Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Papeda Ikan Gabus Danau Sentani

[partImg:[0]]

Papeda Ikan Gabus Danau Sentani & Goyang Yospan Mama-Mama. Gadis Pemandu: Martha Wally — Seniman Lukis Kulit Kayu Asei & Manajer Kreatif Ar Rimbai Jayapura

Kisah tentang lengkungan baja merah yang menolak patah, tarian pasar yang meremukkan keangkuhan urban, dan filosofi pohon rumbia yang rela dihancurkan demi memberi makan jiwa. Konflik Komedi: Fathan melompat-lompat menari Yospan sampai pinggangnya terkilir ringan dan diurut dengan minyak kelapa asli.

Percikan Romansa : Di atas bukit Jayapura memandang Danau Sentani yang berkilau di bawah rembulan, Martha memperlihatkan lukisan kulit kayu buatannya: siluet wajah Fathan yang sedang tersenyum memegang mangkok papeda. Kutipan Ikonik: "Sagu itu rela dihancurkan dan diseduh air mendidih agar bisa mengenyangkan banyak jiwa. Belajarlah berkorban seperti pohon sagu."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Bagian I: Merah Menyala di Atas Teluk Youtefa

Lengkungan Baja Merah dan Gemuruh Batin yang Terpenjara. Lokasi: Jembatan Youtefa, Kota Jayapura

🍜 🍲 🍧

Dua lengkungan baja merah itu melompat perkasa di atas permukaan Teluk Youtefa, bagai busur raksasa kembar yang dipancangkan oleh dewa-dewa laut untuk merapatkan dua daratan yang terpisah jurang samudra. Angin pasifik berembus asin dan basah, meniup helai-helai rambut Fathan yang berdiri terpaku di trotoar jembatan. Di bawah kakinya, riak air teluk memantulkan bayangan merah tembaga yang bergetar. Dan di dalam rongga dadanya, getaran yang sama—berkepanjangan, dingin, dan purba—kembali menuntut tebusan.

Selama berbulan-bulan melintasi pulau-pulau Nusantara, Fathan selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa perjalanan ini adalah ikhtiar intelektual: mengumpulkan aroma kuliner halal, mendokumentasikan kearifan bumbu lokal, dan menuliskan denyut tanah air. Namun di hadapan bentang air Jayapura yang biru pekat ini, kebohongan itu terkelupas perlahan seperti cat lapuk. Ia lari. Ia melarikan diri dari Jakarta, dari reruntuhan firma konsultasi yang dibangun bersama mendiang sahabatnya, dan terutama dari tatapan ayahnya yang selalu memandangnya sebagai wadah yang retak sebelum sempat diisi air penuh.

"Ko kalau melamun panjang macam begitu, nanti ikan puri di bawah teluk kira ada patung garam baru jatuh dari langit e!"

Suara itu renyah berderai, menembus deru angin teluk. Martha Wally melangkah menghampirinya dengan langkah seringan burung nuri kabare. Gadis berdarah Sentani itu mengenakan kemeja linen bergaris longgar dengan selempang noken bermotif spiral Yoniki tergantung di bahunya. Senyumnya lebar dan lapang, memperlihatkan deretan gigi putih yang kontras dengan kulit sawo matang yang eksotis. Di tangannya, sebuah tabung bambu tempat menyimpan gulungan kulit kayu bergoyang mengikuti irama langkahnya.

Fathan menghela napas, berusaha memaksakan senyum sopan khas pria metropolitan yang terlatih menyembunyikan kerapuhan. "Aku cuma takjub, Martha. Jembatan Youtefa ini... megah sekali. Merahnya seperti menolak menyerah pada luasnya lautan di sekitarnya."

Martha berhenti di sampingnya, meletakkan kedua telapak tangannya di pagar besi yang hangat terpanggang matahari siang. Matanya yang jernih memandang jauh ke arah Tanjung Kayu Batu. "Baja merah ini memang gagah, Fathan. Tapi ko tahu kenapa jembatan ini dibuat melengkung tinggi? Bukan cuma supaya kapal nelayan bisa lewat di bawahnya. Orang tua-tua di sini bilang, tanah dan air itu punya napas sendiri. Kalau ko bikin jembatan lurus kaku tanpa lengkungan yang memberi ruang pada angin teluk, gelombang pasang akan patahkan dia punya tiang dalam sekejap."

Kata-kata itu meluncur tanpa beban dari bibir Martha, namun bagi Fathan, kalimat itu mendarat tepat di ulu hati. Ia memandang siluet jembatan merah yang membelah teluk. Bukankah hidupnya selama ini persis seperti balok besi yang terlalu kaku? Ia selalu menuntut kesempurnaan mutlak: jadwal yang tak boleh meleset sedetik pun, janji yang tak boleh bergeser, dan kegagalan yang tak terampuni. Ketika badai krisis lima tahun lalu menghantam perusahaannya dan merenggut nyawa sahabatnya dalam keputusasaan, Fathan tidak melengkung mengikuti takdir. Ia patah di dalam, meski raganya tetap berdiri tegak dengan topeng senyum profesional.

"Kenapa ko diam lagi?" Martha menoleh, alisnya terangkat jenaka. "Ado, jangan pasang muka tegang macam orang mau bayar denda adat begitu kah! Jayapura ini kota matahari terbit. Kalau ko bawa duka dari barat kemari, buang su ke laut Youtefa biar dimakan kepiting bakau. Mari, perut su mulai demo. Tong dua harus ke Pasar Youtefa sebelum mama-mama tutup lapak!"

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Bagian II: Pesta Keringat Pasar Youtefa & Goyang Yospan yang Terkilir

Ketika Kekakuan Kaum Urban Ditaklukkan oleh Gemasnya Mama-Mama Papua. Lokasi: Pasar Tradisional Youtefa, Abepura


Pasar Tradisional Youtefa di Abepura adalah orkestra kehidupan yang riuh, basah, dan membakar semangat. Aroma rempah, tumpukan sirih pinang, sayur lilin, tauge, dan gundukan keladi ungu beradu dengan harum minyak goreng panas dari wajan penjual keripik keladi gurih. Begitu melangkah masuk melewati lorong-lorong kayu beralas terpal, suasana hangat langsung menyergap. Dari sudut los penjual umbi-umbian, terdengar petikan ukulele dan tabuhan tifa bersahut-sahutan dari sebuah pelantang suara jinjing tua.

Irama lagu Yosim Pancar yang rancak menghentak udara. Di tengah lorong, empat orang mama Papua berperawakan gempal mengenakan daster daster bunga-bunga cerah sedang bergoyang lincah. Kaki mereka melompat ke depan, berputar setengah lingkaran, lalu mengayunkan pinggul dengan kelenturan yang mencengangkan bagi tubuh mereka yang subur. Di garis terdepan, seorang mama bertubuh paling tambun dengan noken melingkar di dahi tertawa terpingkal-pingkal sambil melambai-lambaikan ikat kangkung.

"He Martha anak mantu! Sini bawa ko pu teman ganteng itu ikut goyang dulu!" seru Mama Ester, sang ratu los keladi, suaranya menggelegar mengalahkan musik.

"Aduh, Mama Ester! Ini ada tamu dari Jakarta, dia mau cari bumbu ikan gabus Sentani!" sahut Martha sambil terkekeh.

"Tra ada urusan bumbu sebelum badan goyang! Di tanah Papua ini, orang yang tra bisa Yospan itu tanda darahnya beku! Ayo Kaka, masuk sini!" Mama Ester sudah melangkah maju dengan gesit, meraih pergelangan tangan Fathan dengan cengkeraman kokoh seorang perempuan yang terbiasa mengangkat karung sagu lima puluh kilo.

Fathan terperangah. Naluri eksekutifnya mendadak berteriak panik. "T-tapi Mama, saya tidak bisa menari... sepatu saya licin, Mama!"

Lihat selengkapnya