“Perbedaan itu bukan pemisah, Fathan. Seperti base genep, lima belas rempah berbeda rasa disatukan api kesabaran menjadi masakan terlezat di bumi.” — Ni Made Laksmi, Duta Kreatif Ar Rimbai Bali. Denpasar: Ayam Betutu Kampung Jawa dan Fajar Damai Pantai Sanur
"Perbedaan itu bukan pemisah, Fathan. Seperti base genep, lima belas rempah berbeda rasa disatukan api kesabaran menjadi masakan terlezat di bumi."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan I: Di Bawah Belahan Candi Bentar
Gerbang Pemisah Masa Lalu dan Wangi Dupa yang Menggugat Jiwa
🍜 🍲 🍧
Bagi Fathan, Kota Denpasar tidak menyapa melalui deru klakson atau gemerlap papan reklame modern, melainkan melalui celah sempit sebuah Candi Bentar yang menjulang kokoh. Sepasang sayap gerbang batu bata merah itu terpahat begitu simetris, tegak membelah bentang langit fajar yang masih ranum. Ada kengerian ganjil yang merayap di tengkuknya setiap kali memandang gapura itu: seolah-olah siapa pun yang melangkah melaluinya akan dibelah menjadi dua manusia—sosok yang ia pamerkan kepada dunia, dan sosok rapuh yang mati-matian ia sembunyikan di balik kemeja katunnya yang lusuh.
Bau udara Denpasar adalah senyawa yang rumit. Di lapisan pertama tercium asap knalpot sepeda motor yang berkejaran, namun segera tersapu oleh aroma semerbak dupa cendana yang membakar perlahan di sudut-sudut pelinggih toko, anyaman janur canang sari yang masih basah oleh embun, serta aroma samar minyak kelapa tandusan dari dapur-dapur pagi warga. Di kota ini, yang sakral dan yang profan tidak bertengkar; mereka saling berbisik di trotoar yang sama.
Fathan meremas tali ransel kanvasnya. Di dalam tas itu tersimpan map kulit cokelat lusuh warisan almarhum ayahnya—sebuah berkas investigasi ganti rugi lahan pesisir yang sepuluh tahun lalu memicu serangan jantung sang ayah hingga meregang nyawa. Fathan melarikan diri dari Jakarta karena muak dengan intrik firma audit tempatnya bekerja, tetapi semakin jauh ia melangkah menyeberangi Selat Bali, bayang-bayang ayahnya justru kian nyata mengejar seperti riak pasang.
"Om Swastyastu... eh, afwan, Assalamu'alaikum warahmatullah, Bli Fathan!" Sebuah suara renyah dengan ayunan intonasi khas Bali membuyarkan pusaran lamunannya.
Fathan menoleh cepat. Di dekat undakan pelataran kantor perwakilan Ar Rimbai, berdiri seorang perempuan berparas teduh dengan kebaya katun putih berenda halus, dipadu kain tenun endek bernuansa indigo yang jatuh anggun hingga mata kaki. Selendang kuning kecokelatan melingkar rapi di pinggangnya yang ramping. Ni Made Laksmi. Senyum perempuan itu begitu jernih, bagai telaga pegunungan Bedugul yang belum tersentuh riak angin.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Mbok Laksmi," sahut Fathan canggung, mencoba mengatur napasnya yang mendadak terasa tercekat.
"Aduh, ampun dah, jangan panggil 'Mbok', Bli! Umur tiang ini masih kepala dua, belum setua itu sampai harus dipanggil Mbok," Laksmi tertawa kecil, memperlihatkan deretan gigi yang rapi. Matanya berbinar jenaka saat mengamati gestur Fathan dari ujung rambut ikal yang awut-awutan hingga sepatu kets yang berdebu. "Lagipula kenapa wajahmu itu tegang sekali, Bli Fathan? Matamu merah, bahumu kaku terangkat seperti orang yang sedang dikejar penagih utang banjar atau ketakutan melihat penampakan rangda di perempatan agung! Lepaskan sedikit beban di pundakmu itu, nah!"
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan II: Agem Kanan yang Patah dan Sledet Juling
Latihan Tari Baris yang Porak-Poranda di Bale Sanggar
🍜 🍲 🍧
"Sebelum lidahmu kita manjakan dengan bumbu rempah bumi Bali, ada syarat mutlak dari tetua Ar Rimbai," ujar Laksmi seraya menuntun Fathan menuju pelataran beralas batu candi di balik rimbunnya pohon kamboja berbunga merah muda.
"Syarat apa? Jangan bilang aku harus menghafal silsilah raja-raja Gelgel sebelum sarapan," gumam Fathan waspada.
"Bukan menghafal teks, Bli. Tapi melatih raga! Orang yang jiwanya terkungkung kepalsuan kota besar biasanya badannya kaku seperti kayu kelapa kering. Kalau badanmu kaku, jiwamu tidak akan sanggup menampung berkah tanah ini. Kamu harus belajar postur dasar tari Baris ksatria dulu. Sedikit saja, tidak sampai lima menit!" Laksmi melepas selopnya, berdiri di atas pelataran batu dengan tumit merapat dan ujung jemari kaki membuka keluar.
Tanpa aba-aba rumit, tubuh Laksmi bertransformasi. Tulang punggungnya tegak melenting, kedua tangannya terangkat membentuk sudut siku-siku simetris sejajar bahu—postur agem kanan yang begitu kokoh sekaligus luwes. Sorot matanya yang semula ramah mendadak tajam berkilat, lalu melirik menyudut ke kiri dan kanan dengan gerakan patah-patah yang presisi tanpa sedikit pun menggeser dagunya. Gerakan sledet yang berwibawa.
"Nah, giliranmu, Bli Fathan! Buka kaki selebar bahu, tekuk lutut sampai rendah, dada dibusungkan, lalu sledet matanya ke kanan atas! Tatap musuh batinmu!" perintah Laksmi dengan senyum menantang.
Fathan menelan ludah. Merasa gengsinya sebagai lelaki metropolitan dipertaruhkan, ia mencoba meniru postur itu. Ia membuka kakinya lebar-lebar dan menekuk lututnya dalam-dalam.