Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Kaledo Tulang Kaki Sapi

Kaledo Tulang Kaki Sapi dan Sedotan Bambu Pemanggil Sumsum Sakti. Wilayah: Palu & Donggala, Sulawesi Tengah. Gadis Pemandu: Farida Tadulako (Jurnalis Investigasi & Kepala Koresponden Ar Rimbai Sulteng)

Kutipan Ikonik: "Kadang kebahagiaan terbesar dalam hidup tidak tersaji di atas piring emas, melainkan tersembunyi di dalam hal sederhana yang harus kau perjuangkan dengan napasmu."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan I: Rekahan Palu Koro dan Jembatan yang Bangkit

Lokasi: Pesisir Teluk Palu & Tapak Rekonstruksi Jembatan Palu IV (Ponulele). Suasana: Kering, berdebu garam, kelam namun sarat keteguhan purba

🍜 🍲🍧

Angin Teluk Palu berhembus seperti napas seorang petarung tua yang belum tuntas memulihkan tenaganya. Panasnya tidak lembap seperti rawa-rawa pesisir Jawa, melainkan kering, pedas, dan menyengat—sejenis angin Fohn pegunungan Gawalise yang merayap menuruni lembah lalu membakar pori-pori kulit tanpa ampun. Di kejauhan, siluet lengkung kuning baja Jembatan Palu IV—Jembatan Ponulele yang legendaris itu—terlihat sedang dirajut kembali di atas muara Sungai Palu. Rangkanya yang baru menjulang gagah di atas tapak puing yang pernah disapu tsunami delapan tahun silam, tegak menantang garis takdir seolah bersumpah bahwa kota ini menolak untuk dilupakan oleh peta bumi.

Fathan berdiri mematung di bibir tanggul pemecah ombak. Kemeja linen kelabu mudanya—potongan adibusana dari sebuah butik ternama di Rue Saint-Honoré, Paris—kini kehilangan martabat aristokratnya. Kain mahal itu kusut masai, dihiasi bercak debu tanah kapur dan bulir-bulir kristal garam yang diterbangkan riak selat. Di bawah kakinya, lapisan aspal lama masih memperlihatkan retakan menganga selebar telapak tangan; jejak bisu dari sesar Palu Koro yang tersohor itu, sebuah robekan tektonik sedalam puluhan kilometer yang membelah jantung Sulawesi Tengah.

Fathan menatap retakan itu dengan dada bergemuruh. Baginya, rekahan itu bukan sekadar catatan geologi gempa. Ada sebentuk ironi yang kejam: bumi di tempat ini begitu jujur memamerkan lukanya kepada langit, sementara ia sendiri telah menghabiskan hampir seluruh dekade masa mudanya menyembunyikan retakan jiwanya di balik senyum kaku, setelan wol tiga lapis, dan denting sendok perak di ruang-ruang makan berpenyejuk udara Jakarta dan Eropa.

"Kalau kau terus menatap aspal pecah itu seperti sedang memandang batu nisan warisan, aspalnya tidak akan bertunas bunga krisan, le," sebuah suara berseloroh dari belakangnya, renyah namun sarat ketajaman pisau bedah.

Farida Tadulako melangkah mendekat dengan langkah mantap khas orang lapangan. Rompi jurnalis berbahan kanvas zaitun miliknya tampak padat oleh buku catatan kedap air, spidol hitam, pena berpelindung karet, serta kamera polaroid analog Fujifilm persegi yang tergantung di dadanya seperti jimat pelindung. Rambut ikalnya diikat ekor kuda tak rapi, sebagian helaiannya melambai diterpa angin teluk. Kulit sawo matang perempuan itu bersinar di bawah terik khatulistiwa—tipe kecantikan yang tidak dihasilkan oleh krim perawatan salon elit, melainkan ditempa oleh panas liputan konflik agraria dan debu tenda pengungsian.

"Aku hanya mengagumi bagaimana kota ini menatap kehancurannya sendiri tanpa rasa malu," sahut Fathan perlahan, suaranya parau oleh udara kering. Tangannya menyentuh pembatas besi tanggul. "Di tempat asalku, jika ada dinding keluarga yang retak, kami akan menambalnya dengan wallpaper sutra emas, menyewa orkestra gesek, lalu berpura-pura bahwa di balik tembok tidak ada mayat reputasi yang sedang membusuk."

Farida terkekeh pendek, suara tawanya kering seperti daun cengkih yang diinjak. "Eee, dengar dulu Tuan Pangeran Metropolitan. Di Palu ini, kitorang tidak punya kemewahan untuk pura-pura buta. Sesar Palu Koro ada tepat di bawah pantat kita sekarang. Tanah ini bergerak beberapa sentimeter setiap tahun. Kalau kau coba bohongi bumi di sini, bumi akan menelan rumahmu bulat-bulat beserta seluruh sofa mahonimu. Di tanah Tadulako, orang belajar hidup berdampingan dengan kegelapan, bukan meriasnya."

Farida menatap Fathan lekat-lekat, lensa matanya yang cokelat gelap seolah mampu menembus lapisan kepalsuan pria di hadapannya. Sebagai jurnalis investigasi yang biasa membongkar mafia tambang nikel dan pembalakan liar di pedalaman Morowali, membaca kebohongan manusia adalah insting dasarnya. Dan pada diri Fathan, ia tidak melihat sosok pewaris tahta konglomerasi yang pongah; ia melihat seekor burung hantu yang sayapnya patah, melarikan diri dari sangkar emas karena muak dicekoki racun kepalsuan.

"Dan sekarang," lanjut Farida seraya menepuk perutnya sendiri dengan bunyi berongga yang sengaja didramatisir, "filsafat nestapamu itu harus diistirahatkan dulu. Lambungmu berbunyi seperti desing mesin kapal motor tempel yang kehabisan oli. Ayo, kitorang pergi ke tempat di mana manusia dipaksa berjuang untuk bertahan hidup... dengan sedotan bambu."

Fathan mengerutkan dahi, bingung. "Sedotan bambu? Bukankah kita mau makan siang?"

Farida tersenyum miring—sejenis senyum penuh tipu daya yang biasa ia pasang sebelum melayangkan pertanyaan mematikan kepada bupati yang korup. "Kau akan tahu, le. Jangan ba-gaya pangeran manja kalau belum pernah menatap mata sapi dari dasar mangkok."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan II: Kedai Kayu, Tulang Raksasa, dan Ledakan SLUUURRP

Lokasi: Kedai Kaledo Tradisional Asli Donggala, Pinggiran Teluk Palu. Suasana: Bising, gerah, kepulan uap kaldu asam pedas, gelak tawa riuh

🍜 🍲🍧

Kedai Kaledo itu tidak memiliki pintu putar kaca atau pelayan berseragam dasi kupu-kupu yang membungkuk sembilan puluh derajat. Itu hanyalah bangunan panggung setengah terbuka bertiang kayu ulin hitam legam, beratap seng berkarat yang memantulkan dentang panas siang hari. Namun, aroma yang mengepul dari dapurnya adalah sejenis sihir yang sanggup melumpuhkan segala kesombongan akal sehat.

Di sudut depan kedai, di atas tungku bata merah yang menyala dengan bara kayu bakau, bertengger kuali drum raksasa berdiameter satu meter. Kaldu di dalamnya bergolak liar seperti lahar cair; cairan kuning keruh kecokelatan yang berminyak keemasan, meletup-letup melontarkan aroma asam jawa muda yang begitu tajam hingga membuat kelenjar air liur di pangkal rahang Fathan berkedut nyeri seketika. Berpuluh-puluh bongkahan tulang kaki sapi Donggala—dengan urat-urat kenyal berwarna putih mutiara yang masih melekat erat pada persendian—bergulir di antara pusaran cabai rawit hijau yang ditumbuk kasar.

"Dua porsi kaledo tulang kaki tengah, Bu Hajah!" seru Farida lantang seraya menyapa ramah seorang ibu paruh baya bertudung kepala jingga yang sedang mengayunkan golok pemotong tulang. "Beri kami tulang yang sumsumnya paling gendut dan sakti! Temanku ini baru turun dari menara gading Jakarta, perlu dibaptis dengan kolesterol berkah!"

Ibu penjual tertawa lebar, memperlihatkan deretan gigi yang bersahaja. "Eee Nona Farida, bawa pacar baru dari tanah Jawa lagi kah? Kurus betul badannya le, seperti pohon kelor belum disiram!"

Fathan merasakan pipinya menghangat. Ia menarik kursi kayu panjang yang sedikit goyah, berusaha duduk dengan postur tegak yang biasa ia latih di sekolah etiket Swiss. Beberapa detik kemudian, dua mangkok gerabah raksasa diletakkan di hadapan mereka dengan denting berat di atas meja kayu beralas taplak plastik bermotif bunga kembang sepatu.

Mata Fathan terbeliak.

Di dalam mangkoknya, tidak ada potongan daging berukuran mungil yang dihias dengan daun peterseli dan tetesan minyak truffle seharga jutaan rupiah. Yang bertengger di sana adalah sebuah monumen anatomi: sebongkah tulang kaki lembu Donggala seukuran lengan bawah pria dewasa, dipotong tegak lurus, dengan urat tebal kenyal dan serpihan daging kecokelatan yang basah berkilat oleh kuah asam pedas. Dan yang paling ganjil—di dalam lubang silinder tengah tulang tersebut, tertancap sebilah sedotan bambu hijau berdiameter seukuran jempol kaki, berdiri tegak laksana pipa kilang minyak mini.

Di samping mangkok utama, tersaji sepiring singkong kukus putih merekah yang masih mengepulkan uap manis, serta semangkok Uta Kelo—sayur daun kelor segar berkuah santan putih encer yang dihiasi butiran jagung manis pipil dan terung ungu kecil.

"Bagaimana... bagaimana cara memakan arsitektur purba ini?" tanya Fathan dengan suara tercekat, menatap sedotan bambu itu seolah benda itu adalah detonator peledak.

"Eee pangeran, kau pikir sumsum di dalam sana akan melompat sendiri ke mulutmu sambil mengucapkan 'bon appétit'?" Farida mencibir seraya menyingsingkan lengan rompinya. Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya berbinar penuh bimbingan nakal. "Dengar instruksiku baik-baik. Pertama, tuang dulu sesendok kuah asam kaledo yang panas mendidih itu ke dalam lubang tulang. Jangan ragu! Biarkan kuah asamnya melelehkan lemak sumsum di kedalaman batu kapur itu."

Lihat selengkapnya