Ikan Kuah Pala Banda dan Melodi Teluk Ambon Manise. Wilayah: Ambon, Maluku (Maluku-Papua). Pemandu: Beatrice Latuconsina (Penyanyi Jazz Bahari & Produser Musik Ar Rimbai Ambon)
Sebuah perjalanan rasa dan penyembuhan jiwa di mana aroma rempah purba Banda mencairkan keangkuhan intelektual, dan sebuah kaset rekaman lama menyatukan dua hati yang pernah terluka. Kuliner: Ikan Kuah Pala Banda Asam Segar & Kohu-kohu Sayur Ikan Cakalang Asap. "Satu darah, potong di kuku rasa di daging. Ale rasa beta rasa. Tanah Maluku ini mengajarkan bahwa luka orang lain adalah air mata kita juga."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
ADEGAN 1: CAKRAWALA TELUK DAN BAYANGAN SELAT
Di Bawah Lengkung Baja Jembatan Merah Putih. Lokasi: Pesisir Teluk Ambon, Menghadap Jembatan Merah Putih | Waktu: Senja Menjelang Gulita (17.45 WIT)
🍜 🍲 🍧
Senja di Teluk Ambon tidak pernah runtuh dengan tergesa-gesa. Ia mengendap pelan-pelan seperti sari rempah yang melarut ke dalam air didihan, menumpahkan warna tembaga bakar ke atas permukaan air laut yang tenang terlindung jazirah. Di atas kepala mereka, bentang kabel Jembatan Merah Putih membelah langit maghrib dengan keanggunan geometris yang dingin—sepasang pilar beton kokoh menancap di dasar karang, menghubungkan Leihitu dan Leitimur yang puluhan tahun silam pernah dipisahkan oleh sejarah kepedihan.
Fathan menyandarkan sikunya pada pagar besi pembatas dermaga kayu. Tangannya yang dingin meraba bibir cangkir seng berisi kopi rarobang yang mulai menghangat. Angin selat meniup helai rambutnya, namun tatapannya tersangkut jauh ke batas cakrawala, tempat perahu-perahu semang berlampu badai mulai beringsut keluar menuju perairan dalam. Ada sejenis sesak yang selalu datang menyergap dada Fathan setiap kali ia menatap perairan yang tenang: bayangan sebuah studio sempit di sudut Jakarta Timur tujuh tahun silam, tumpukan partitur yang berserakan di lantai, dan bantingan pintu yang menjadi gema terakhir dari seseorang yang tak pernah sempat ia mintai maaf.
"Ale pung jidat itu kalau dikerutkan terus bagitu, Jembatan Merah Putih ini bisa bengkok kalah tegang, tau ka seng?"
Sebuah suara alto yang renyah dan bergetar jernih memecah kabut pikiran Fathan. Beatrice Latuconsina melangkah mendekat dengan langkah seringan buih ombak. Di lehernya melingkar seuntai kalung manik kerang hitam, dan di bahunya tersampir tas kanvas kusam yang menyembulkan leher ukulele sopran berbahan kayu cengkih. Matanya yang bulat berpendar jenaka, menyimpan kehangatan matahari tropis yang tak pernah mengenal musim murung.
"Saya hanya sedang mengamati resonansi akustik teluk ini, Beatrice," elah Fathan datar, buru-peluru menegakkan postur tubuhnya demi menyembunyikan getar kegelisahan di sudut kelopak matanya. "Struktur teluk yang melengkung dan jembatan kabel gantung ini menciptakan lorong angin alami. Pantulan suaranya pasti menghasilkan delay harmonik yang unik."
Beatrice tertawa lepas—tawa yang begitu bulat dan polos sampai-sampai dua nelayan paruh baya yang sedang membenahi jaring di perahu samping mereka ikut tersenyum lebar. "Aduh mama e! Orang datang ke Ambon ini par cari damai deng rasa rindu, ale malah sibuk hitung rumus fisika bunyi! Ale pung otak ini su kena karatan air asin ka apa? Di Maluku sini, Fathan sayang, katong seng dengar suara pake mikrometer. Katong dengar suara pake dada!"
Gadis itu melompat ringan ke atas undakan batu karang penahan ombak, menunjuk ke arah gemerlap lampu kota yang mulai berpendar bagai taburan berlian di sekeliling busur teluk. "Lia itu jembatan. Dulu dorang bilang dua sisi teluk ini seng bakal bisa ketemu gara-gara luka lama yang talalu dalam. Tapi batu karang di bawah sana seng pernah punya dendam pada ombak. Katong bangun jembatan merah putih bukan cuma par lewat oto deng motor, tapi par sambung kembali urat nadi yang putus. Kenapa ale pung muka masih macam orang yang jembatannya su runtuh di masa lalu?"
Pertanyaan itu melesat tanpa peringatan, menembus dinding pertahanan intelektual yang selama bertahun-tahun dibangun Fathan dengan rapi. Jantung pemuda itu berdegup keras. Bagaimana mungkin seorang gadis pemandu yang baru ia kenal tiga hari mampu membaca retakan jiwa yang bahkan disembunyikannya dari keluarganya sendiri?
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
ADEGAN 2: KONSER FALS DAN BURUNG CAMAR YANG KALANG KABUT
Panggung Bambu Kafe Ar Rimbai di Bawah Lampu Badai. Lokasi: Kafe Tepi Pantai Ar Rimbai, Teluk Ambon | Waktu: Malam Permulaan (19.30 WIT)
🍜 🍲 🍧
Kafe Ar Rimbai berdiri tepat di bibir pantai berbatu kerikil hitam, di mana air pasang menjilat tiang-tiang kayu ulin dengan ritme yang lambat dan pasti. Tempat itu bukan kafe modern berdinding kaca; ia lebih menyerupai pendopo persaudaraan beratap rumbia dengan lampu-lampu badai minyak tanah yang digantung pada dahan pohon ketapang pantai. Sekelompok pemuda lokal sedang duduk melingkar di sudut panggung kecil, menepuk tifa dengan telapak tangan telanjang, mengiringi petikan gitar akustik berirama hawaiian-jazz yang mengalir manis seperti air nira aren.
Beatrice, yang baru saja selesai menyeruput teh jahe kayumanisnya, tiba-tiba meloncat ke atas panggung berlantai papan bambu. Tangannya menyambar mikrofon bertangkai besi kusam. Matanya berkilat nakal saat menatap Fathan yang duduk menyendiri di meja paling pojok.
"Sodara-sodara samua!" seru Beatrice dengan logat Ambon yang meliuk merdu. "Malam ini katong kedatangan tamu terhormat dari Jakarta! Katanya beliau ini pakar harmoni nada, tau rumus musik dari zaman Mozart sampai orkestra London! Mari katong undang Bung Fathan par naik panggung duet lagu Maluku deng beta!"
Tepuk tangan dan siulan gemuruh pecah dari meja-meja pengunjung. Beberapa tetua kampung berpakaian kemeja kotak-kotak menggedor meja kayu dengan antusias: "Maju jua kawan! Jang malu-malu! Satu nada par basudara!"
Darah Fathan berdesir panas. Ada gengsi yang tersengat. Selama ini ia memandang dirinya sebagai seorang purist seni, kurator dengan telinga absolut yang sanggup membedakan deviasi 2 hertz dalam simfoni. Ia berdiri, merapikan kerah kemeja linennya, dan melangkah naik ke panggung dengan dagu terangkat. 'Baiklah,' batin Fathan angkuh, 'akan kutunjukkan bagaimana teknik vokal klasik yang sesungguhnya diproduksi.'
Beatrice menyodorkan mikrofon sambil tersenyum menantang. Pemain tifa di sudut panggung mulai menabuh ketukan 4/4 khas Maluku yang berayun santai—tung-tak-tung-takkkkk—ritme bumi yang lahir dari deburan ombak dan ayunan dayung belang.
Fathan menarik napas diafragma dalam-dalam. Namun bukannya mengikuti ayunan ritme laut yang lentur itu, ia justru membuka rongga mulutnya lebar-lebar dan melepaskan vibrato opera Italia berlebihan dengan resonansi kepala yang kaku dan tegang:
---
"O SOOOO-LEEEEEE MIIII-OOOOO...! AMBOOOOON MA-NIIII-SEEEEEE...!"