
Bintang di Atas Laut Banda: Telepon Tengah Malam Sang Ayah Konglomerat
"Dulu aku mengira duniaku seluas penthouse lantai 68. Ternyata duniaku sekecil sangkar burung sampai aku berani melangkah ke samudra ini."
Ransum Ikan Kering Asap & Kopi Jahe Hangat di Dek Kapal. Bekal sederhana ikan kering yang dibakar di atas kompor minyak kapal feri dan secangkir kopi jahe manis hangat di tengah angin samudra terdalam di Indonesia.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan I: Palung Weber dan Api Dingin Samudra
Pendar Bioluminesensi di Haluan Kapal Pelni KM Sinabung, Waktu: Pukul 23.48 WIT — Tengah Malam di Tengah Laut Banda | Lokasi: Haluan Dek 7, KM Sinabung, Perairan Laut Banda, Maluku
🍜 🍲 🍧
Angin malam Laut Banda tidak pernah sekadar bertiup; ia menampar, menelusup ke balik serat jaket parka kusam Fathan dengan aroma garam pekat, sisa pembakaran solar kapal, dan jejak samar buah pala kering dari Kepulauan Banda Neira yang telah empat jam lalu lenyap di garis cakrawala. Di bawah lunas kapal feri Pelni KM Sinabung berbobot empat belas ribu ton itu, terbentang Palung Weber—cekungan purba sedalam tujuh ribu empat ratus meter, tempat matahari tak pernah sanggup menyentuh dasar bumi dan ikan-ikan berwajah aneh hidup dalam kekaburan abadi.
Fathan menyandarkan dadanya pada pagar besi haluan yang basah oleh buih laut. Tangannya yang dulu mulus terbiasa memegang pena berujung emas di ruang berpendingin udara Sudirman, kini kasar, kapalan di sela jemari, dan dihiasi goresan karang dari pesisir Raja Ampat. Namun di matanya yang lelah, ada sesuatu yang tidak pernah ia temukan di ruang rapat direksi: hidup yang berdenyut telanjang.
Setiap kali haluan kapal menghantam ombak Samudra Maluku setinggi dua meter, air laut yang terbelah meledak bukan hanya menjadi busa putih, melainkan taburan permata neon berwarna biru elektrik. Ribuan juta mikroorganisme *Noctiluca scintillans*—plankton penghasil cahaya—terkejut oleh hantaman besi kapal dan memancarkan pendar bioluminesensi dingin. Seperti galaksi Bimasakti yang ditumpahkan langsung ke dalam kuali obsidian cair.
"Dulu aku mengira duniaku seluas penthouse lantai 68," gumam Fathan pelan, suaranya ditelan desau ombak yang menggulung ke lambung kapal. "Ternyata duniaku sekecil sangkar burung sampai aku berani melangkah ke samudra ini."
Di saku celana kargonya yang lembap, sebuah benda bergetar kasar dengan dengungan janggal yang memecah kesunyian laut lepas. Bukan getaran halus ponsel pintar tipis dengan bingkai titanium, melainkan ponsel satelit Iridium tua milik mualim satu yang disewanya dengan dua pak rokok kretek. Layar monokrom hijau kekuningan itu menyala berkedip, menampilkan sebuah nomor acak terenkripsi yang terlalu ia kenal: jalur darurat Gedung Ar Rimbai Tower, Jakarta Pusat.
═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═
Adegan II: Kresek Satelit, Gengsi Triliuner, dan Aroma Terasi
Konfrontasi Tengah Malam via Saluran Satelit Enkripsi. Waktu: Pukul 00.02 WIT (22.02 WIB di Sudirman, Jakarta) | Lokasi: Dek Navigasi Samping / Ruang Kerja Lantai Puncak Ar Rimbai Tower
🍜 🍲 🍧
Fathan menekan tombol hijau bertekstur karet tebal dan menempelkan antena tebal itu ke telinganya. Desis statis frekuensi tinggi menyeruak, diiringi bunyi 'bip-bip' khas satelit orbit rendah.
"Halo? Mas Fathan?! Ya Tuhan, akhirnya tembus juga!" Suara panik berbisik cepat di seberang samudra. Itu Sarah Amanda, sekretaris eksekutif kantor pusat. Ada dengus napas terengah di suaranya. "Saya menelepon dari tangga darurat lantai 45, Mas! Pak Broto... beliau ada di ruangannya, mondar-mandir sejak jam sembilan malam sambil memeriksa berkas audit dan—"
Belum sempat Sarah menuntaskan kalimatnya, suara gemerisik kasar terdengar, disusul bentakan bariton yang berusaha diredam namun tetap berwibawa khas penguasa konglomerasi.
"Berikan gagang teleponnya padaku, Sarah! Dan kunci pintunya dari luar!" Suara dehaman batuk berat yang dibuat-buat menggantikan napas Sarah. Hening dua detik karena jeda transmisi satelit dari Laut Banda ke Jakarta. Lalu menggelegarlah suara Broto Ar Rimbai.
"Fathan! Kamu masih hidup?! Suara berisik apa di belakangmu itu? Jangan bilang kamu sedang menggelandang di pasar ikan atau tidur di sebelah kambing kurban!"
Fathan tidak bisa menahan seringai tipis di sudut bibirnya. Di tengah angin laut yang menggigilkan tulang, mendengar arogansi konyol ayahnya entah bagaimana justru terasa aneh dan menghibur. "Malam juga, Ayah. Suara ini namanya ombak Samudra Hindia yang bertemu Laut Banda. Dan aku tidak tidur dengan kambing, aku sedang berdiri di atas palung laut terdalam di nusantara. Jauh lebih bersih daripada karpet ruang dewan komisaris Ayah yang penuh intrik."
"Kurang ajar kamu ya!" Pak Broto mendengus, terdengar bunyi derit kursi kulit Italia mahalnya yang berputar cepat di seberang sana. "Sudah empat bulan kamu kabur seperti gelandangan miskin! Menolak fasilitas kartu kredit tanpa batas, menolak mobil dinas, mematikan telepon dinas, lalu mengirim laporan ekspedisi aneh-aneh dari pulau-pulau antah berantah! Sekarang kamu dengarkan baik-baik, anak pembangkang! Kalau kamu pulang nanti kulitmu gosong dan bau terasi, jangan harap kamu bisa melangkahkan kaki masuk ke lobi gedung Ar Rimbai! Satpam akan kuperintahkan mengusirmu dengan semprotan pemadam api!"
Fathan terkekeh renyah, kepulan uap napasnya membubung tipis tertiup angin laut. "Pah, terasi Belinyu dari Bangka yang kemarin aku makan itu aromanya jauh lebih wangi dan jujur daripada parfum Paris ratusan juta yang biasa Ayah semprotkan ke jas Armani Ayah."