Gorontalo: Binte Biluhuta Jagung Manis dan Misteri Ilabulo Daun Pisang
Pengembangan bab novel berlatar Benteng Otanaha abad ke-16 dan perairan Danau Limboto. Memadukan pergolakan batin pengelana metropolitan yang membeku, tawa renyah gadis kurator tradisi Ar Rimbai, tragedi komedi mengunyah daun pisang berjelaga, hingga katarsis di hadapan semangkok sup jagung beraroma kemangi dan cakalang asap.
═━═━═━═ Kembar Rasa ═━═━═━═
Adegan I: Di Punggung Karang Purba Otanaha
🍜 🍲 🍧
Angin dari arah cekungan Danau Limboto merangkak naik dengan desau yang ganjil, membawa bau lumpur rawa yang purba dan aroma lumut basah yang telah menempel di bebatuan karang selama lima ratus tahun. Di puncak perbukitan Dembe I, Benteng Otanaha tegak seperti tengkorak raksasa yang menolak lapuk oleh zaman. Tembok-tembok bundar setinggi dua meter itu tidak dibangun dengan adukan semen modern; mereka berdiri karena jutaan butir putih telur burung maleo dan unggas liar yang dikorbankan pada abad keenam belas, merekatkan batu-batu karst hitam legam menjadi benteng yang tak tertembus oleh meriam perompak bajak laut ataupun serdadu Portugis.
Fathan menyandarkan telapak tangannya pada bongkahan batu kapur yang dingin. Rasa dingin itu bukan sekadar temperatur udara pegunungan, melainkan sejenis hawa kematian yang lambat—sebuah dinding pertahanan yang begitu kokoh hingga memenjarakan siapa pun yang berdiam di baliknya. 'Betapa melelahkannya menjadi benteng,' gumam Fathan dalam keheningan batinnya yang paling gulita.
Ia teringat pada malam tiga tahun silam di Jakarta, ketika ruang kerjanya yang berdinding kaca kedap suara menjadi kuburan bagi reputasi dan kepercayaan yang ia bangun belasan tahun. Orang yang paling ia percayai, rekan kongsi yang ia anggap saudara kandung, telah menjual dokumen perusahaannya kepada kompetitor demi segenggam saham recehan. Sejak malam laknat itu, Fathan memutuskan untuk merekatkan dinding jiwanya sendiri dengan sejenis perekat yang jauh lebih keras daripada putih telur Otanaha: ketidakpercayaan mutlak pada setiap manusia. Ia mengunci diri, menolak rasa iba, dan memandang setiap kehangatan sebagai jebakan muslihat.
'Kak Fathan! Kalau melamun terus di dekat celah meriam itu, nanti ketempelan penunggu Ilato, lho!'
Suara itu memecah keheningan laksana denting mangkuk porselen yang jatuh di atas lantai batu. Meutia Hulonthalo melangkah ringan menaiki anak tangga ke-348 dengan napas yang nyaris tak terengah. Selendang sulaman Karawo bermotif mahkota adat yang melilit pundaknya berkibar ditiup angin lembah, memperlihatkan warna terakota yang kontras dengan dinding benteng yang menghitam kelam. Senyumnya lebar, matanya berbinar seperti riak air yang tertimpa matahari sore, dan di kedua tangannya yang lentik, tersampir dua bungkusan anyaman daun kelapa yang masih mengepulkan uap panas.
'Jangan bicara sembarangan, Meutia,' balas Fathan datar, menarik tangannya dari dinding batu kapur. 'Aku tidak percaya hantu. Yang berbahaya di dunia ini selalu manusia yang masih bernapas, bukan batu-batu mati peninggalan Raja Ilato.'
Meutia tertawa kecil, suara tawanya renyah dan hangat, tanpa ada nada tersinggung sedikit pun. 'Manusia yang masih bernapas memang berbahaya kalau perutnya lapar, Kak. Ayo duduk di undakan batu itu. Kita buka bekal sebelum matahari jatuh ke dasar Limboto.'
═━═━═━═ Kembar Rasa ═━═━═━═
Adegan II: Tragedi Komedi Daun Pisang Ilabulo
🍜 🍲 🍧
Dari dalam anyaman rotan kecilnya, Meutia mengeluarkan dua gulungan padat yang dibalut daun pisang tebal. Permukaan daun pisang itu kehitaman, hangus terpanggang di atas bara arang tempurung kelapa hingga meninggalkan jelaga berminyak dan aroma sangit yang menusuk hidung. Bentuknya lonjong memanjang, diikat pada kedua ujungnya dengan lidi kelapa yang runcing.
'Ini pusaka kedua Gorontalo setelah benteng ini,' kata Meutia dengan nada bangga seperti kurator museum yang sedang memamerkan berlian monarki. 'Namanya Ilabulo. Bikinan Uti Amin di dekat pasar sentral. Dari tadi siang baunya sudah bikin cacing di perutku menyanyi koor shalawat.'
Fathan menatap bungkusan daun pisang itu dengan kening berkerut. Sejak pagi menempuh perjalanan darat menyusuri pesisir Sulawesi, perutnya memang sudah meronta-ronta perih. Sebagai pria metropolitan yang terbiasa dengan etiket restoran berpendingin ruangan dan makanan serba higienis dalam wadah kedap udara, insting Fathan langsung mengkategorikan penganan itu ke dalam memori masa kecilnya: lemper bakar atau nagasari Jawa. Dalam benaknya yang sedang kalut dan kelaparan hebat, makanan tradisional berbungkus daun selalu dimakan bersama lapisan luar yang tipis—atau setidaknya, rasa laparnya telah melumpuhkan separuh akal sehatnya.
Dengan gerakan cepat penuh gengsi demi menutupi bunyi perutnya yang bergemuruh, Fathan mengambil satu gulungan Ilabulo itu. Tanpa melepas lidi penyemat, tanpa membuka lipatan daun pisang yang hangus berjelaga tebal, ia langsung melayangkan gigitan mantap ke ujung gulungan tersebut!