Ikan Mujair Kuah Kuning dan Pelukan Hiu Paus Teluk Cendrawasih. Wilayah: Nabire, Papua Tengah (Maluku-Papua). Gadis Pemandu: Yohana Rumkabu (Pemandu Konservasi Kwatisore & Relawan Ar Rimbai)
Kutipan Ikonik: "Raksasa samudra sebesar ini hanya memakan ikan kecil tanpa menyakiti siapa pun. Kekuasaan besar seharusnya melindungi yang lemah, bukan menindasnya."
Eksplorasi emosional di perairan Kwatisore: perjumpaan mendebarkan antara pelarian jiwa dari riuh metropolitan Jakarta, keagungan santun hiu paus raksasa, dan kehangatan kuah kuning yang menguak rahasia takdir keluarga puluhan tahun silam.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Babak I: Riang Subuh di Teluk Cendrawasih
Pelarian dari Bayang-Bayang Kelam Menuju Zamrud Kwatisore. Waktu: 05.15 WIT — Remang Fajar Keperakan | Lokasi: Perairan Kwatisore, Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire
🍜 🍲 🍧
Fajar di Teluk Cendrawasih tidak pernah terburu-buru membangunkan dunia. Cahayanya merambat lambat laksana tumpahan minyak zaitun di atas sutra kelabu—mengikis kepekatan malam Nabire dengan gradasi nila, toska tua, lalu menjelma hamparan zamrud yang berkilau hening. Di kejauhan, siluet Pegunungan Weyland berdiri kukuh berselimut selendang kabut putih basah, tegak membisu seolah menjadi saksi bisu atas segala rahasia tanah Papua Tengah yang belum tuntas dianggit manusia.
Namun di atas perahu semang kayu yang digerakkan motor tempel berkekuatan lima belas tenaga kuda, dada Fathan sama sekali tidak seanteng permukaan air. Tangannya mencengkeram erat pinggiran lambung perahu yang bergetar kasar, hingga buku-buku jarinya memutih kaku. Setiap kali percikan air laut beraroma yodium asin membasahi jaket parasut lusuhnya, benaknya terseret mundur ribuan mil ke sebuah gedung pencakar langit berpendingin ruangan beku di bilangan Sudirman, Jakarta.
Di sana, setahun silam, bistro impiannya dirampas tuntas oleh tanda tangan palsu Reno—sahabat yang ia percaya laksana saudara kandung sendiri. Pengkhianatan itu bukan sekadar membangkrutkan tabungan sepuluh tahun jerih payahnya, melainkan meremukkan martabatnya hingga berkeping-keping. Fathan masih mengingat jelas tatapan belasan karyawan dapur yang menatapnya dengan pandangan nanar ketika palu pengadilan mengetuk pailit. Rasa bersalah itu menjelma parasit berakar panjang yang mencekik tenggorokannya setiap malam; rasa kerdil seorang pria yang merasa gagal melindungi orang-orang yang bergantung padanya.
"Adooo, Kaka Fathan! Ko melamun apa lagi di haluan perahu macam patung selamat datang di pelabuhan begitu kah?"
Sebuah suara renyah dan lantang membuyarkan lamunan kelam Fathan. Suara itu meluncur dari bibir Yohana Rumkabu, gadis pemandu konservasi berusia dua puluh empat tahun yang berdiri santai di dekat kemudi. Rambut ikal lebatnya yang dikepang rapi bergoyang seirama embusan angin laut, dan senyum lebarnya memperlihatkan deretan gigi putih cemerlang yang kontras dengan kulit cokelat tembaga terbakar matahari. Di lehernya tergantung peluit oranye dan kalung manik-manik tradisional Teluk Cendrawasih.
"Ko muka tegang sekali, Kaka! Macam orang mau ikut tes wawancara jadi bupati di Nabire saja!" lanjut Yohana terbahak geli sambil menunjuk wajah pucat Fathan. "Tarik napas panjang dulu, Bos. Buang itu beban Jakarta di air asin. Di Kwatisore ini, laut tra pernah simpan dendam pada orang yang mau belajar merendah."
Fathan menelan ludah yang terasa kesat, memaksakan senyum tipis yang tampak lebih mirip seringai kram otot. "Saya cuma... belum terbiasa dengan ketenangan ini, Yohana. Di Jakarta, kalau suasana hening begini, biasanya artinya tagihan kontraktor sebentar lagi jatuh tempo."
"Aih, Jakarta lagi, Jakarta lagi!" sela Yohana sambil memutar bola matanya jenaka. "Ko sudah di Tanah Papua Tengah, Kaka Fathan! Di sini, mata uang tertinggi itu persaudaraan dan napas yang masih ko hela pagi ini. Lihat di depan itu, bagan Pace Yakob sudah menyala lampunya. Hari ini ko tra boleh jadi penonton penakut lagi. Hari ini ko harus berani salam langsung sama sang penguasa teluk!"
Di kejauhan, kerangka bambu dan kayu merbau bagan terapung—pelataran nelayan penangkap ikan puri—mulai tampak mengapung megah di tengah birunya perairan Kwatisore. Asap tipis mengepul dari sudut geladak bagan, membawa aroma sangit kayu bakar yang menjanjikan kehangatan pertama di pagi yang gigil.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Babak II: Nabi Yunus Gadungan & Tangga Bambu Bagan