Surabaya: Rawon Setan Tengah Malam dan Teror Moncong Sapi si Arek Suroboyo
Menyusuri panasnya aspal pesisir, histeria santap rujak cingur petis medok bersama Cindy Puspita, semangkuk rawon kluwek hitam penghangat jiwa pukul 01.00 dini hari, hingga pecahnya misteri masa lalu di atas Jembatan Merah. Wilayah: Surabaya, Jawa Timur. Gadis Pemandu: Cindy Puspita (Penyiar Radio Suroboyoan & Produser Lapangan Ar Rimbai Jatim)
Kutipan Ikonik: "Wong Suroboyo iku bicarane banter koyok petir, tapi atine tulus koyok segoro."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
### Adegan I: Di Bawah Belitan Hiu dan Buaya
Lokasi: Monumen Sura dan Baya, Depan Kebun Binatang Surabaya (KBS) | Waktu: 17.40 WIB — Senja tembaga berbalut uap gerimis pesisir. Nuansa & Simbolisme: Sura dan Baya sebagai metafora perang batin Fathan: insting melarikan diri (air) bertabrakan dengan beban masa lalu yang mencekeram (tanah).
🍜 🍲 🍧
Surabaya tidak pernah menyambut siapa pun dengan belaian lembut. Udara kota itu datang laksana hembusan napas tungku raksasa—gerah, sarat partikel debu pelabuhan, dan membawa sisa uap gerimis yang gagal menyejukkan aspal Jalan Setail. Di depan gerbang Kebun Binatang Surabaya, Fathan berdiri tegak namun ringkih, menengadahkan kepala memandang monumen monumental yang menjadi lambang kota: seekor ikan hiu putih bernama Sura yang melengkungkan tubuh perkasa, moncongnya menghunjam taring ke sirip buaya raksasa, Baya, yang membalas mencengkeram ekor lawannya tanpa ampun. Keduanya terpasung dalam lingkaran perkelahian purba yang beku di udara.
Bagi mata turis awam, patung itu hanyalah latar swafoto. Namun bagi Fathan, dua satwa buas itu mencerminkan isi kepalanya yang berantakan sejak tim dokumenter Ar Rimbai memintanya memimpin ekspedisi rasa menyusuri pulau Jawa. Fathan adalah lelaki tiga puluh dua tahun yang terbiasa membangun dinding tebal di sekeliling dadanya. Tiga tahun lalu di Jakarta, sebuah kegagalan liputan investigasi telah menghancurkan karier idealisnya, merenggut reputasinya, dan memaksanya menutup rapat semua ruang untuk percaya pada orang lain. Sejak hari itu, ia memilih bersembunyi di balik lensa kamera—mengamati manusia dari jarak aman yang dingin, tanpa pernah membiarkan dirinya tersentuh.
“Hei, Cak! Lapo ngelamun nang pinggir dalan koyok wong gak disangoni bojo? Kate melok patung iku gelut ta piye?”
Sebuah suara melengking renyah membelah deru knalpot angkutan kota lyn bemo. Belum sempat Fathan menoleh, sebuah Vespa Sprint matic berwarna oranye menyala mendecit di tepi trotoar, menyemburkan bau bensin dan uap knalpot tepat di depan sepatunya. Pengendaranya adalah seorang perempuan muda dengan kemeja kargo hijau lumut yang lengannya digulung asal-asalan sampai siku. Begitu helm bogo retro dilepas, terburai rambut sebahu yang dikuncir kuda acak. Kulitnya sawo matang segar khas pesisir Jawa Timur, dan sepasang mata bulatnya memancarkan binar yang sanggup meruntuhkan protokol basa-basi mana pun.
“Cindy Puspita?” tanya Fathan, sedikit meraba kartu tanda pengenal di saku kemejanya.
“Gak usah kaku koyok kanebo garing ngono ta, Cak Fathan!” tawa perempuan itu menggelegar, lepas tanpa rem, bahkan membuat seorang bapak penjual lontong balap di dekat situ ikut tersenyum. “Iyo, iki aku. Cindy, produser lapanganmu seng paling ayu sak Jawa Timur. Wes sakjam aku ngenteni awakmu nang kene. Tak kiro kesasar nang Kali Brantas, tibakne malah adu panco mripat karo patung iwak sura!”
Cindy mengulurkan tangan dengan cengkeraman mantap dan hangat. Ada aroma minyak kayu putih berpadu parfum vanila murah yang anehnya menenangkan. Fathan merasakan kejutan kecil di telapak tangannya—keterusterangan yang begitu telanjang, tipikal orang Surabaya yang tak sudi membuang waktu untuk kepura-puraan sopan santun feodal.
“Maaf, Cindy. Saya tadi... sedang memikirkan filosofi legenda ini,” Fathan berusaha terdengar intelektual, kebiasaan lamanya untuk menutupi kecanggungan sosial.
Cindy mendengus geli, melipat tangan di dada seraya menatap patung itu dengan seringai usil. “Filosofi gundulmu amblas! Wong Suroboyo iku gak kober kakean mikir filosofi nek wetenge durung wareg. Deloken raimu iku, pucet koyok mayat diculik kolongwewe. Ayo meluncur! Tak kenalno karo nyawane kutha iki sakdurunge awakmu pingsan kesurupan penunggu KBS!”
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan II: Teror Hitam Petis dan Ratapan untuk Sang Lembu
Lokasi: Warung Rujak Cingur Legendaris Genteng, Kawasan Embong Malang | Waktu: 19.30 WIB — Malam pengap beraroma bawang goreng dan kacang tanah. Nuansa & Simbolisme: Cobek batu raksasa dan petis hitam kental sebagai peleburan hierarki: semua kepura-puraan sosial hancur lumat di bawah ulekan kayu munthu.
🍜 🍲 🍧
Warung itu sempit, beratap seng tua yang bergetar setiap kali truk kontainer melintas di jalan raya, namun auranya sepadat pasar malam. Di sudut depan, seorang ibu paruh baya berdaster batik tengah memutar munthu kayu berdiameter sebesar paha manusia di atas cobek batu andesit selebar roda gerobak. Dentuman tumbukan batu—*plak-pluk-ser*—berpadu dengan letupan cabai rawit merah, petis udang Sidoarjo yang hitam mengilat pekat seperti aspal cair, kacang tanah goreng, asam jawa, dan serutan kasar pisang batu muda.
“Cak, rong porsi rujak cingur petis medok! Lombok sewelas, cingure seng akeh!” teriak Cindy dengan vokal lantang yang membuat gendang telinga Fathan berdenging. Pengunjung lain di bangku kayu panjang bahkan tidak menoleh; bagi orang Surabaya, volume bicara seperti itu adalah salam takzim standar.
Fathan duduk dengan punggung tegak, merapikan kerah kemejanya yang mulai lembap oleh keringat. “Cindy, saya hargai pilihan kulinermu. Tapi untuk liputan Ar Rimbai segmen budaya rasa, bukankah sebaiknya kita fokus pada hidangan daging sapi yang lebih konvensional? Misal sate klopo atau empal pengantin?”
Cindy menatapnya seolah Fathan baru saja mengusulkan agar mereka menari balet di tengah bundaran Waru. “Cak Fathan, rungokno yo. Nek awakmu nang Suroboyo tapi gak wani mangan rujak cingur, mending kameramu dolen nang pasar loak, terus muliyo nang Jakarta! Awakmu iki host dokumenter opo banci kamera seng wedi kecipratan bumbu?”
Sebelum Fathan sempat membela harga dirinya, dua piring porselen putih mendarat di hadapan mereka dengan bunyi *klak* yang mantap. Aromanya langsung menyerbu hidung Fathan: perpaduan fermentasi udang yang gurih tajam menusuk, aroma segar mentimun, tempe goreng hangat, kangkung rebus, dan potongan-potongan kenyal berpori tebal berwarna abu-abu kecokelatan yang berlumur saus hitam pekat.
Fathan menusuk sepotong tekstur kenyal itu dengan garpunya, mengamatinya di bawah cahaya lampu neon putih yang berkedip. “Bentar... ini potongan daging apa sebenarnya? Kenapa teksturnya berongga dan ada lapisan tulang rawan begini?”
Cindy tersenyum manis, senyum penuh muslihat yang membuat bulu kuduk Fathan meremang. “Iku dudu daging biasa, Cak. Iku cingur.”
“Iya, cingur itu bagian apanya? Paha? Sandung lamur?”
“Iku congor sapi, Tan!” sembur Cindy sambil terbahak guling-guling hingga menepuk meja tiga kali. “Bibir nduwur karo monconge sapi seng biasa ngelamun nang sawah! Seng nek ambekan muni *huff-huff*, terus nek ngunyah suket ilate melet-melet. Lha iku, saiki nangkring nang pucuk garpumu!”