
Kepiting Saus Papua Megah dan Pintu Gerbang Surga Raja Ampat. Wilayah: Sorong, Papua Barat Daya (Kawasan Timur Maluku-Papua). Pemandu: Olivia Salossa. Kuliner: Kepiting Saus Papua Super Jumbo (1,5 kg) & Lontong Cakalang Rempah. Kutipan Ikonik: "Tiga puluh delapan ibu kota telah kau jejaki. Namun perjalanan terpanjang adalah perjalanan pulang ke dalam hatimu sendiri."
Penutup epik ekspedisi keliling Nusantara: saat arogansi gym metropolitan pecah oleh capit kepiting bakau seberat 1,5 kg, dan sebuah jurnal usang membuka rahasia terbesar tentang rekonsiliasi seorang ayah di Selat Dampier.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Bagian I: Lengkung Noken dan Angin Bergaram di Tanah Mambruk
🍜 🍲 🍧
Pintu geser otomatis terminal kedatangan Bandara Domine Eduard Osok membuka perlahan, mengembuskan aroma khas yang tak bisa dipalsukan oleh pendingin ruangan mana pun: paduan garam laut basah, getah mangrove yang terbakar matahari khatulistiwa, dan wangi tanah basah rimba Kepala Burung.
Fathan Ar Rimbai mematung di selasar berlantai marmer abu-abu. Kepalanya menengadah, terhipnotis oleh bentangan arsitektur atap terminal yang melengkung raksasa, mengombinasikan rangka baja kokoh dengan anyaman estetika yang meniru noken—kantung rajut pusaka perempuan Papua. Di matanya, lengkungan itu tampak seperti rahim kosmis yang menaungi orang-orang berlelah-lelah; sebuah kantung purba yang siap menampung keluh kesah para musafir yang tersesat.
Fathan meraba saku celana linennya. Jemarinya menyentuh layar ponsel pintar yang mati total karena kehabisan baterai. Anehnya, ada rasa gentar yang mendesak dadanya saat layar hitam itu tak lagi menampilkan grafik indeks saham, surel kantor SCBD, atau notifikasi pesan investor. Selama tujuh bulan terakhir menjeajahi tiga puluh tujuh ibu kota provinsi dari ujung barat Sabang hingga pelosok Nusa Tenggara, ia selalu merasa sedang lari dari sesuatu. Atau mungkin, sedang diburu oleh sesuatu yang ia ciptakan sendiri.
"Selamat datang di Sorong, Fathan. Kota minyak, kota garam, pintu gerbang surga yang tidak pernah meminta izin pada peta mana pun untuk menjadi megah."
Suara itu bening, bervolume mantap, dan sarat wibawa.
Fathan menoleh. Seorang perempuan berdiri beberapa langkah darinya, memancarkan pesona yang menuntut ketundukan instingtif. Olivia Salossa. Direktur Eksekutif Ar Rimbai Creation Wilayah Timur sekaligus Kurator Bahari yang sepak terjangnya melegenda di lingkar pelayaran internasional. Ia mengenakan kemeja katun putih bersahaja yang dibalut rompi tenun ikat Papua bermotif tifa dan burung cenderawasih, dipadu celana kulot hitam yang jatuh tegas di atas sepatu pantofel kulit lokal. Rambut ikalnya disanggul modern dengan tusuk konde kayu hitam Papua berukir motif ombak Raja Ampat. Sorot matanya cokelat pekat, memantulkan ketenangan samudra dalam yang tak terusik badai permukaan.
"Olivia Salossa," sapa Fathan, mengulurkan tangan sambil berusaha menegakkan punggungnya yang pegal sehabis penerbangan subuh dari Ambon. "Gue... Fathan. Luar biasa, lo sendiri yang jemput ke apron?"
Olivia menyambut jabatan tangan Fathan dengan genggaman hangat namun bertenaga. Ada senyum tipis di sudut bibirnya—senyum yang menakar isi kepala seseorang tanpa menghakimi.
"Kitorang di timur tidak pernah membiarkan tamu yang sudah mengelilingi tiga puluh tujuh pintu negeri ini berdiri sendirian macam orang hilang, Fathan," ujar Olivia dengan intonasi khas Sorong yang renyah dan ritmis. "Apalagi ko pu wajah itu pucat sekali. Persis kepiting karang yang kelamaan kena angin buritan. Kenapa? Jakarta masih berisik di dalam ko pu kepala?"
Pertanyaan itu terasa ambigu, menyusup tepat di celah pertahanan batin Fathan. Kalimat Olivia sederhana, namun bagi Fathan terdengar seperti bedah psikologis tanpa anestesi.
"Bukan Jakarta," gumam Fathan pelan, mengalihkan pandangan pada jajaran pohon pinang di seberang pelataran parkir bandara. "Hanya... perasaan aneh. Ini kota ke-38. Titik terakhir ekspedisi. Harusnya gue merasa menang. Tapi rasanya kayak ada lantai yang tiba-tiba hilang dari bawah kaki gue."
"Bagus kalau begitu," balas Olivia tenang, melangkah mendahului Fathan menuju mobil jip putih yang telah menunggu di depan selasar. "Itu tanda bahwa tanah ini sedang menanggalkan alas kaki kebohonganmu. Mari. Sebelum kita naik kapal phinisi ke Selat Dampier, lidahmu harus disumpah dulu oleh penguasa sejati perairan Sorong."
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Bagian II: Tragedi Capit Monster dan Cangkir Jus Matoa
🍜 🍲 🍧
Restoran itu bertengger di atas tiang-tiang kayu besi di tepi Selat Sele, membiarkan deburan ombak berbusa menghantam pilar-pilar di bawah lantai papan. Asap mengepul tebal dari dapur terbuka, membawa senyawa aroma yang membuat lambung Fathan seketika berdengung lapar: rempah tumis kemangi hutan, cabai rawit merah tumbuk, gurih santan kental yang terkaramelisasi, dan aroma laut pekat yang hanya bisa dihasilkan oleh tangkapan liar berbobot raksasa.
Dua orang pelayan berotot kekar meletakkan sebuah piring gerabah berdiameter setengah meter di tengah meja kayu jati mereka.
Fathan terkesiap hingga tubuhnya memundur beberapa senti.
Di atas piring itu bertengger sesosok kepiting bakau monster (*Scylla serrata*) seberat satu setengah kilogram. Tubuhnya berselubung saus merah oranye yang berkilauan berminyak, dengan anyaman serabut telur halus yang menyelimuti sela-sela cangkang seperti jaring emas para dewa laut. Asapnya mengepul wangi, menyemburkan uap serai, perasan jeruk nipis hutan, serta tusukan biji pala Fakfak yang hangat. Di samping piring raksasa itu, tersaji potongan lontong padat pulen yang telah dilumuri abon cakalang asap berbumbu rempah kuning.
"Ini... kepiting atau dinosaurus muara, Liv?" Fathan menelan ludah, menatap capit raksasa berurat tajam yang ukurannya nyaris sebesar lengan bawah manusia dewasa.
"Kepiting Saus Papua Super Jumbo," ucap Olivia bangga seraya menuangkan jus matoa dingin berwarna merah muda pudar ke cangkir kacanya. "Bumbu saus telur serabutnya kitorang bikin dari rempah pesisir, cabai hutan, dan telur ayam kampung yang ditarik saat kuah mendidih hingga membentuk serat ombak. Dagingnya manis, padat macam daging kelapa muda, tapi gurihnya menembus tulang. Dan ini—" Olivia menyodorkan tang pemecah cangkang dari besi tempa tebal, "—senjatamu. Di Sorong, kalau ko tidak bisa pecahkan capit kepiting sendiri, ko dianggap belum cukup dewasa untuk bicara cinta apalagi bicara bisnis."
Fathan tersenyum miring. Naluri maskulinitas metropolitan yang telah ia latih di pusat kebugaran elite bilangan Senopati seketika mendidih. Ia menggulung lengan kemeja linennya hingga siku, menampakkan urat lengannya yang kekar dengan seringai jemawa.
"Tolong ya, Liv. Jangan meremehkan alumni gym termahal di Jakarta," dengus Fathan pongah. "Gue latihan deadlift seratus lima puluh kilo tiap Selasa pagi. Capit kepiting purba kayak begini mah cuma butuh teknik sudut leverage dan kompresi mekanik murni. Perhatikan baik-baik."
Olivia hanya menopang dagu dengan satu tangan, alisnya terangkat sebelah dengan binar mata geli. "Yo, silakan Tuan SCBD. Tunjukkan ko pu kekuatan barbel itu."
Fathan mencengkeram capit kanan monster itu dengan tangan kiri, lalu menjepitkan tang besi tempa sekuat tenaga pada persendian cangkang yang paling tebal. Otot bisepnya menegang. Rahangnya mengeras. Ia mengerahkan seluruh tenaganya ke gagang tang.