencak silat aliran tenaga jiwa pesisiran yang telah khatam olah gerak sejak usia belia.
Fathan menoleh cepat, peluh sebesar biji jagung mengilap di dahinya. "Sekar, lo nggak ngerti. Di Jakarta, kalau lo bawa makanan legendaris panas-panas begini sambil jalan melenggang santai, taruhannya dua: disamber kancil kantoran atau direbut anak magang yang kelaparan lembur. Lagian, aroma rebung udang ini menusuk hidung banget! Gue ngerasa dari tadi ada mata-mata yang ngikutin hawa gurih ini dari ujung Jembatan Berok!"
Sekar tersenyum tipis—senyuman tertahan yang hanya memperlihatkan lekuk lesung pipi kanannya yang samar. Matanya yang jernih memindai lorong di balik pilar-pilar gundul Gedung Marba. "Mripat ingkang pundi, Mas? Paling-paling namung angin pesisir. Semarang menika kutha ingkang tentrem... saupami sampeyan mboten damel ribut piyambak."
"Tentrem dengkulmu ambyar," gumam Fathan dalam hati, walau di mulut ia hanya membalas dengan dengusan pasrah.
Di kedalaman batin Fathan, sebuah riak kegelisahan menolak surut. Menginjakkan kaki di tanah Jawa Tengah selalu memantik luka lama yang ia timbun rapat-rapat di balik humor sarkastisnya. Dahulu, sepuluh tahun lalu di tanah rantau yang bising, Fathan selalu dituntut untuk menjadi yang terdepan—berlari tanpa boleh menoleh ke belakang, membuktikan diri di depan keluarga besarnya bahwa ia bukan sekadar pemimpi yang gagal. Ia selalu berlari sendirian. Baginya, berjalan santai seperti yang diajarkan Sekar adalah kemewahan yang menakutkan; seolah jika ia berhenti sejenak, kegagalan masa lalu akan menyergap dan menelannya bulat-bulat.
Namun, di samping Sekar, ritme dunia terasa berbeda. Ketenangan gadis itu adalah paradoks yang memikat: di satu sisi menentramkan, namun di sisi lain membuatnya merasa begitu telanjang dan tak berdaya.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
#### Bagian II: Operasi Sergap Sayap Putih di Balik Gedung Marba
🍜 🍲 🍧
Mereka berbelok memasuki sebuah lorong sempit beraspal batu di belakang Gedung Spiegel. Dinding bata merah yang terkelupas cat putihnya menjulang tinggi, memerangkap bayangan senja yang mulai temaram. Tepat saat Fathan hendak menarik napas lega dan berniat mencicipi satu gigitan lumpia basahnya, sebuah suara parau membelah kesunyian gang.
*“HHOOONNNKKK!”*
Fathan membeku. Bulu kuduk di tengkuknya meremang.
Dari balik gerobak rongsokan antik di ujung gang, muncul kepala bermahkota jengger jingga kemerahan. Paruhnya lebar, menganga dengan deretan gerigi halus mengerikan. Menyusul di belakangnya, satu, tiga, lima, hingga tujuh ekor soang putih raksasa berleher jenjang melangkah serentak ke arah mereka. Sayap-sayap mereka membentang lebar bagai perisai perang infanteri Romawi, mengibas udara dengan deru ancaman yang tak terbantahkan.
Mata angsa-angsa itu terpaku lurus pada satu objek: kantong cokelat berminyak di genggaman Fathan.
"Sekar..." bisik Fathan getir, suaranya naik dua oktaf. "Itu burung pelican mutan atau apa?"
"Niku soang peteluripun Mbah Sastro, Mas," jawab Sekar santai tanpa mengubah postur tubuhnya. "Ketoke mambet ambu gurih petis kaliyan udang windu ingkang mlebet ing pori-pori rebung sampeyan."
"HHOOONK! KWEK-KWEK-KWEKKK!"