Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Gudeg Manggar Keraton

Sumbu Hening di Balik Lidah. Sebuah Fragmen Ekspedisi Ar Rimbai

Latar:Yogyakarta Hadiningrat, 2026

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


ADEGAN 01: FAJAR DI TUGU PAL PUTIH — Menemukan Sumbu Kosmologis yang Tak Kasatmata

Lokasi: Perempatan Tugu Pal Putih, Gowongan, Yogyakarta. Kandungan Budaya: Filosofi Tugu Golong Gilig & Konsep Waktu Jawa (Manunggaling Kawula Gusti). Kuliner Terkait: Aroma Embun Pagi & Kepulan Asap Wedang Jahe

Falsafah Inti: Waktu bukanlah lecutan cemeti kronologis, melainkan hela napas yang disyukuri saat sukma berlabuh pada poros Sang Pencipta.

🍜 🍲 🍧

Kabut subuh masih merayap tipis di atas aspal basah Gowongan, serupa selendang sutra kelabu yang enggan beranjak dari dada bumi Mataram. Angin dingin berhembus turun dari arah lereng Gunung Merapi—sebuah desau purba yang menyelinap menembus mantel wol tebal Fathan, menusuk belikatnya dengan ketajaman yang mengingatkan pria itu pada kegagalan demi kegagalan yang ia tinggalkan di Jakarta. Di perempatan jalan yang masih lengang dari deru knalpot, Tugu Pal Putih menjulang angkuh berselimut bias keemasan dari lampu jalan yang temaram. Puncaknya yang meruncing bersaput cat putih dan ornamen prada emas tampak seperti jarum jam raksasa yang membeku, menolak tunduk pada kalender masehi.

Fathan meremas tali ransel kulitnya dengan jemari yang kebas. Layar ponsel pintarnya yang retak di sudut kanan bawah kembali berpendar di dalam saku celana, bergetar tanpa henti mengabarkan surel-surel bernada mendesak dari Dewan Kurator Ekspedisi Ar Rimbai. Dua belas halaman draf kurasi gastronomi Nusantara yang dibawanya dari ibukota masih teronggok compang-camping di dalam map jinjingnya: penuh grafik statistik kalori yang dingin, indeks fermentasi yang steril, dan tabel taksonomi tanpa ruh. Ekspedisi Ar Rimbai—proyek ambisius bernilai miliaran rupiah yang digadang-gadang sebagai mahakarya restorasi arsip kuliner nusantara—terancam gulung tikar di bawah kepemimpinannya jika dalam empat puluh delapan jam ke depan ia gagal menemukan benang merah filosofis yang dicari oleh para dewan penasihat kebudayaan.

Jakarta telah merenggut hampir segalanya dari Fathan: jam tidur yang wajar, tunangan yang lelah menanti janji di sela kesibukan audit kuliner komersial, serta keyakinan purba bahwa sebuah hidangan dimasak untuk menyembuhkan jiwa, bukan semata memuaskan algoritma tren kuliner perkotaan. Di kota metropolitan yang buas itu, detik tidak berjalan; detik mengejar, menuntut, dan memangsa siapa saja yang terlambat melangkah. Setiap kali jam tangannya berdentang, dada Fathan berdegup layaknya genderang perang yang kehabisan tempo.

"Panjenengan sedang menatap tugu yang keliru jika mencari kebenaran yang sejati, Mas Fathan."

Sebuah suara terdengar di belakangnya—bening, rendah, dan beriak pelan bagai tetesan air yang jatuh ke atas mangkuk tembaga di serambi sunyi. Fathan menoleh tersentak. Di trotoar berlapis batu andesit itu, telah berdiri Raden Ajeng Kenanga. Perempuan keturunan darah biru Keraton itu mengenakan kebaya katun putih gading bermotif kembang setaman yang bersahaja, dipadu kain batik sogan bermotif Parang Rusak Barong dengan lilitan wiron rapi tanpa cela. Selendang lurik hitam kelabu tersampir di pundak kirinya, bergerak perlahan diayun semilir angin fajar. Kenanga tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak memuat basa-basi sosialita Jakarta, melainkan ketenangan air danau kawah yang tak terjamah badai.

"Maksud Anda, Ndoro Kenanga? Ini Tugu Yogyakarta, bukan? Poros utara dari Sumbu Filosofis yang termasyhur itu?" tanya Fathan, suaranya sedikit parau tersekat udara dingin.

Kenanga melangkah perlahan ke tepi pembatas jalan, pandangannya lurus menatap tugu setinggi lima belas meter tersebut. Bau harum samar kuncup melati dan minyak kelapa wangi menguar dari helai rambutnya yang disanggul tekuk sederhana. "Yang panjenengan pandang saat ini adalah monumen hasil renovasi Opzichter Van Der Hoop pada tahun 1889—sebuah rancangan Belanda yang mengubah bentuk tugu menjadi persegi dengan puncak runcing kerucut, demi memecah konsentrasi mistis rakyat Mataram. Namun sebelum gempa besar 1867 merobohkannya, tugu ini bernama Tugu Golong Gilig. Tiangnya berbentuk silinder bulat—gilig—dan puncaknya berupa bulatan bola utuh—golong."

Kenanga mengangkat tangan kanannya yang lentik, menunjuk ke titik imajiner di balik puncak tugu. "Bentuk bulat menyatu itu melambangkan tekad bulat manusia dalam 'Manunggaling Kawula Gusti'—peleburan antara hamba dan Sang Maha Pencipta, sekaligus persatuan antara raja dan rakyat jelatanya. Sumbu ini ditarik lurus tanpa putus: dari puncak Merapi di utara, melintasi Tugu ini, masuk ke jantung Keraton, lalu berakhir di Panggung Krapyak dan Samudra Kidul di selatan. Ini bukan garis geografi belaka, Mas. Ini adalah peta perjalanan sukma manusia dari alam rahim kelapukan menuju keabadian rohani."

Fathan terdiam, merasakan tenggorokannya tercekat. Ia melirik jam tangan Swiss di pergelangan tangan kirinya yang berdetak gelisah—menunjukkan pukul lima lewat tiga menit. Jarum detiknya berputar kaku tanpa kompromi.

Kenanga memperhatikan lirikan mata Fathan, lalu melepaskan tawa kecil yang terdengar teduh. "Orang-orang dari kota besar selalu membawa arloji mahal, namun mereka adalah kaum yang paling miskin waktu di muka bumi. Di Yogyakarta, Mas Fathan, waktu tidak dihitung dari seberapa kencang jarum baja itu berputar memburu target lembar laporan Ar Rimbai milikmu. Waktu di sini diukur dari seberapa dalam panjenengan mampu menarik napas, seberapa jernih batinmu menerima takdir yang datang, dan seberapa ikhlas panjenengan mengosongkan cangkir egomu yang telah terlalu penuh meluap dengan kesombongan angka-angka."

Kata-kata Kenanga mendarat seperti hantaman godam pada dinding pertahanan rasional Fathan. Pria itu menatap kembali tugu di hadapannya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia tidak mendengar dering surel di kepalanya. Yang terdengar hanyalah sapuan sapu lidi seorang simbok penyapu jalan di kejauhan, serta suara kokok ayam jago pertama yang menyambut fajar dari balik kampung Gowongan. Di sanalah, di titik nol kilometer utara kesadaran itu, Fathan menyadari bahwa perjalanan kurasinya bukan sekadar urusan lidah, melainkan pembongkaran total atas batinnya yang karam.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


ADEGAN 02: PETAKA DI ALUN-ALUN KIDUL — Ujian Tradisi Masangin dan Keruntuhan Ego Metropolitan

Lokasi: Alun-Alun Selatan (Alkid) Keraton Yogyakarta. Kandungan Budaya: Tradisi Masangin, Ringin Kurung Supit Urang, dan Bahaya Hati yang 'Kemrungsung' Kuliner Terkait: Wedang Ronde Pak Kardi (Mangkuk Porselen Cina, Jahe Emprit, & Kolang-Kaling)

Falsafah Inti: "Hati yang kemrungsung tak akan pernah menemukan jalan lurus, sekalipun gerbang kebenaran terbentang selebar dua beringin kembar."

🍜 🍲 🍧

Matahari beranjak naik di atas Alun-Alun Kidul, membakar pasir lembut yang terhampar luas di halaman belakang istana Sultan. Namun, di bawah naungan lebat dua pohon beringin kembar—Kyai Dewadaru dan Kyai Wijayadaru—hawa sejuk misterius bersemayam di antara sulur-sulur gantung yang menjuntai laksana janggut pertapa tua. Pagoda beringin kurung yang dipagari terali besi putih itu berdiri kukuh, menjadi gerbang tak kasatmata bagi siapa saja yang berani menguji kemurnian niatnya.

"Tradisi Masangin ini murni bias persepsi spasial," ujar Fathan seraya melipat kedua tangannya di dada. Keringat dingin membasahi kerah kemeja linennya. Di tangannya, ia masih memegang kain penutup mata berwarna hitam pekat yang baru saja disewanya dari seorang pemuda penjaja odong-odong. "Manusia memiliki kecenderungan melangkah dengan panjang kaki yang asimetris beberapa milimeter. Ketika penglihatan ditutup, otak kehilangan referensi horizon visual, sehingga secara otomatis tubuh akan membentuk lintasan spiral. Tak ada hubungannya dengan kebersihan jiwa atau hati yang bersih."

Raden Ajeng Kenanga yang duduk anggun di bangku kayu dekat gerobak wedang ronde milik Pak Kardi hanya tersenyum simpul, menyeruput kuah jahe dari sendok bebek porselennya. "Jika panjenengan begitu yakin dengan rumus biomekanika itu, Mas, buktikanlah. Berjalanlah dari garis start dekat sasana sasana Hinggil ini lurus menembus celah selebar dua puluh meter di antara kedua beringin kurung tersebut. Jangan gunakan rasa, gunakanlah hitungan logikamu yang angkuh itu."

Fathan mendengus pelan, terlecut oleh tantangan Kenanga. Dengan gerakan tegas yang dipenuhi arogansi seorang lulusan master gastronomi dan kurator terkemuka ibu kota, ia mengikatkan kain hitam itu ke wajahnya. Seketika, dunia benderang Alun-Alun Kidul lenyap berganti kegelapan gulita. Hanya deru detak jantungnya sendiri yang berdegup terburu-buru—bunyi kecemasan metropolitan yang dalam bahasa Jawa disebut Kenanga sebagai *kemrungsung*.

Fathan mengunci koordinat dalam kepalanya. *Seratus empat puluh langkah ke depan. Sudut nol derajat. Pertahankan ritme.*

Langkah pertama ia ayunkan mantap. Pasir halus berkerisik di bawah sol sepatu kulitnya. Di langkah kesepuluh, ia merasa dirinya bergerak sangat lurus bagai anak panah yang melesat dari busur. Namun, di langkah kedua puluh, kegelapan itu mendadak menjadi pekat dan menekan. Suara gemerisik daun beringin di telinganya terdengar berpindah-pindah arah. Fathan merasa ada tarikan gravitasi aneh di pundak kanannya. Bayang-bayang kegagalan proyek di Jakarta kembali mendesing: rapat dewan direksi Ar Rimbai yang mencemooh catatannya, tumpukan tagihan kartu kredit, cibiran para kritikus makanan yang menilainya kehilangan sentuhan rasa. Napasnya memburu. Keringat mengalir masuk ke sudut kelopak matanya di balik kain hitam.

*Aku pasti sudah berada tepat di tengah kedua beringin itu,* batin Fathan bersikeras. *Tinggal dua puluh langkah lagi.*

Ia mempercepat ayunan kakinya, setengah berlari untuk membuktikan kehebatannya.

---

PRANGGG! KELENTANG!

---

Hantaman keras menghantam tulang kering Fathan. Tubuhnya terhuyung ke depan, menabrak benda keras berbahan seng dan kayu jati. Bunyi benturan logam berpadu dengan dentang pecahnya porselen-porselen antik yang menghujam bumi. Fathan terjerembap ke atas pasir, mencium aroma pekat jahe merah mendidih, sirup pandan yang tumpah ruah, dan gula aren yang mengalir panas menyengat ujung jemari tangannya.

Dengan panik dan rasa malu yang membakar ubun-ubun, Fathan merenggut kain penutup matanya. Matanya mengerjap silau menyambut sinar surya. Betapa terkejutnya ia saat mendapati dirinya bukan berada di antara dua pohon beringin kembar, melainkan melenceng hampir tiga puluh meter ke arah barat daya alun-alun! Tubuhnya terpuruk di samping gerobak Wedang Ronde Pak Kardi yang kini miring. Di atas tanah berpasir, terhampar belasan kepingan mangkuk porselen bermotif ayam jago klasik yang remuk berkeping-keping, bersama butir-butir ronde ketan warna merah-hijau yang berserakan laksana permata yang terlantar.

Darah Fathan berdesir dingin. Otaknya yang biasa menghitung ganti rugi finansial langsung berputar kalap. "Pak... maafkan saya! Ya Tuhan, saya... saya akan ganti rugi seluruh gerobak dan mangkuk Bapak sekarang juga! Berapa puluh juta pun akan saya transfer detik ini!"

Namun Pak Kardi, seorang pria tua berusia enam puluh tahunan dengan blangkon khas Jogja yang telah memudar warnanya, justru meletakkan lap kain basah di pundaknya. Bukannya murka atau menuntut, wajah Pak Kardi justru mengembang dalam senyuman yang sangat teduh, matanya menyipit ramah memancarkan welas asih yang tak masuk akal bagi orang Jakarta seperti Fathan.

"Mboten napa-napa, Mas Bagus... mboten sah bingung kados ngoten," sahut Pak Kardi dengan suara lembut menenangkan, seraya berlutut membantu Fathan bangkit dari debu. "Ingkang remuk niki namung piring lan mangkok beling. Barang donya menika saged ditumbas malih mangke sonten. Nanging ampun ngantos manah panjenengan ingkang remuk. Menawi tiyang mlampah nggondheli ati kemrungsung, mripate dados wuta kaliyan berkahing Gusti. Beringin niku boten nate nolak sinten kemawon, namung ati panjenengan ingkang saweg mlampah miring."

Di samping gerobak, tawa renyah Kenanga pecah—suara tawa yang begitu lepas, jernih, dan tidak mengandung racun ejekan, melainkan kehangatan seorang sahabat yang melihat anak kecil baru belajar berdiri.

Fathan terpaku. Tangannya yang belepotan adonan tepung ketan dan rempah jahe menatap kepingan mangkuk itu. Sikap membela diri dan kesombongan intelektual yang ia pupuk bertahun-tahun di ruang berpendingin udara Jakarta luruh seketika, terbakar oleh kuah jahe yang wangi. Tiba-tiba saja, sebuah tawa kecil lolos dari kerongkongan Fathan sendiri. Awalnya pelan, lalu berkembang menjadi tawa terbahak-bahak yang mengguncang dadanya. Ia menertawakan kalkulasi konyolnya, menertawakan ketakutannya pada tenggat waktu, menertawakan kebodohan egonya di hadapan sepetak tanah beringin Mataram. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Fathan tertawa lepas dari lubuk jiwanya yang paling murni.

Lihat selengkapnya