Sate Rusa Tepi Batas Negeri dan Sabana Luas Titik Nol Kilometer. Wilayah : Merauke, Papua Selatan (Maluku-Papua)
Melintasi Sabana Emas Wasur, Berdamai dengan Bayang-bayang Masa Lalu di Tapal Batas Sota. “Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau. Sekarang lagu itu bukan sekadar lirik buku sekolah bagimu, melainkan detak jantungmu sendiri.”— Dialog Elizabeth Gebze di Tugu Titik Nol Sota
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan 1: Menembus Savana Wasur dan Menara-Menara Musamus
Lokasi: Savana Taman Nasional Wasur, Merauke | Suasana: Sunyi, luas membentang, magis, dan sarat pertanyaan eksistensial
🍜 🍲 🍧
Jalanan tanah merah itu membentang lurus seperti belahan rambut yang ditarik penggaris gaib, membelah hamparan savana Taman Nasional Wasur sejauh mata sanggup mengadu tatap dengan cakrawala. Angin tenggara berembus kencang, membawa partikel debu halus dan aroma tajam daun kayu putih yang teremas terik matahari. Tak ada gedung bertingkat, tak ada dengung klakson bajaj, tak ada kepulan jelaga knalpot yang selama dua puluh delapan tahun mengendap di saluran pernapasan Fathan di Jakarta.
Di sini, yang ada hanyalah ruang kosong mahaluas. Savana keemasan yang diselingi tegakan pohon bus (*Melaleuca cajuputi*) dengan kulit putihnya yang mengelupas seperti perkamen kuno. Dan di antara padang rumput itu, menjulang ratusan gundukan tanah liat kecokelatan setinggi tiga hingga lima meter. *Musamus*. Istana-istana rayap katedral yang tegak menantang langit seperti ribuan nisan raksasa para pujangga purba.
"Kau melamun lagi, Fathan!" Suara melengking jernih itu memecah derau angin. Elizabeth Gebze memacu kuda patrolinya mendekat. Gadis ranger suku Marind itu duduk tegak di atas pelana dengan keanggunan seorang atlet berkuda sejati. Rambut ikalnya dikepang rapi ke belakang leher, kulit tembaganya bercahaya disiram pendar mentari sore, dan sepasang mata elangnya memancarkan ketegasan yang hanya dimiliki orang-orang penjaga tapal batas.
"Bukan melamun, Beth," balas Fathan sambil meringis, berusaha memperbaiki posisi duduknya di pelana kulit yang terasa semakin keras memukul tulang ekornya. "Gue cuma heran. Kenapa rayap di Merauke bisa bikin apartemen lima meter tanpa IMB, sementara anak muda Jakarta harus nyicil tiga puluh tahun buat studio apartemen dua puluh satu meter persegi di pinggiran Depok?"
Tawa Elizabeth meledak renyah, mengguncang lencana perunggu ranger konservasi di kerah kemeja khakinya. "Adooo, kau pung perbandingan tra masuk di akal sama sekali! Rayap Wasur itu kerja pakai cinta dan ludah sabar berpuluh tahun. Tidak ada pungli, tidak ada kontraktor lari bawa uang semen! Musamus itu rumah yang kuat karena mereka bikin dari apa yang mereka punya di tanah ini, bukan dari gengsi!"
Fathan tersenyum kecut, tapi kata-kata Elizabeth menancap tepat di ulu hatinya. *Membangun dari apa yang ada di tanah, bukan dari gengsi.* Bukankah seluruh perjalanan panjangnya melintasi Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Flores, Maluku, hingga mendarat di tanah rawa Papua Selatan ini adalah upaya putus asa melarikan diri dari puing-puing rasa bersalah? Tiga tahun lalu di Jakarta, ketika Elang—kakak kandungnya, pelindungnya, mentor hidupnya—terbujur kaku di ruang ICU akibat leukimia ganas, Fathan justru sedang sibuk mengejar tenggat proposal korporat yang tak berharga. Fathan tidak ada di detik-detik napas terakhir Elang. Dan sejak hari pemakaman basah di Tanah Kusir itu, bayang-bayang Elang selalu mengikutinya bagai kabut beracun.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan 2: Tragedi Kuda Baron dan Diplomasi Wortel Selandia Baru
Lokasi: Tepian Kubangan Rawa Dangkal Wasur | Suasana: Kocak, panik, kacau menggemaskan, sekaligus meredakan ketegangan jiwa
🍜 🍲 🍧
Tragedi itu dimulai tepat ketika mereka mendekati bibir rawa musiman tempat kawanan rusa timor (*Rusa timorensis*) biasa berkubang. Baron—kuda jantan cokelat gelap berbobot hampir empat ratus kilogram yang ditunggangi Fathan—tiba-tiba memasang kuda-kuda kokoh bagai patung perunggu monumen kemerdekaan. Telinganya bergerak ke belakang, ekornya mengibas gusar, dan keempat kakinya memaku tanah liat berdebu.
"Gih, maju, Baron! Ayo dong, sobat," bujuk Fathan sambil menepuk-nepuk leher berotot kuda itu. "Kita masih jauh dari pos Sota, nih. Masa ranger magang lu ini jalan kaki?"
Baron mengeluarkan dengusan panjang bergetar: *Pffffrrrrt!* Kuda itu tidak melangkah maju satu sentimeter pun. Justru sebaliknya—seolah memiliki transmisi otomatis berpresisi tinggi, Baron mulai melangkah mundur. Satu langkah ke belakang. Dua langkah ke belakang.
"Eh, eh! Jangan mundur, Bos! Woy, Baron, perseneling lu salah masuk gigi mundur!" seru Fathan mulai panik. Tangannya menarik tali kekang, tetapi Baron bergeming. Kuda itu malah mempercepat gerak mundurnya dengan ritme mantap.
"Fathan! Lepas tali kekang sedikit! Jangan ditarik tegang begitu, dia rasa kau tahan dia pung napas!" teriak Elizabeth dari punggung kudanya, berusaha menahan tawa yang sudah bergetar di tenggorokan.
Fathan tidak mendengar lagi. Di belakang ekor Baron, terbentang kubangan rawa dangkal berwarna kelabu pekat—tempat favorit kawanan rusa liar mengubur diri dari sengatan lalat sabana. Bau lumpur gambut yang khas menyengat hidung.
"Ayo kudaku yang tampan, kita pulang ke Jakarta nanti gue belikan wortel impor dari Selandia Baru!" pekik Fathan histeris dengan aksen Betawi yang tiba-tiba keluar sempurna tanpa sensor. "Wortel organik! Diimpor naik pesawat kargo kelas bisnis! Jangan mundur ke rawa, Baron, setelan celana kargo gue baru dicuci di hotel!!"
Baron sepertinya adalah kuda patriotik yang anti produk impor. Mendengar janji borjuis itu, sang kuda justru mengambil dua langkah mundur ekstra panjang, lalu... *BLUUUSHHH!*