Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Se"i Sapi Asap Kosambi

Asap kosambi menjaga daging tetap awet tanpa pengawet buatan. Begitu juga cinta yang dijaga dengan ketulusan. Kupang: Se’i Sapi Asap Kosambi dan Dendang Sasando Teluk Kupang

Wilayah: Kupang, Nusa Tenggara Timur (Bali-Nusa). Gadis Pemandu: Maria Clara da Silva — Penggiat UMKM Halal & Pemain Sasando Ar Rimbai NTT

Kutipan Ikonik: "Asap kosambi menjaga daging tetap awet tanpa pengawet buatan. Begitu juga cinta yang dijaga dengan ketulusan."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan I: Savana El Tari dan Debu yang Mengingatkan Luka

Hembusan Angin Kering Flobamora & Pertemuan di Kota Kasih — Lokasi: Bandara El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur

🍜 🍲 🍧

Roda pesawat ATR-72 itu mencium landasan pacu Bandara El Tari dengan decit tajam yang mengentak dada. Ketika pintu kabin terbuka, bukan udara dingin berpendingin ruangan yang menyergap, melainkan serbuan angin savana Timor—kering, tandus, berbau batu kapur terjemur, dan membawa rasa garam yang terbakar matahari khatulistiwa. Fathan menarik napas panjang, membiarkan udara bersuhu tiga puluh empat derajat Celsius itu memanggang kerongkongannya. Ada getar ganjil di ulu hatinya; lanskap berbatu karang putih dan bentangan rumput kuning kecokelatan di balik pagar bandara ini seakan menertawakan kerapian kemeja linen abu-abunya yang kaku.

Sudah sepuluh bulan Fathan berkelana menelusuri kantong-kantong rasa di seantero Nusantara, namun luka lama dari Jakarta tak pernah benar-benar tertinggal di peron stasiun atau terminal keberangkatan. Setiap kali ia melangkah ke kota baru, ingatan retrospektif itu menyergap: suara bantingan pintu jati di rumah masa kecilnya saat sang ayah mengepak koper terakhir, suara isak tangis ibunya yang tertahan di dapur, serta aroma masakan sup buntut yang gosong di atas kompor karena tak ada lagi yang sudi merawat apinya. Baginya, kuliner awalnya adalah benteng pertahanan—sebuah upaya matematis untuk memastikan bahwa di dunia yang serba runtuh dan tak dapat diprediksi, takaran garam dan durasi perebusan selalu memberikan kepastian.

"Kaka Fathan! Kaka Fathan Ar-Rimbai, betul to?!"

Sebuah pekikan ceria membelah keriuhan lobi kedatangan El Tari. Sebelum Fathan sempat menajamkan matanya, seorang perempuan muda berkulit sawo matang terang melangkah tegap mendekat. Senyumnya begitu lebar hingga kedua matanya menyipit ramah, memancarkan kehangatan tanpa basa-basi yang sanggup mencairkan kekakuan siapa pun. Di lehernya melingkar seuntai kalung rosario berbiji kayu cendana wangi, berdampingan serasi dengan sehelai selendang tenun Buna bermotif belah ketupat warna merah jingga khas Timor Tengah Utara yang tersampir anggun di bahunya. Di tangan kirinya, terbungkus kain beludru hitam, sebuah instrumen bulat melengkung berdaun lontar kering tampak dijaga laksana anak kandung.

"Beta Maria Clara! Maria Clara da Silva. Aduh Bapa Raja, kawan satu ini muka tegang sekali macam orang su mau kena surat denda tilang polisi lalu lintas di pertigaan Oebobo e!" tawa Maria berderai lepas, renyah laksana bunyi kerupuk emping yang baru diangkat dari wajan.

Fathan tertegun sejenak, refleks merapikan kerah bajunya yang lembap oleh keringat. "Ah... Maria Clara? Maaf, saya hanya... sedikit pusing dengan turbulensi di atas Selat Sape tadi."

"Sonde apa-apa, Kaka! Di Kupang, angin memang suka ajak orang baku guncang. Tapi tenang saja, tanah Timor su siap peluk Kaka rapat-rapat. Ayo, beta su siapkan oto di luar. Perut Kaka pasti su menyanyi lagu requiem minta makan, to? Hari ini beta ajak Kaka kenal jantung kehidupan kami: Se’i Sapi Asap Kosambi di Oebelo!"

Maria melangkah gesit mendahuluinya. Dari ayunan langkahnya yang mantap dan aroma wangi cendana yang tertinggal di udara kering, Fathan merasakan sesuatu yang tak lazim: tatapan mata gadis itu sesekali menatapnya bukan sebagai turis asing, melainkan seperti mengamati seseorang yang telah lama dinanti kepulangannya. Fathan mengabaikan firasat itu, mengira itu hanyalah keramahan orang timur yang terkenal tak bersekat.

“Kaka Fathan! Selamat datang di Nusa Tenggara Timur! Aduh, kawan satu ini muka tegang macam orang su mau kena denda tilang polisi lalu lintas saja e!”

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan II: Kepulan Asap Kosambi dan Sang Pahlawan Damkar Dadakan

Kepanikan Naluri Kota Besar Melawan Kearifan Tungku Oebelo. — Lokasi: Dapur Sentra Pengasapan Daging Se’i Tradisional Oebelo

🍜 🍲 🍧

Tiga puluh menit membelah jalanan beraspal Kupang yang diapit pohon-pohon gewang dan lontar berduri, mobil berhenti di pelataran berpasir putih sebuah perkampungan asri di kawasan Oebelo. Udara di sini tidak lagi hanya berbau debu sabana, melainkan telah tersusupi wangi semerbak yang membuat kelenjar liur berontak: aroma minyak hewani yang menetes di atas bara kayu keras, berselimut bau wangi herbal manis yang agak pekat dan menenangkan.

Namun, ketenangan Fathan lenyap seketika begitu pandangannya menatap ke sudut belakang rumah panggung berdinding bebak gewang. Di sana, dari dalam sebuah gubuk terbuka beratap seng karatan, kepulan asap putih keabuan bergumpal-gumpal tebal membubung ke angkasa, menembus dahan-dahan pohon kosambi rimbun dengan kepekatan yang mencemaskan!

Naluri masa kecil Fathan seketika mengambil alih seluruh saraf motoriknya. Pikirannya melesat ke malam jahanam lima belas tahun lalu di pinggiran Klaten, ketika tungku kayu dapur neneknya menyambar tumpukan jerami kering, melalap seluruh dinding bambu, dan memaksa keluarganya lari terbirit-birit di tengah malam buta tanpa sempat menyelamatkan satu pun album foto keluarga. Bau asap pekat selalu berarti satu hal bagi Fathan: malapetaka dan kepunahan!

"Kebakaran! Ada api merembet di dapur belakang!" pekik Fathan dengan nada suara yang meninggi panik.

Matanya liar mencari alat pemadam. Di samping pohon kelapa dekat sumur timba, tergeletak sebuah ember seng berlumut yang terisi penuh air sumur dingin. Tanpa berpikir dua kali, Fathan melesat seperti pelari maraton profesional. Otot lengannya menegang mengangkat ember berbobot lima belas kilogram itu. Dengan langkah tegap heroik laksana komandan regu pemadam kebakaran kota metropolitan yang siap menerobos maut, ia menerjang asap tebal sambil mengangkat ember tinggi-tinggi di atas kepala, siap mengguyur drum seng raksasa di hadapannya!

"Tahan! Semuanya minggir! Saya padamkan apinya!" teriak Fathan gagah berani.

Lihat selengkapnya