
Manado: Bubur Tinutuan Sehat dan Sengatan Ikan Cakalang Fufu Halal. Antara Palung Kedalaman Bunaken, Dendang Rica Gorontalo, dan Hangatnya Damai Minahasa
Tinutuan ini sarat sayuran sehat dari tanah Minahasa. Cinta pun begitu: harus menyehatkan jiwa, bukan meracuni pikiran."
— Jessica Wowor, Menatap Ombak Selat Bunaken & Pantai Malalayang
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Bagian I: Kerucut Purba Manado Tua dan Bisikan di Kedalaman Bunaken
Latar: Dermaga Marina Manado & Coral Wall Bunaken kedalaman 15 meter | Nuansa: Puitis, Megah, Tegang, Menghanyutkan
🍜 🍲🍧
Kabut tipis beraroma garam dan uap belerang purba masih merayap lambat di atas permukaan Teluk Manado ketika fajar menyepuh puncak Pulau Manado Tua dengan warna tembaga basah. Dari dermaga kayu Marina Plaza yang berderit di bawah hentakan tumit, pulau kerucut vulkanik itu tidak sekadar menyerupai seonggok daratan yang terlempar ke tengah laut; ia tegak laksana pasak raksasa yang menancapkan langit ke perut samudra, membisu dengan wibawa purba yang sanggup menciutkan nyali siapa pun yang berani menatapnya terlalu lama.
Bagi Fathan, tatapan itu bukan sekadar kekaguman estetis seorang pejalan kota. Di balik jaket tahan angin yang kerahnya ia tarik hingga menutupi jakun, ada degup ganjil yang berdegap tak beraturan di rongga dadanya. Gelombang air biru kelam yang menjilat-jilat tiang dermaga selalu menghidupkan kembali suara kayu pecah sepuluh tahun silam di perairan Selat Sunda—suara malam terkutuk ketika kapal kayu ayahnya karam dihantam badai, dan tangan mungilnya terlepas dari jemari sang paman, Kapten Danu, yang tenggelam ditelan palung hitam tanpa pernah kembali ke permukaan. Sejak malam itu, kedalaman samudra adalah makam terbuka yang menuntut tebusan napasnya.
"Adooo, Kak Fathan! Kiapa ley ngana pe muka so pucat bagitu, kote?! Rupa orang so lia setan kuskus pagi-pagi begini!"
Sebuah tawa renyah memecah lamunan kelam Fathan. Suara itu berdenting jernih, membawa serta kehangatan dialek pesisir Minahasa yang khas. Seorang gadis dengan setelan selam neoprene hitam beraksen toska melangkah mendekat dengan langkah mantap. Di kepalanya terpasang rapi jilbab selam sintetis yang membungkus wajah ovalnya secara bersahaja. Kulitnya yang kuning langsat khas orang gunung Minahasa tampak berseri disiram cahaya fajar, sementara sepasang mata cokelat terangnya memancarkan binar keceriaan yang seakan mampu mengusir badai sebesar apa pun. Di dadanya tersemat tanda pengenal bersulam benang perak: *Jessica Wowor — Bunaken Marine Guide & Ar Rimbai Sulut*.
"Ngana jangan tegang bagitu jo," Jessica kembali berujar sambil membetulkan selang regulator pada tabung selam aluminium bertekanan 200 bar. Tangannya cekatan, jemarinya lincah mengunci katup tanpa ragu sedikit pun. "Laut Bunaken ini bukan mo telan pa ngana. Bunaken pe aer itu rupa kaca kristal. Kalau ngana masuk deng hati bersih, karang deng ikan di bawa aer mo sambut pa ngana rupa sodara kandung yang lama so inda pulang!"
"Aku nggak takut, Jessica," dusta Fathan, menelan ludah yang terasa sekering pasir vulkanik. Ia memegang sabuk pemberat timah dengan jemari yang gemetar halus. "Hanya saja... Manado Tua itu tampak seperti raksasa yang sedang menunggu mangsa."
Jessica terkekeh, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Fathan. Ada ketajaman empati yang tak terduga di balik senyum lebarnya. "Orang tua-tua Minahasa bilang, gunung itu saksi setia. Dia bukan mo telan, dia mo jaga teluk. Ngana pe mata itu... kita lia ada beban berat yang ngana simpan di situ. Mari jo torang pi menyelam. Kasih lepas itu sesak di bawa aer!"
Tiga puluh menit kemudian, perahu cepat bermesin ganda membawa mereka melintasi selat sempit menuju sisi tenggara Pulau Bunaken. Ketika perahu berhenti di atas tubir terumbu karang (drop-off wall) yang legendaris, dunia mendadak berubah. Air laut di bawah mereka bukan lagi biru kelam yang menakutkan, melainkan pirus transparan dengan gradasi safir yang memperlihatkan dinding jurang karang sedalam puluhan meter.
Ketika tubuh Fathan tercebur ke dalam air dan regulator mulai mendesiskan oksigen kering ke tenggorokannya, ketakutan primitif sempat menyergap. Paru-parunya menegang. Refleks masa lalunya berteriak agar ia segera naik ke permukaan. Namun di depannya, Jessica meluncur ke bawah dengan anggun, tubuhnya bergerak selaras dengan arus laksana duyung purba. Gadis mualaf itu menoleh, memberikan isyarat tangan *'OK'*, lalu menunjuk ke kedalaman 15 meter.
Di kedalaman itu, cahaya matahari pagi membiaskan garis-garis emas menembus kolom air, menari-nari di atas padang koral gorgonian raksasa dan lambaian anemon merah muda. Dan tepat di tepi dinding karang terjal, formasi koral lunak berpadu dengan alga zamrud tumbuh melengkung sedemikian rupa, membentuk siluet hati yang sempurna dan presisi—sebuah mahakarya alam bawah laut yang tampak mustahil diciptakan secara kebetulan.
Jessica berenang mendekati formasi itu, lalu melayang tanpa bobot di sampingnya. Ia menoleh menatap Fathan lekat-lekat dari balik masker selam kacanya. Di dalam heningnya dunia tanpa kata itu, Jessica membentuk simbol hati dengan kedua tangannya, lalu tersenyum manis. Gelembung-gelembung udara perak meluncur naik dari regulatornya, berkilauan diterpa mentari bawah laut.
Tatapan mata Jessica menembus benteng pertahanan psikologis yang dibangun Fathan selama sepuluh tahun. Di kedalaman 15 meter itu, untuk pertama kalinya sejak malam tenggelamnya sang paman, Fathan tidak merasa tercekik oleh air. Ia justru merasakan pelukan kedamaian yang asing—sebuah getaran hangat yang meluruhkan batu dingin di dalam dadanya.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Bagian II: Malapetaka Rica Gorontalo dan Gaya Renang Anjing di Malalayang
Latar: Warung Pesisir Pantai Malalayang, Manado | Nuansa: Jenaka, Kacau-Balau, Meledak-Ledak, Komikal
🍜 🍲🍧
Satu jam berada di bawah tekanan hidrostatik Bunaken ternyata menguras kalori Fathan hingga ke titik nol. Begitu perahu merapat kembali dan mereka bergeser ke kawasan kuliner pesisir Pantai Malalayang, perut Fathan bergemuruh nyaring laksana letupan Gunung Soputan.
"Kita so bilang kote, menyelam itu bekeng parot koso!" kelakar Jessica seraya mengajak Fathan duduk di bawah naungan pohon ketapang rindang yang menghadap langsung ke deburan ombak selat. Angin pantai bertiup sepoi, membawa aroma asap kelapa bakar yang gurih menggoda dari pondok-pondok kayu di sekeliling mereka.
Seorang mama Minahasa berbadan tambun dengan celemek kotak-kotak segera menghampiri meja mereka sambil membawa nampan anyaman bambu. Dalam sekejap, meja kayu itu dipenuhi semangkuk besar Tinutuan yang masih mengepulkan uap panas harum. Bubur itu berwarna kuning kemilau dari hancuran labu kuning manis (sambiki) dan pipilan jagung manis, disesaki sayuran hijau segar seperti kangkung, bayam, daun kemangi, dan daun gedi berlendir gurih yang kaya serat. Di sampingnya, tersaji piring seng berisi potongan ikan cakalang fufu jepit bambu yang merekah merah kecokelatan, serta semangkuk kecil sambal roa yang minyak kelapanya tampak merah menyala pekat.
"Nah, ini dia! Tinutuan asli Manado deng cakalang fufu halal!" ujar Jessica bangga seraya membetulkan lengan kemejanya. "Tapi ingat e, Kak Fathan. Itu sambal roa bukan rupa sambal terasi di Jawa yang ada manis-manis gula jawa. Depe cabe itu pake rica gorontalo asli. Pedasnya bukan maen! Ngana taruh sadiki-sadiki jo dulu di pinggir mangkok."
Namun Fathan, yang darah ego kota besarnya masih berdesir dan merasa sudah 'menaklukkan laut', justru tersenyum remeh. Aroma ikan roa asap yang harum gurih itu menyamarkan ancaman mematikan yang bersembunyi di balik minyak cabainya. Baginya, makanan pedas Padang atau sambal bawang Jakarta sudah khatam ia lahap.
"Tenang saja, Jes. Lidahku ini tahan banting. Makin pedas, makin jantan," gumam Fathan pongah.
Tanpa memedulikan tatapan ngeri di mata Jessica, Fathan menyendok sambal roa itu... bukan seujung sendok, melainkan *satu sendok bebek penuh menggunung*! Ia adukkan secara serampangan ke atas bubur labu yang masih mendidih panas, lalu menyuapkan gumpalan bubur bercampur cabai rawit merah tumbuk itu langsung ke dalam mulutnya.