Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Udang Selingkuh Saus Pedas

Udang Selingkuh Saus Pedas Manis & Hipere (Ubi Manis Bakar)

Udang air tawar langka endemik Sungai Baliem yang memiliki tubuh udang namun capit besar berbulu seperti kepiting (sehingga dinamai udang selingkuh), dimasak dengan saus pedas manis dan dimakan bersama hipere (ubi bakar manis lembut).

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan 1: Celah Karst Jayawijaya dan Rongga Kosong di Dada

🍜 🍲 🍧

Sayap pesawat baling-baling Pilatus Porter itu bergetar hebat saat membelah celah sempit di antara dinding batu gamping purba Pegunungan Jayawijaya. Di luar jendela kabin yang berembun pekat, kabut putih bergulung seperti kain kafan raksasa, sesekali menyibak kilau dingin dinding tebing hitam berlumut dan kejauhan gletser Puncak Trikora yang kian menyusut. Setiap sentakan turbulensi menukikkan lambung pesawat beberapa puluh meter ke dalam palung udara tipis berketinggian seribu enam ratus meter di atas permukaan laut. Penumpang lain—tiga mama Papua bergaun katun kusam dengan noken anggrek menjuntai dari dahi mereka—tampak tenang mengunyah sirih pinang. Sementara Fathan mencengkeram sabuk pengamannya hingga buku-buku jarinya memutih, merasakan asam lambung naik membakar kerongkongan.

Ada ironi getir yang merayap di benak Fathan. Selama empat tahun terakhir di Jakarta, ia terbiasa mengendalikan kalkulasi risiko: matriks burn rate, burn multi-currency, putaran pendanaan Seri A, dan algoritma penargetan pengguna yang presisi. Namun di celah langit pegunungan tengah Papua ini, tak ada satu pun slide presentasi PowerPoint yang mampu mencegah logam kecil berbaling-baling tunggal ini hancur berkeping jika hembusan angin ngarai memutuskan untuk membanting mereka ke tebing batu.

Dan ponselnya? Benda pipih seharga dua puluh juta rupiah itu terbaring mati suri di dasar saku jaketnya. Tak ada sinyal seluler. Tak ada gelembung notifikasi Slack merah menyala. Tak ada rentetan email dari dewan komisaris yang menuntut revisi target triwulanan. Dan yang paling menyayat hati: tak ada lagi pesan manis penuh kepura-puraan dari Clarissa—perempuan yang sebulan lalu ia temukan di pelataran parkir bawah tanah gedung perkantoran segitiga emas Senopati, bergelayut manja di lengan seorang investor ventura berompi mahal yang baru saja menyuntikkan dana ke perusahaan rintisan kompetitor.

Saat roda pendarat menyentuh aspal pendek Bandara Wamena dengan decitan kasar yang mengguncang isi kepala, Fathan menghela napas panjang yang terasa menggigit. Begitu pintu kabin terbuka, udara dingin beraroma tanah basah, jelaga kayu bakar, dan lumut pinus langsung menyergap paru-parunya. Suhu siang itu tak lebih dari tujuh belas derajat celcius, namun rasa dingin yang merangsek ke rusuk Fathan terasa bersumber langsung dari rongga kosong di dalam dadanya sendiri.

"Hormat, kaka Fathan! Ko masih bernapas to?"

Suara jernih itu terdengar memecah raungan mesin baling-baling yang baru saja dimatikan. Seorang perempuan muda berdiri di tepi pembatas apron kayu, melambaikan tangan dengan seringai jenaka. Ia mengenakan jaket parka tebal merah marun yang agak kebesaran, sepatu bot berlumpur kering, dan stetoskop yang ujungnya menyembul dari saku depan jaketnya berdampingan dengan rajutan noken benang kulit kayu. Wajahnya khas suku Dani—tulang pipi tegas, mata berbinar cerdas, dan kulit sawo matang hangat yang memancarkan ketegaran pegunungan.

"Dokter Kresna Tabuni?" tanya Fathan ragu, menyeret tas ranselnya yang berdebu.

"Bukan, sa ini penunggu jurang Baliem yang menyamar jadi dokter puskesmas," sahutnya enteng sambil tertawa renyah, mengulurkan tangan yang hangat menggenggam jemari Fathan yang sedingin es batu. "Aih kaka, muka pucat macam kapur tulis begitu! Macam orang habis lihat hantu di atas awan e. Mari, sa antar ko cari makan dulu sebelum ko pingsan di tanah Wamena. Ar Rimbai su titip pesan, ko harus dijaga baik-baik supaya tra hanyut di Sungai Baliem."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan 2: Di Balik Asap Dapur Baliem dan Misteri Capit Selingkuh

🍜 🍲 🍧

Warung makan kayu berdinding papan pinus itu berdiri di tepian Sungai Baliem yang airnya menderas kecokelatan membawa sedimen lumpur pegunungan. Asap tebal mengepul dari sudut dapur terbuka, aroma tumisan cabai rawit pedalaman, bawang merah hutan, dan uap manis arang membakar selera makan Fathan yang sempat terkubur berhari-hari.

Dua puluh menit kemudian, sebuah piring tanah liat lebar mendarat di atas meja kayu kasar di depan Fathan. Fathan terbelalak. Di atas piring itu, berselimut lumuran saus merah pekat berkilau berminyak dengan potongan cabai dan perasan jeruk nipis, teronggok lima ekor monster air tawar berukuran segenggam tangan dewasa.

"Dokter... ini hewan hasil mutasi radiasi atau eksperimen laboratorium silang yang kabur?" bisik Fathan dengan nada ngeri bercampur kagum, mengamati capit binatang itu yang luar biasa kekar dan berduri tumpul.

Kresna yang baru saja duduk sambil merapikan tali nokennya langsung tergelak hingga menepuk meja. "Mutasi apa e, kaka Fathan! Ini makanan paling terhormat di Lembah Baliem. Namanya Udang Selingkuh."

"Udang apa?" Fathan mendekatkan wajahnya, nyaris tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Udang... selingkuh?"

Lihat selengkapnya