Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Kepiting Soka Cangkang Lunak

[partImg:[0]]

Kepiting Soka Cangkang Lunak dan Jeram Liar Sungai Kayan - Tanjung Selor, Kalimantan Utara. Kepiting soka bercangkang lunak utuh yang digoreng garing renyah lalu dimasak dalam saus pedas asam manis rempah pesisir, dimakan bersama lawa (salad segar rumput laut parutan kelapa sangrai).

Pemandu: Rania Dayanti, Tomboy pemberani, pecinta tantangan ekstrem, setia kawan, tanpa takut. ✨ Daya Pikat: Goresan luka kecil di pipi yang membuatnya terlihat tangguh mempesona

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═

Bagian I: Menembus Tirai Kabut Purba Sungai Kayan

Perjalanan Perahu Cepat Menuju Gerbang Belantara Tanjung Selor

🍜 🍲 🍧

Sungai Kayan tidak pernah menyambut siapa pun dengan senyuman ramah. Airnya yang pekat sewarna seduhan teh tubruk tua bergulung-gulung dalam keheningan yang purba, menyembunyikan palung-palung tak berdasar di bawah dengungan mesin tempel perahu cepat kami. Di kiri dan kanan dinding air itu, rimba zamrud Kalimantan Utara berdiri angkuh, diselimuti tirai kabut dingin yang turun merayap dari perbukitan perbatasan. Seolah-olah sejak beribu tahun lampau, pohon-pohon meranti dan ulin raksasa itu telah bersepakat untuk mengubur segala celoteh manusia ke dalam lumut basah.

Fathan Al-Ghazi merapatkan jaket parasutnya yang sudah basah oleh embun pekat. Gigi gerahamnya bergemeletuk halus, bukan semata karena gigilan hawa tropis yang mendadak beku di atas haluan, melainkan karena getaran ganjil yang merambat dari dasar lambungnya. Di Jakarta, jam segini adalah jam paling brutal di Jalan Sudirman: klakson saling mengoyak udara beracun, lampu rem menyala merah saga seperti mata neraka korporat, dan ia biasanya duduk di balik bilik kaca lantai tiga puluh delapan, menatap proyeksi margin laba yang dingin dan tanpa jiwa.

"Kenapa muka lo kusut begitu, Mas Bro? Macam orang habis diputusin lewat pesan suara sepuluh detik," suara cempreng itu meluncur menembus deru mesin Yamaha 200 PK. Rania Dayanti berdiri santai di dekat kemudi, kedua kakinya yang terbungkus celana kargo loreng lusuh berpijak mantap di atas lantai perahu yang bergoyang curam. Rambut pendek berpotongan bob acak-acakannya berkibar liar disapu angin lembap, dan helm arung jeram berwarna oranye menyala tersampir di siku kirinya.

"Gue cuma lagi ngitung probabilitas," sahut Fathan ketus, menepis cipratan air sungai dari kacamata berbingkai titaniumnya. "Probabilitas apakah perahu kayu lapis ini bakal pecah berkeping-keping kalau nabrak batang kayu gelondongan yang hanyut dari hulu, atau kita yang bakal duluan disergap buaya muara sebesar mobil pick-up."

Rania tergelak lepas. Tawanya meledak bebas ke udara lembap, begitu renyah hingga seekor burung enggang di dahan seberang mengepakkan sayapnya kaget. "Buaya di muara Kayan ini sopan-sopan, Fathan! Mereka punya selera tinggi, nggak doyan daging cowok metropolitan yang kebanyakan makan katering diet rendah garam. Lagian, simpan dulu rasa takut lo buat besok pagi. Hari ini kita sandar di Tanjung Selor, isi perut, lalu besok subuh gue seret lo ke jeram giram paling gila di hulu."

Fathan menelan ludah yang terasa kesat. Di balik candaan gadis tomboy itu, ada tatapan mata elang yang tajam—mata orang yang tahu persis rahasia apa yang disembunyikan riak air. Fathan membuang pandang ke arah riak haluan. Ada luka tak kasat mata yang terus berdenyut di dadanya: setahun lalu, sebuah kesalahan analisis finansial yang dipaksakan oleh atasannya menghancurkan reputasi yang ia bangun bertahun-tahun. Ia dijadikan kambing hitam, dibuang tanpa belas kasihan ke tong sampah korporasi. Pelariannya ke pedalaman Kalimantan bukan sekadar perjalanan liburan; ini adalah pengasingan sukarela dari kepalsuan yang nyaris merenggut akal sehatnya.

Namun menatap bentang Sungai Kayan yang tak bertepi ini, Fathan merasa seluruh topeng dan gelar prestisiusnya luruh seperti debu kering. Di sini, kekayaan dan kepintaran lidah Jakarta tak ada harganya. Sungai purba ini tidak bisa disuap dengan saham, dan rimba Kalimantan Utara tidak peduli pada berapa banyak angka nol di rekening tabungannya.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Bagian II: Giram Liar dan Teriakan Histeris di Balik Jeram Kayan

Ketika Kendali Kendur dan Hidup Bergantung pada Sebilah Dayung

🍜 🍲 🍧

Dua puluh empat jam kemudian, Fathan mendapati dirinya sedang mempertanyakan seluruh keputusan hidupnya sejak hari pertama ia dilahirkan ke bumi.

"DAYUNG MAJU, FATHAN! JANGAN CUMA MELUK TALI KAYA MELUK MANTAN!" jerit Rania dengan suara menggelegar mengalahkan gemuruh air yang memekakkan telinga.

Perahu karet oranye berukuran empat meter itu melompat liar di atas lidah air yang membuncah setinggi dua meter. Di depan mereka, riam Jeram Giram Kayan menyeringai buas: deretan bebatuan andesit hitam sebesar gajah mencuat di antara busa putih yang mendidih. Sungai Kayan di bagian hulu ini bukan lagi bentangan air tenang nan lamban; ia telah menjelma monster cair yang meraung marah, menyeret segala sesuatu dengan kecepatan puluhan knot menuju tubir curam.

"Raniaaa! Lo bilang jeram ini grade dua! Ini grade sakaratul maut namanya!" teriak Fathan histeris. Wajahnya yang biasa necis di foto kartu nama kini pucat pasi sewarna kapur tulis. Helm pelindungnya miring menutupi alis, dan air jeram yang dingin menusuk tulang telah membasahi sekujur tubuhnya sampai ke celana dalam. Tangannya mencengkeram dayung karbon seolah-olah bilah plastik itu adalah tali penyelamat terakhir dari jurang maut.

"Gue bilang grade tiga plus, pendengaran lo aja yang kebanyakan dengerin podcast motivasi bisnis!" balas Rania sambil tertawa terbahak-bahak di buritan perahu. Gadis itu berdiri setengah membungkuk, otot-otot lengannya yang kecokelatan legam akibat sengatan matahari meregang kuat saat ia memutar kemudi dayung dengan presisi seorang maestro perang air. Kakinya terkunci lincah pada foot-strap perahu, sama sekali tidak gentar menghadapi pusaran air yang siap menelan mereka.

Lihat selengkapnya