Juhu Singkah Rotan Muda dan Bisikan Hening Sungai Kahayan. Wilayah : Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Gadis Pemandu : Bawi Intan (Pemandu Konservasi Orangutan & Relawan Ar Rimbai Kalteng). Kuliner Khas : Juhu Singkah Umbut Rotan & Ikan Baung Bakar Bambu
Kutipan Ikonik: "Rotan di hutan berduri tajam melindungi dirinya, namun di dalamnya terdapat umbut termanis. Jangan menghakimi orang dari luarnya yang keras."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan 1: Merah Saga di Atas Jembatan Kahayan
Pintu Gerbang Kota Gambut dan Riak Air Hitam Purba. Lokasi: Jembatan Kahayan, Palangkaraya | Waktu: Sore Menjelang Senja.
🍜 🍲 🍧
Angin senja di atas Jembatan Kahayan tidak pernah berhembus dengan sopan santun kota metropolitan. Ia melesat liar, membawa aroma tanah basah, pekatnya humus gambut, dan getah rawa purba yang membekap paru-paru Fathan seketika. Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu berdiri mematung di tepian trotoar jembatan, kedua tangannya mencengkeram erat pagar besi merah menyala yang melengkung perkasa di atas sungai legendaris Kalimantan Tengah.
Di bawah kakinya, Sungai Kahayan mengalir tenang, nyaris tanpa riak yang gaduh. Namun ketenangan itu menakutkan Fathan. Air sungai itu tidak berwarna cokelat seperti sungai-sungai berlumur lumpur di Jawa, melainkan hitam kemerahan pekat—serupa seduhan teh hitam kental yang dibiarkan mengendap ratusan tahun di dasar cangkir porselen kusam. Itu adalah warna asam tanin dari serasah dedaunan hutan gambut yang membusuk dalam rahim waktu.
"Kalau terus kamu tatap dengan muka tegang begitu, hantu banyu Sungai Kahayan bisa jatuh hati padamu, Fathan." Suara renyah berlogat Dayak Ngaju yang kental memecah lamunannya. Seorang perempuan muda melangkah mendekat dengan langkah seringan kijang rawa. Rambut hitam tebalnya dikepang satu, diselipkan di balik topi rimba kanvas usang. Di bahunya tersampir ransel kanvas berlogo pudar: *Yayasan Konservasi Ar Rimbai Kalteng*.
Bawi Intan. Gadis pemandu konservasi orangutan yang sejak mendarat di Bandara Tjilik Riwut tadi siang telah mengikis habis sisa-sisa wibawa kemewahan Fathan. Bagi Fathan, yang terbiasa diapit oleh pelayan pribadi dan desing pendingin udara di penthouse kawasan SCBD Jakarta, tatapan Bawi Intan terasa terlalu tembus pandang. Mata gadis Dayak itu cokelat terang, jernih, dan tidak memiliki sekat kepura-puraan.
"Gue cuma heran," sahut Fathan defensif, buru-buru menegakkan kerah jaket tahan angin bermerek mahal miliknya yang mendadak terasa sia-sia di hadapan kelembapan Borneo. "Airnya beneran hitam pekat begini? Ini nggak tercemar limbah merkuri atau sisa tambang emas ilegal, kan? Lo yakin ikan-ikan di bawah sana nggak bermutasi punya tiga mata?"
Intan mendengus geli, tawa kecilnya berderai seperti ketukan kelongsong bambu. "Itu air gambut alami, Tuan Kota. Air yang disaring lumut dan akar pohon selama ribuan tahun sebelum kakek moyangmu mengenal aspal. Pekat di permukaan, tapi murni di dalamnya. Sungai ini tidak menyimpan racun buatan manusia, ia hanya menyimpan rahasia tanah ini yang menolak dijamah orang-orang yang sombong."
Fathan terdiam. Kalimat terakhir Intan menusuk tepat ke rongga dadanya yang paling ngilu. Subteksnya terlalu tajam untuk diabaikan. Apakah Intan tahu bahwa kedatangannya ke pedalaman Kalimantan ini bukanlah plesiran turis biasa, melainkan pelarian dari kebangkrutan emosional? Bahwa ia melarikan diri dari bayang-bayang ayahnya yang dingin, yang baru saja mencoret namanya dari dewan direksi keluarga hanya karena Fathan menolak menandatangani konsesi pengeringan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit?
Pandangan Fathan kembali terpaku pada arus Kahayan. Di atas jembatan, lampu-lampu merkuri mulai menyala satu per satu, berpendar keemasan di atas permukaan air hitam. Seperti luka yang sengaja dipernis agar terlihat megah dari kejauhan.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan 2: Drama Meja Makan & Mebel Ruang Tamu
Kepanikan Sang Sultan dan Rahasia Umbut Rotan Rimba. Lokasi: Kedai Kayu Terapung di Tepi Kahayan, Pahandut | Waktu: Malam Hari
🍜 🍲 🍧
Aroma yang mengepul dari atas meja kayu ulin di pondok terapung itu sungguh menggoda indera penciuman yang kelaparan. Di hadapan Fathan tersaji semangkuk juhu berkuah kuning cerah dengan irisan-irisan batang tumbuhan berwarna putih gading bertekstur empuk, potongan terong bulat asam berwarna jingga kemerahan berbulu halus, serta sebilah bambu hijau berjelaga arang yang baru saja dibelah membujur, memperlihatkan daging ikan baung tebal yang berminyak dan menebarkan wangi serai bakar.
"Ini ikan baung bakar bambu khas lewu kami, dan ini sayurnya: Juhu Singkah," jelas Intan seraya menyodorkan sepiring nasi pulen hangat. "Kuman, Fathan. Makan dulu sebelum badanmu ambruk karena sok kuat menahan lapar sejak siang tadi."
Fathan yang memang sudah kelelahan dan kelaparan setengah mati tak kuasa menolak. Ia menyendok kuah kuning juhu tersebut, lalu mengunyah sepotong irisan putih yang kenyal berserat. Di detik pertama, lidahnya dikejutkan oleh sengatan getir yang tajam—pahit yang tegas menusuk langit-langit mulut. Fathan refleks mengernyitkan alis. Namun beberapa detik kemudian, saat kuah asam manis dari terong rimbang menyusup, rasa pahit itu bermutasi menjadi sensasi manis gurih yang menyegarkan di pangkal lidah. Rasa yang unik, liar, dan anehnya sangat adiktif.
"Hmm... teksturnya unik banget. Ini semacam rebung bambu hutan atau batang teratai?" gumam Fathan sembari mengunyah lahap suapan ketiganya.
Intan tersenyum misterius sembari menyuap nasi dengan tangan kosong. "Bukan rebung. Itu singkah. Umbut rotan muda."