
Bab 30: Kendari: Sinonggi Sagu Lembut dan Lemparan Sumpit di Teluk Kendari
"Ketika kebekuan jiwa urban terhempas oleh kelenturan sagu rumbia Tolaki, dan rahasia masa silam dua puluh tahun tersingkap di antara riak tenang Teluk Kendari."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan 01·Jembatan Teluk Kendari (Bahteramas), Sulawesi Tenggara·Sore Menjelang Magrib (17.15 WITA)
Gerbang Angin di Atas Jembatan Bahteramas. Bentangan Jembatan Bahteramas Teluk Kendari, titik temu Kota Lama dan Poasia.Foto Dok. Ar Rimbai Sultra
🍜 🍲 🍧
Angin Selat Kendari berhembus liar, meniup ujung selendang tenun motif tabere Tolaki yang melilit pundak Wa Ode Hasnah. Di bawah bentang baja Jembatan Teluk Kendari yang melengkung megah sepanjang satu koma tiga kilometer, permukaan air laut memantulkan lelehan warna tembaga dari matahari sore yang mulai tergelincir di balik perbukitan Nanga-Nanga. Puluhan perahu katir tradisional milik nelayan meluncur pelan di bawah kolong jembatan, meninggalkan jejak buih putih yang segera ditelan kedalaman teluk yang teduh.
Fathan merapatkan jaket kanvasnya. Jarinya mengetuk-ngetuk pegangan besi jembatan secara tak beraturan—sebuah kebiasaan gugup yang tak pernah bisa ia lenyapkan sejak kepalanya dijejali target liputan serial Zamrud Selat. Baginya, jembatan ini terlalu hening. Fathan terbiasa dengan deru jalan layang ibu kota yang serba terburu-buru, tempat orang-orang berkejaran dengan lampu merah dan saling memaki di balik kaca mobil yang tertutup rapat.
"Tabe', Kak Fathan... melamun terus ki'," suara Wa Ode Hasnah memecah lamunan itu. Nada bicaranya begitu halus, khas keturunan bangsawan Buton yang tumbuh dengan tata krama keraton dan keteguhan perempuan Tolaki. Sorot matanya yang bening memandang lurus ke arah lekukan teluk yang menyerupai telaga raksasa. "Jembatan ini bukan sekadar beton dan kabel pancang, Kak. Bagi orang Kendari, ia adalah jabat tangan antara Kota Lama yang penuh sejarah dengan Poasia yang menatap hari esok. Air di bawah kita ini tenang, tapi ia menyimpan banyak sekali rahasia yang tak pernah terburu-buru untuk diakui."
Fathan menoleh canggung. "Aku hanya... heran melihat orang-orang di sini. Mereka bisa berdiri berjam-jam memandang air laut tanpa rasa bersalah telah membuang waktu. Di tempat asalku, jika kau berhenti bergerak barang sepuluh detik saja, kau akan merasa tertinggal oleh zaman."
Wa Ode tersenyum tipis. Lesung pipinya yang samar menghadirkan kehangatan yang kontras dengan angin laut yang kian dingin. "Karena di tanah Anoa ini, waktu bukan untuk dikejar sampai terengah-engah, Kak. Waktu adalah sesuatu yang kita masuki dengan takzim. Nanti malam, saat kita duduk makan, Kak Fathan akan paham kenapa orang Tolaki mengajarkan kita berdamai dengan kelambatan. Ayo, Bung Reza dan Daeng Syukur sudah lapar sekali itu di mobil."
Di belakang mereka, Reza sang juru kamera sudah melambaikan tangan dari dekat mobil sewaan sambil mengelus perutnya yang tambun. "Woy, Bos Fathan! Nanti lanjut romantikanya! Cacing di perutku sudah main rebana ini, mencium aroma ikan kakap kuah kuning dari arah pondok pelabuhan!"
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan 02·Pondok Kuliner Tradisional Tolaki, Pesisir Teluk Kendari·Senja Beranjak (18.10 WITA)
Badai Sagu Rumbia dan Teror Sumpit Posonggi