Ikan Bakar Batu Bumbu Manokwari di Pesisir Teluk Doreri. Wilayah: Manokwari, Papua Barat (Maluku-Papua)
Kutipan Ikonik: "Hutan dan laut Papua ini bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan anak cucu yang harus kita jaga dengan nyawa."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
--- Bagian I: Pijakan Pertama di Tanah Matahari Terbit & Fragmen Memori yang Retak ---
🍜 🍲 🍧
Udara lembap yang menyergap ketika roda pesawat ATR-72 mencium landasan pacu Bandara Rendani bukanlah jenis kehangatan yang bersahabat. Ia terasa pekat, sarat oleh garam laut Teluk Doreri yang menguap dan aroma tanah basah dari lereng Pegunungan Arfak yang membisu di kejauhan. Bagi Fathan, setiap tarikan napas pertama di tempat baru bukanlah pertanda petualangan, melainkan desakan kecemasan yang mendengung di pelipisnya. Bau avtur yang beradu dengan terik matahari siang seketika melempar kesadarannya mundur sejauh enam tahun ke sebuah dermaga reyot di Selat Sunda—kala percikan api menyambar tangki bahan bakar pos konservasi, mengubah tawa malam hari menjadi jeritan yang terserap gulita air asin.
Fathan tersentak, meraba dadanya yang berdetak tak beraturan di balik kaus lapangannya yang lembap.
"Hei! Kau melamun macam patung selamat datang di pelabuhan saja, pace!"
Sebuah suara perempuan bernada tinggi, tegas, dan sarat gelak tawa memotong kabut memorinya. Fathan mengerjap. Di hadapannya, berdiri sosok jangkung dengan rompi kargo hijau zaitun bertuliskan bordir kuning emas: Ar Rimbai Conservation Taskforce. Rambut keritingnya disanggul rapi ke belakang dengan sebatang pensil kayu terselip di antaranya. Kulitnya cokelat madu terbakar matahari pesisir, dan sepasang matanya menatap tajam seperti burung pemangsa yang sedang menakar bobot buruannya.
"Naomi Mandacan?" Fathan memastikan dengan suara serak, refleks merapikan ransel ranselnya yang terasa sepuluh kali lebih berat dari biasanya.
"Bukan, sa ini penunggu pohon matoa," sahut perempuan itu sembari terbahak lepas, mengulurkan tangan yang kapalan namun kokoh. "Iyo, betul! Naomi Mandacan. Selamat datang di Manokwari, kota injil, tanah matahari terbit! Ko pu muka pucat sekali, Fathan. Kenapa? Mabuk udara kah, atau takut kitorang makan di sini?"
"Bukan begitu..." Fathan menelan ludah, mencoba tersenyum meski sudut bibirnya terasa kaku. "Hanya... sedikit silau."
"Silau dengan matahari atau silau dengan sa pu senyum manis?" canda Naomi tanpa tedeng aling-aling, langsung merampas tas jinjing Fathan tanpa bisa dicegah. "Sudah, simpan kau punya muka tegang di dalam koper. Di Manokwari ini, kalau hati belum terbuka, laut Doreri tra akan kasih kau rasa damai. Ayo, kitorang langsung meluncur ke Pasir Putih. Batu-batu sudah sa suruh adik-adik bakar dari dua jam lalu!"
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
--- Bagian II: Dendam Batang Kelapa Kering & Drama Celana Robek ---
🍜 🍲 🍧
Pesisir Pantai Pasir Putih membentang seperti busur panah perak yang memeluk tenangnya air Teluk Doreri. Namun, ketenangan mistis lanskap itu buyar seketika oleh bunyi benturan logam yang janggal.
*TUK!*
Suaranya tidak mirip kayu yang terbelah anggun, melainkan logam tumpul yang terjepit keputusasaan.
"Fathan e, kau pukul kayu atau sedang ketuk pintu surga?" teriak Naomi dari samping perapian batu kali. Tangannya sedang sibuk membalik daun pisang hutan pembungkus ubi jalar Arfak.
Fathan tidak menjawab. Giginya gemeretak. Urat-urat lehernya mencuat seperti akar beringin tua. Kedua tangannya mencengkeram erat gagang kayu kapak belah seberat tiga kilogram yang kini menancap sedalam empat sentimeter di sebuah batang pohon kelapa tumbang yang sudah memfosil oleh terpaan garam laut. Batang kelapa itu bukan kayu sembarangan; ia liat, berserat rapat, dan seolah menyimpan dendam purba terhadap orang kota mana pun yang sok tahu.
"Tenang... ini hanya... masalah sudut tumpuan fisika mekanika," dengus Fathan terputus-putus. Keringat sebesar butir jagung menetes dari dagunya, membasahi pasir putih di bawah sepatunya.
Fathan memasang kuda-kuda lebar. Ia menarik napas panjang, menggembungkan dadanya, lalu mendengus keras mirip atlet angkat besi Olimpiade kelas berat sebelum mengangkat barbel dua ratus kilogram. *HUUUUUFFF-HAAAA!*
Dengan tenaga pamungkas yang ia kerahkan dari otot paha sampai ke bahu, ia menyentak gagang kapak itu ke belakang. Batang kayu kelapa bergeming setengah milimeter pun tidak. Justru sebuah suara lain yang merobek keheningan pantai.
---
*KRRRRRR-SEEEKKK!*
---
Hening sejenak. Angin laut mendadak terasa dingin menyapu bagian samping paha kanan Fathan. Jahitan samping celana kargo loreng kebanggaannya telah menyerah kalah, koyak sepanjang lima belas sentimeter, memamerkan kain kantong saku bagian dalam yang berkibar pasrah ditiup semilir Pasir Putih.
Dua orang pemuda lokal Arfak yang sedang menyusun tumpukan batu andesit di dekat situ sontak menjatuhkan ranting kayu mereka. Mereka berpandangan, lalu memegangi perut masing-masing.