Papeda Kuah Kuning Ikan Tongkol dan Semerbak Cengkih Gurabati. Wilayah: Sofifi, Maluku Utara (Maluku-Papua)
"Dunia pernah bertaruh nyawa menyeberangi samudra demi secuil pala dan cengkih di pulau ini. Bersyukurlah kau lahir di tanah yang diberkahi surga rempah."
Kutipan Ikonik: "Dunia pernah bertaruh nyawa menyeberangi samudra demi secuil pala dan cengkih di pulau ini. Bersyukurlah kau lahir di tanah yang diberkahi surga rempah."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan I: Riak Garam di Selat Para Sultan
Penyeberangan Speedboat dari Bastiong Menuju Ibu Kota Sofifi. Lokasi: Selat Ternate-Halmahera, Perairan Halmahera Barat | Waktu: Pagi Menjelang Siang, 09.30 WIT
🍜 🍲 🍧
Dua mesin tempel Yamaha dua ratus tenaga kuda itu menggeram bagai sepasang naga laut yang baru saja terbangun dari dasar palung. Haluan speedboat kayu sepanjang sepuluh meter tersebut membelah ombak Selat Halmahera dengan hempasan yang membuat tulang punggung Fathan berderak ngilu. Cipratan buih asin menampar wajahnya tanpa ampun, mengaburkan kacamata berbingkai titanium yang biasa ia kenakan di ruang rapat berpendingin udara lantai tiga puluh kawasan SCBD Jakarta.
Di sebelah kanannya, Halimah Tidore duduk dengan punggung tegak bersahaja di atas bangku kayu tanpa sandaran. Selendang batik bermotif dedaunan pala tua yang melingkari pundaknya berkibar diterpa angin kencang laut timur, namun parasnya tenang laksana danau kawah. Tak ada setitik pun rasa gentar di sepasang mata cokelat terangnya yang memandang lurus ke arah garis hijau pekat daratan Halmahera di kejauhan.
"Fathan, pegang kuat di lis perahu, jang ngana pusing!" teriak Halimah melintasi deru angin dan raungan baling-baling. Logat Ternate-Tidore miliknya meluncur dengan ritme yang luwes, merdu sekaligus tegas bagai ketukan tifa pembuka tarian cakalele. "Biar laut bagoyang kencang, hati jang iko tagoyang! Orang Halmahera bilang, aer laut Maluku ni tra pandang pangkat ato dasi kantoran. Kalau mau selamat, sujudkan kepala pada ombak!"
Fathan menelan ludah yang terasa getir oleh garam laut. Tangannya yang putih dan terbiasa membelai papan ketik laptop kini mencengkeram erat kayu perahu hingga buku-buku jarinya memutih. Bau minyak bensin bercampur amis air laut dan anyir keringat dingin mengaduk perutnya. Di dalam kepalanya, suara deru mesin bertransformasi menjadi gema dengung alarm likuidasi pasar saham tiga tahun lalu—hari terkutuk ketika portfolio investasi komoditas yang ia pimpin anjlok sembilan puluh persen dalam semalam, menjerumuskan perusahaan keluarga ke jurang pailit dan memicu serangan jantung fatal yang merenggut nyawa ayahnya di ruang IGD yang sunyi.
Mengapa ia harus melarikan diri sejauh ini? Menuju pulau di ujung timur peta yang selama ini hanya ia kenal sebagai kode statistik volume cengkih di terminal Bloomberg? Di belakang punggung mereka, siluet kerucut raksasa Gunung Kie Matubu di Pulau Tidore tampak menjulang angkuh, separuh tubuhnya tersaput selubung kabut putih keperakan. Gunung itu seperti saksi purba yang mengawasi manusia-manusia fana yang bertikai demi menguasai segenggam biji kering. 'Kau bukan datang untuk menyelamatkan petani, Fathan,' bisik sebuah suara gelap di bilik hatinya yang paling sunyi. 'Kau datang ke sini karena kau pengecut yang tak sanggup menatap pusara ayahmu di Tanah Kusir.'
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan II: Sengatan Lemon Cui dan Amukan Piring Terakhir
Ujian Gohu Ikan Tuna Mentah di Kedai Pesisir Sofifi. Lokasi: Kedai Panggung Kayu Tepi Pantai Guraping, Sofifi | Waktu: Siang Terik, 12.15 WIT
🍜 🍲 🍧
Kedai panggung berdinding papan ketapang di pesisir Teluk Sofifi itu dipayungi pohon beringin pantai yang rindang. Angin darat berhembus membawa aroma tanah basah bercampur wangi bunga kelapa. Di hadapan Fathan, sebuah piring tembikar tanah liat baru saja diletakkan oleh seorang paman nelayan berwajah legam yang dipanggil Om Daud. Di atas piring itu, gundukan daging tuna merah delima berkilau memantulkan cahaya matahari siang.
Fathan membelalakkan matanya, mundur setengah jengkal dari bibir meja. "Tunggu sebentar, Halimah... Ikan ini tidak dimasak di atas wajan sama sekali? Ini... mentah total? Tanpa kompor? Ini sashimi Jepang yang nyasar ke Maluku?!"
Halimah yang sedang menuangkan air kelapa muda ke dalam tempurung tertawa kecil hingga lesung pipit di pipi kirinya merekah. "Aduh, Fathan e! Ngana pe omong itu kastingat betul! Sashimi Jepang apa kastingat begitu? Jauh sebelum restoran sushi di Tokyo pasang lampu neon deng harga jutaan yen, pelaut Moloku Kie Raha su makan gohu di atas perahu koli-koli! Nenek moyang kita mendayung ratusan mil, mancing tuna sirip kuning di laut dalam, iris pake parang tajam, lalu siram deng aer lemon cui!"
"Tapi bakterinya bagaimana? Standar higienisnya—" Fathan memprotes dengan insting higienis khas warga ibu kota yang terbiasa membaca label sertifikasi laboratorium.