Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

Coto Makassar Mangkok Gerabah

Coto Makassar Mangkok Gerabah dan Aroma Konro Bakar Losari

Pengembangan bab mendalam dengan diksi puitis nan kelam, pergolakan batin trauma masa kecil Fathan, komedi ketupat jenaka berdialek Makassar di kuali gerabah Daeng Rangka, serta plot twist wasiat lilin merah dan keberadaan sang ibu di Tana Toraja.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


I. Bayang-Bayang Karang di Benteng Penyu

🍜 🍲 🍧

Batu padas hitam Benteng Fort Rotterdam menyimpan bau garam busuk dan lumut kering ratusan tahun—aroma yang menyerupai darah kering yang gagal dibasuh ombak. Di ambang senja Selat Makassar, angin laut berhembus kasar, menyapu anak rambut Fathan yang kusut masai setelah pelayaran melelahkan membelah perairan Flores menuju tanah Ujung Pandang.

Di depannya, berdiri Andi Fatimah Syam. 

Garis wajah perempuan itu bagai dipahat dari kayu ulin tertua di pesisir Bira; pipinya tinggi, hidungnya tegas dengan sorot mata elang yang tak kenal ampun. Ia mengenakan blazer hitam terstruktur yang melapisi blus tenun Lagosi sutra Sengkang berwarna marun darah. Di industri kuliner dan media Nusantara, julukan "Food Critic Berlidah Emas" bukan sekadar ornamen kartu nama. Perempuan bangsawan Bugis-Makassar ini pernah merontokkan reputasi restoran bintang lima di Singapura hanya dengan satu kalimat tentang ketidakjujuran minyak samin.

"Kau berdiri seperti narapidana Belanda yang menunggu giliran dieksekusi di Bastion Mandharsyah, Fathan," suara Fatimah terdengar dingin, beradu dengan pekik camar di atas tiang bendera tua. "Tegakkan bahumu. Orang yang berjalan di tanah Makassar dengan punggung bungkuk sedang mengundang takdirnya sendiri untuk diinjak."

Fathan menelan ludah yang terasa pahit. Sepanjang dua puluh sembilan tahun hidupnya, ia adalah anak piaraan ruang berpendingin udara di gedung kaca Sudirman—seorang perancang proposal steril yang terbiasa menyembunyikan kerapuhan di balik dasi sutra dan senyum korporat yang tak berakar. Namun, di hadapan dinding benteng yang aslinya dinamai Benteng Pannyua—benteng penyu peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo abad keenam belas ini—seluruh topengnya terasa rontok berkeping-keping.

*Penyu,* batin Fathan kelam, menatap susunan batu kali dan terumbu karang yang direkatkan getah pohon dan kapur. *Hewan purba yang bersembunyi di balik cangkang baja karena tahu daging di dalamnya begitu rapuh dan mudah tercabik.*

Bukankah itu pula yang dilakukannya seumur hidup? Menyembunyikan rasa takut ditinggalkan, menutupi trauma bentakan mendiang ayahnya yang selalu mencapnya sebagai "anak mami yang tak punya nyali"? Setiap kali ayahnya memukul meja marmer ruang makan keluarga di Menteng, Fathan kecil hanya bisa menunduk, menelan air mata bersama nasi putih yang mendadak terasa seperti gumpalan pasir. Ayahnya menuntut seorang jenderal, tetapi yang lahir hanyalah seorang juru ketik yang gentar pada bayangannya sendiri.

"Tabe’, Andi Fatimah," Fathan mencoba tersenyum, meski sudut bibirnya bergetar getir. "Saya hanya terkesima. Benteng ini tampak seperti cangkang yang menolak runtuh oleh ratusan meriam kompeni."

Fatimah menatapnya lekat. Matanya menyipit, menembus pupil Fathan dengan ketajaman yang menakutkan. "Benteng ini bukan sekadar cangkang, Fathan. Ini adalah monumen siri’. Di balik batu padas ini, pangeran dan prajurit Gowa memilih mati daripada menyerahkan harga diri mereka. Tapi kau... aku mencium bau ketakutan yang basi dari tubuhmu. Ayo, tinggalkan benteng ini. Perutmu bergemuruh lebih keras daripada meriam Speelman. Lidahmu harus disucikan sebelum kau berani menulis tentang kota ini."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


II. Pusaran Kuali Tanah Liat dan Tragedi Ketupat Terlarang

🍜 🍲 🍧

Kedai Coto Daeng Rangka tidak mengenal basa-basi dekorasi kafe metropolitan. Tempat itu berupa los panjang beratap seng tebal dengan dinding kapur yang menghitam dijilat jelaga arang. Di sudut depan, sebuah kuali gerabah tanah liat raksasa—bergaris tengah hampir satu meter—duduk di atas tungku bata merah yang menyemburkan api biru-keemasan. Dari kuali purba itu, uap panas mengepul membubung ke langit-langit, membawa serta aroma yang langsung menghantam rongga dada Fathan dengan keintiman yang liar: sangrai kacang tanah Tuban yang digiling lembut, gurih pati air tajin beras pilihan, serta tabrakan harmonis dari empat puluh macam rempah rahasia.

"Tabe’ Karaeng! Tabe’ Daeng Fatimah!" seru seorang lelaki paruh baya berperut bundar dengan kumis lebat melintang dan songkok recca Bugis berhias serat emas. Pisau daging di tangannya menari di atas talenan kayu asam raksasa, mencincang daging sapi dan lidah rebus dengan ritme secepat ketukan gendang rampak. "Lama tidak tampak hidung ta’! Masih tajam lidah ta’ menguliti kuah orang?"

"Kupingmu yang ketebalan jelaga, Daeng Rangka," sahut Fatimah, tersenyum tipis—sebuah senyum langka yang membuat wajah kakunya mendadak tampak manusiawi. "Siapkan dua mangkok gerabah. Satu untukku: campur lidah dan jantung, kuahnya kental rempah tua. Dan satu lagi untuk anak kota dari Jakarta ini. Kasih daging has dalam dan paru goreng renyah. Jangan kasih jeroan dulu, nanti ususnya kaget lalu pingsan di pangkuanmu."

"Aih, siap Karaeng! Daging nomor satu, empuk seperti janji kampanye!" Daeng Rangka terkekeh, lalu menatap Fathan dengan mata berbinar jenaka. "Duduk ki’, Daeng Fathan. Di sini, kalau lapar jangan malu-malu. Tapi kalau kenyang, jangan pura-pura amnesia na!"

Meja kayu kedai itu dipenuhi piring-piring anyaman daun kelapa berisi ketupat mini berbungkus janur hijau kecokelatan. 

Ketika mangkok gerabah tebal diletakkan di hadapannya, Fathan terdiam. Kuah coto itu berwarna cokelat keemasan, pekat dan berkilau oleh minyak rempah alami. Butiran halus kacang sangrai berenang di antara potongan daging sapi yang merekah lembut. Aromanya bukan sekadar bau masakan; ada jintan yang tajam, kapulaga yang menenangkan, ketumbar sangrai yang membakar nafsu makan, serta kehangatan lengkuas dan sereh yang meresap hingga ke pori-pori terdalam.

"Jangan hanya ditatap seperti surat panggilan pengadilan, Fathan. Tambahkan perasan jeruk nipis lokal itu, satu sendok sambal tauco Makassar, dan taburi bawang goreng," perintah Fatimah dengan wibawa seorang konduktor orkestra. "Lalu seruput tanpa sendok terlebih dahulu. Biarkan empat puluh rempah itu menghakimi lidahmu."

Fathan menuruti perintah itu. Ia mengangkat mangkok gerabah yang hangatnya merambati telapak tangannya—panas bumi liat yang jujur. Saat cairan kental itu menyentuh bibirnya, sebuah ledakan rasa terjadi. Gurih manis dari sari air tajin dan kacang tanah langsung memeluk lidahnya, disusul kehangatan rempah yang berlapis-lapis—pedas lembut, getir yang menawan, serta kesegaran asam jeruk nipis yang membelah lemak daging tanpa ampun. Potongan dagingnya meleleh di mulutnya bahkan sebelum giginya sempat mengunyah sempurna.

Rasa lapar purba yang terkunci selama berminggu-minggu dalam pelarian batinnya mendadak meledak. Fathan meraih ketupat pertama, membelahnya dengan jemari gemetar, dan mencelupkannya ke dalam kuah. 

Satu ketupat lenyap dalam tiga suapan. 

Lalu ketupat kedua menyusul. Ketiga. Keempat. Kelima.

Pada ketupat keenam, sebuah memori kelam dari masa kecilnya tiba-tiba menyengat kepalanya bagai jarum beracun. Saat ia berusia delapan tahun, di sebuah jamuan makan malam keluarga besar yang kaku di Menteng, Fathan kecil yang kelaparan menambah porsi nasi gorengnya untuk kali ketiga. Ayahnya tidak menegurnya di depan tamu; ayahnya hanya meletakkan garpu perak dengan denting pelan yang dingin, lalu berbisik di telinga Fathan: *"Hanya orang rendahan yang makan seperti babi kelaparan. Kau membuatku malu."* Malam itu, Fathan dikurung di perpustakaan gelap tanpa lampu selama empat jam, ditemani rasa lapar dan air mata yang mengering di pipi.

Lihat selengkapnya