Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Ayam Taliwang Pedas

Ayam Taliwang Pedas Membara dan Bisikan Tenun Sasak. “Pedasnya Taliwang itu seperti kejujuran: perih di awal, tapi melegakan jiwa dan membuat hati menjadi bersih.” Wilayah: Mataram, Nusa Tenggara Barat (Bali-Nusa)

Kutipan Ikonik: "Pedasnya Taliwang itu seperti kejujuran: perih di awal, tapi melegakan jiwa dan membuat hati menjadi bersih."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


--- ADEGAN 1: Di Bawah Bayang Menara Sembilan Puluh Sembilan ---

Lokasi: Pelataran Islamic Center Hubbul Wathan, Mataram. Suasana: Megah, reflektif, sejuk berangin

🍜 🍲 🍧

Lantai marmer putih pelataran Islamic Center Hubbul Wathan memantulkan cahaya matahari senja yang condong ke barat bagai sebidang cermin raksasa. Dari titik tengah selasar, menara megah setinggi sembilan puluh sembilan meter itu menjulang tegak menembus langit biru kelabu, seolah menjadi jangkar yang mengikat bumi Lombok langsung ke singgasana cakrawala. Angin kencang yang bertiup dari arah Selat Lombok membawa aroma garam basah bercampur wangi bunga kamboja yang tumbuh di taman kota, mengibarkan ujung kemeja katun tipis yang dikenakan Fathan.

Pemuda itu terpaku mendongak. Di atas kepalanya, kubah utama masjid berhias motif batik Sasak bernuansa hijau toska dan emas tampak berkilauan di bawah bias sinar surya. Mataram menyambutnya bukan dengan hiruk-pikuk klakson metropolitan yang memekakkan telinga, melainkan dengan keluasan ruang yang anehnya justru membuat rongga dadanya terasa sesak. Ada sesuatu dalam kemegahan ini yang selalu berhasil memicu alarm kegelisahan di kepalanya: perasaan bahwa manusia begitu kerdil, begitu mudah tersesat, dan begitu rapuh di hadapan waktu yang terus bergulir.

"Solah gati kubahnya, kan Kak Fathan? Indah sekali bila dipandang saat senja mulai rebah begini," sebuah suara bernada renyah membuyarkan lamunannya. Suara itu berakar pada keramahan khas Sasak yang lembut namun penuh ketegasan.

Fathan menoleh. Berdiri di samping pilar batu berukir, Baiq Nurul Hidayati menyunggingkan senyum tipis. Gadis itu mengenakan kerudung pasmina berwarna terakota lembut yang serasi dengan kain sarung tenun ikat bermotif garis geometris di pinggangnya. Matanya yang jernih dan berbinar menyimpan ketenangan khas perempuan penenun—mata yang terbiasa menatap ratusan helai benang kusut tanpa pernah kehilangan kesabaran.

"Kubah itu mengingatkanku pada permadani terbang dalam dongeng seribu satu malam, Nurul," sahut Fathan seraya berusaha memasang senyum santai yang telah ia latih selama bertahun-tahun untuk menutupi rasa cemasnya. "Tapi menara setinggi itu... entah kenapa membuat kakiku sedikit gemetar. Seakan-akan kota ini menuntut setiap orang yang datang untuk menanggalkan semua kesombongan sebelum berani melangkah lebih jauh."

Nurul tertawa pelan. Tawa yang jernih bagai gemericik air kali di lembah Rinjani. "Itulah Menara Asmaul Husna, Kak. Orang luar sering mengira Lombok hanya tentang pasir pantai dan ombak selancar. Padahal di Mataram, napas pertama yang harus kau hirup adalah doa dan kerendahan hati. Di tanah ini, siapa pun yang datang dengan dada membusung biasanya akan lekas dipaksa berlutut—bisa oleh keagungan menara ini, atau oleh sepiring cabai di kedai Cakranegara nanti!"

Fathan mendengus remeh, membetulkan letak tas selempang kulitnya yang telah mengelupas di beberapa sudut. "Oh, tolonglah. Kamu sedang berbicara dengan pria yang sudah menjelajahi rempah pedas dari pesisir Aceh sampai pelosok Madura. Lidahku ini sudah kebal terhadap segala jenis sambal di kepulauan ini. Cabai Lombok tak akan mampu membuatku berlutut, Nurul. Catat kata-kataku itu."

Nurul hanya mengerlingkan matanya dengan tatapan geli yang sarat arti. Ada secercah kilatan misterius di balik bola matanya saat ia melangkah mendahului Fathan menuju gerbang keluar. "Inggih, Kak Fathan yang perkasa. Simpanlah bualan itu sampai bara arang batok kelapa dinyalakan di hadapanmu. Kita lihat, apakah lidahmu masih seberani lidah para datu Sasak!"

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


--- ADEGAN 2: Menelan Api di Kedai Cakranegara ---

Lokasi: Kedai Ayam Taliwang Tradisional, Cakranegara. Suasana: Kocak, kacau, penuh jenaka, membakar rasa

🍜 🍲 🍧

Asap pekat beraroma gurih tajam memenuhi udara di pelataran kedai makan kayu di sudut Cakranegara. Di atas perapian panjang berbahan batok kelapa tua, puluhan ekor ayam kampung muda—yang di tanah Sasak biasa dipanggil ayam plecing—terbelah dua dan dijepit bilah bambu, mendesis hebat saat kuah bumbu merah pekat disapukan berulang kali ke permukaan kulitnya yang melepuh kecokelatan. Bau terasi bakar, kencur segar, gula kelapa Sumbawa, dan puluhan kilogram cabai rawit merah menusuk hidung Fathan dengan sengatan yang nyaris membuatnya bersin.

"Dua porsi Ayam Taliwang bakar madu, Pak Guru," Nurul memesan kepada lelaki paruh baya berkain songket yang mengipasi panggangan. Lalu ia berpaling pada Fathan dengan nada menimbang-nimbang. "Untuk Kak Fathan, tingkat kepedasan sedang saja nggih? Biar perutmu tidak terkejut."

Ego maskulin Fathan seketika tersengat. Harga dirinya yang rapuh menolak diperlakukan seperti turis amatir yang manja. "Sedang? Ayolah, Nurul. Aku bukan balita yang baru belajar makan bubur. Pak, tolong buatkan yang level paling tinggi. Level super pedas lombok asli! Taburi cabai rawit ulek dua kali lipat. Jangan beri ampun!"

Pemilik kedai berhenti mengipas sebentar, menatap Fathan dari balik asap kelabu dengan pandangan iba seolah sedang memandang seorang pemuda yang sukarela melompat ke dalam kawah gunung berapi. Nurul mengangkat kedua tangannya ke udara tanda menyerah, bibirnya menyunggingkan senyum geli yang ditahan sekuat tenaga. "Jangan salahkan aku kalau nanti kamu menangis memanggil ibumu di tengah jalan raya Cakranegara, ya."

Dua puluh menit kemudian, sepiring tembikar besar mendarat di atas meja kayu jati mereka. Ayam Taliwang bakar madu itu tampak berkilauan merah menyala, berlumur saus kental yang berminyak dan menebarkan uap panas bersengat pedas. Di sampingnya, sepiring Plecing Kangkung air tersaji dengan batang-batang kangkung hijau tebal yang disuwir halus, bertabur kacang tanah goreng renyah, tauge bening, kucuran jeruk limau, dan sebongkah sambal merah terasi Lengkiti yang aromanya begitu dalam dan memabukkan.

"Lihat ini. Penampilannya sungguh mahakarya," gumam Fathan congkak. Tanpa ragu, ia menyobek paha ayam dengan jari telanjangnya, melumurinya dengan lelehan saus merah berlemak madu, lalu melahapnya dalam satu gigitan besar.

Satu detik pertama: kelezatan manis madu hutan dan aroma gurih terasi Lengkiti menyelimuti langit-langit mulutnya dengan kehangatan yang memanjakan. Fathan mengangguk puas.

Detik kedua: sesuatu yang salah mulai merayap. Bagaikan sumbu dinamit yang menyala perlahan, rasa hangat itu mendadak meledak menjadi kobaran api cair yang membakar lidah, gusi, dan kerongkongannya. Cabai rawit merah Rinjani yang ditumbuk bersama biji-bijinya tidak sekadar memberikan sensasi pedas; cabai itu terasa bagai ribuan jarum membara yang menusuk-nusuk saraf pengecapnya tanpa ampun!

Pada gigitan kedua yang dipaksakan demi gengsi, pertahanan Fathan runtuh sehancur-hancurnya. Mukanya yang semula putih bersih berubah semerah kepiting rebus yang baru diangkat dari panci mendidih. Keringat dingin sebesar butiran jagung membanjir dari pelipisnya hingga menetes ke kerah kemeja. Matanya membelalak lebar, memerah berair, sementara nafasnya tersengal-sengal pendek bagai ikan mas yang terlempar ke daratan kering.

Lihat selengkapnya