Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Nasi Bekepor Raja Kutai

Nasi Bekepor Raja Kutai dan Pesona Sarung Tenun Mahakam - Samarinda, Kalimantan Timur

"Benang tenun Samarinda butuh berbulan-bulan disilangkan satu demi satu untuk membentuk motif indah. Begitulah takdir mempertemukan kita, Fathan. Jangan sampai ikam lepaskan simpulnya sebelum tenunannya selesai."

Fathan diminta menjadi model dadakan pemotretan sarung tenun Samarinda di dermaga tepian Sungai Mahakam. Karena tidak piawai mengikat sarung tanpa kait modern, sarung tenun mewahnya mendadak melorot saat angin kencang berhembus di depan puluhan lensa fotografer! Fathan panik dan refleks memasang pose teatrikal avant-garde Eropa untuk menutupi rasa malu. Nadia Kirana bergegas merengkuh dan membetulkan lipatan sarung dalam jarak yang memangkas napas, menyulut percikan romansa di tengah aroma melati dan lumpur purba Mahakam.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan I: Kubah Bayang-Bayang di Tepi Mahakam

Megahnya Islamic Center Samarinda dan Sungai Keruh yang Mengubur Rahasia. Lokasi: Pelataran Masjid Islamic Center Samarinda (Baitul Muttaqien), Teluk Lerong | Waktu: Pukul 14.30 WITA — Langit lembap berangsur tembaga

🍜 🍲 🍧

Sungai Mahakam mengalir bukan sekadar sebagai bentangan air tawar raksasa, melainkan sebagai seekor naga lumpur purba yang menelan segala rahasia pulau ini ke dalam rongga perutnya yang cokelat pekat. Dari pelataran marmer dingin Masjid Islamic Center Samarinda—masjid termegah kedua di Asia Tenggara yang menjulang angkuh di tepian Teluk Lerong—menara utamanya setinggi sembilan puluh sembilan meter tampak menusuk kabut gerimis bagai jarum penunjuk langit. Di bawahnya, ponton-ponton pengangkut batu bara hitam legam meluncur lambat, membelah permukaan sungai yang tenang namun bergolak di kedalaman. Bau anyir air tawar basah bertarung dengan aroma dupa kayu gaharu yang merayap samar dari sela tiang-tiang berukir kaligrafi ayat suci.

Fathan menyandarkan kedua tangannya pada pagar pembatas pelataran. Matanya yang cekung menatap pantulan dirinya di genangan air hujan: seorang pria yang lelah, berpura-pura menjadi novelis pencatat kebudayaan, padahal sejatinya sedang kabur dari reruntuhan skandal investigasi keluarga di tanah Jawa yang hampir memenjarakan jiwanya. Samarinda baginya adalah benteng persembunyian terakhir. Namun, seberapa jauh pun ia melangkah ke pedalaman Borneo, rasa bersalah itu tetap setia menguntit bagai bayang-bayang hitam di bawah air keruh.

**Nadia Kirana**: ""Bujur jua ikam ini, Mas Fathan... jangan melamun di pelataran masjid sambil pasang tampang orang kehilangan sertifikat tanah. Pina kawa disambar buaya muara pikiranmu tuh!""

Suara itu memotong dengung gerimis bagai gunting perak yang membelah sutra tebal. Nadia Kirana melangkah mendekat dengan sepatu bot kulit pendek yang mengetuk marmer tegas. Penampilannya adalah kontradiksi yang memesona: kemeja linen hitam asimetris berpadu rompi tenun Samarinda motif Beligan berwarna tembaga keemasan, kacamata berbingkai tanduk bertengger di atas hidungnya yang ramping, dan rambut sebahu yang berayun memancarkan wangi melati segar bercampur embun sungai. Di matanya, tidak ada keraguan—hanya ketajaman visual seorang stylist yang sanggup menelanjangi kepalsuan pakaian siapa pun dalam tiga detik.

**Fathan**: ""Aku bukan melamun, Nadia. Aku sedang menyerap aura arsitektur transendental. Menghubungkan kubah tujuh puluh meter ini dengan ruang hampa di dalam naskah novelku.""

**Nadia Kirana**: ""Astaga, alasan sastrawan kota besar selalu terdengar seperti pembelaan terdakwa kasus tipikor," Nadia terkekeh renyah, memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya yang membunuh ketegangan. "Ikam jangan sok puitis dulu. Kita ada janji di Samarinda Seberang setengah jam lagi. Tiga fotografer dari majalah wastra nasional sudah menunggu di dermaga tepian. Dan ikam—novelis misterius kita—sudah dikontrak jadi muse utama kampanye sarung tenun Beligan Ar Rimbai hari ini.""

Fathan menelan ludah. Hatinya mencelos. Kontrak itu sebenarnya ia tandatangani semata demi mendapatkan akses menuju arsip tua Kesultanan Kutai yang disimpan keluarga Nadia—kunci untuk menguak siapa dalang di balik manipulasi konsesi tambang yang menghancurkan nama ayahnya lima tahun silam. Ia memanfaatkan Nadia, dan kesadaran itu menusuk ulu hatinya bagai belati tumpul. Namun di hadapan senyum Nadia yang begitu benderang tanpa kepura-puraan, topeng sinisme Fathan terasa semakin rapuh.

**Fathan**: ""Menjadi model sarung tenun tradisional? Kamu sadar kan kalau posturku lebih mirip tumpukan kertas koran basah daripada peragawan Milan?""

**Nadia Kirana**: ""Justru itu nilainya! Wajah ikam itu punya aura 'pria melankolis yang tersiksa oleh misteri hidup'. Di dunia fashion modern, wajah bahagia itu membosankan, Fathan. Wajah yang menyimpan luka purba itulah yang menjual kain bernilai jutaan rupiah. Ayo, kapal tambangan kita sudah merapat di dermaga bawah!""

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan II: Tragedi Sarung Melorot & Drama Avant-Garde

Angin Kencang Mahakam, Lensa Fotografer, dan Simpul yang Menyatukan Dua Detak Jantung. Lokasi: Dermaga Kayu Wisata Tepian Mahakam, Menghadap Samarinda Seberang | Waktu: Pukul 16.15 WITA — Angin sore bertiup kencang dari hulu sungai

🍜 🍲 🍧

Lihat selengkapnya