Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #41

Prahara Stasiun Gubeng

Prahara Stasiun Gubeng: Bocornya Grup WhatsApp ‘Ar Rimbai Babysitter Club’! - Pemandu: Cindy Puspita & Cut Meurah. Cindy yang ceplas-ceplos bertemu Cut Meurah yang tegas; kolaborasi komedi tanpa tanding. ✨ Daya Pikat: Saling ledek gaya bicara daerah masing-masing saat membongkar aib Fathan

Tahu Telur Bumbu Petis & Es Sinom Kunyit Asam Segar. Tahu dan telur bebek dikocok lalu digoreng garing berbentuk sarang burung tinggi, disiram saus petis udang bertekstur kental manis pedas dengan taburan tauge dan kacang tanah.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Bagian I: Senja Tembaga di Peron Empat

🍜 🍲 🍧

Senja di Stasiun Gubeng tidak pernah sekadar berganti malam; ia meluruh laksana lelehan tembaga pijar yang dituang paksa ke atas bentangan rel baja. Di luar jendela kaca ruang tunggu eksekutif, langit Surabaya membara dalam gradasi jingga pekat bercampur jelaga abu-abu tipis dari cerobong lokomotif tua. Udara pesisir timur Jawa yang gerah dan lembap merayap masuk setiap kali pintu geser otomatis berderit terbuka, menabrak hawa dingin artifisial pendingin ruangan yang berbau pembersih pinus murahan. 

Fathan Al-Ghazi menyandarkan tengkuknya yang pegal pada sandaran kursi kayu jati berukir kaku. Kepalanya berdenyut seirama dengan ketukan peluit langsir lokomotif CC206 di jalur tiga yang memekakkan telinga. Ada keletihan purba yang menimbun di dasar kelopak matanya—bukan semata-mata karena perjalanan kereta malam melintasi tapal kuda Jawa Timur, melainkan keletihan jiwa yang telah dirobek-robek selama empat puluh bab pengembaraan melintasi ribuan kilometer tanah air.

Di hadapannya, wesel rel bercabang dua: satu membelok tajam ke arah utara menuju jalur pantura Jakarta, satu lagi lurus tertanam menuju depot penyimpanan gerbong usang yang berkarat dimakan lumut. Bagi Fathan, rel bercabang itu tampak seperti belati ganda yang diarahkan ke ulu hatinya. Sebuah simbol visual yang kejam tentang persimpangan hidupnya. Apakah ia akan kembali ke ibu kota sebagai boneka pewaris konsorsium Ar Rimbai yang patuh pada titah dewan direksi, ataukah ia telah berubah menjadi sosok lain—sosok yang kini mengenal aroma tanah basah, perihnya sambal ulek pasar tradisional, dan getirnya air mata rakyat kecil yang selama ini hanya ia lirik dari balik kaca mobil antipeluru?

"Mas Fathan! Ojo melamun koyok perawan kasep ngunu tah!" 

Suara itu meledak laksana petasan banting di telinga kirinya. Cindy Puspita, gadis pemandu Surabaya dengan kemeja flanel digulung sebatas siku dan rambut kuncir kuda yang bergoyang lincah, meletakkan ransel kanvasnya ke atas meja kopi marmer dengan bantingan yang sama sekali tidak mengenal etiket ningrat.

"Gusti Pangeran, Mas... Ket mau nang njero gerbong lambemu mecucu terus sak meter. Lapo se? Opo AC-ne kurang adem? Opo bantal keretane kurang empuk gawe githokmu sing larang iku? Iki Gubeng, Mas, dudu penthouse bapakmu nang Mega Kuningan sing isine marmer Itali karo wong-wong rai gedhek!" semprot Cindy dengan intonasi vokal terbuka khas arek Genteng yang medok tanpa tedeng aling-aling.

Fathan mendengus tipis, memperbaiki kerah kemeja linennya yang kini kusut masai. "Cindy, bisakah kamu menurunkan volume suaramu sebesar tiga puluh desibel? Seluruh penumpang di ruang VIP ini sedang menatap kita seolah aku baru saja menculik anak domba bersertifikat internasional."

"Halah, gayamu, Mas! Domba jare... Domba teko endi sing sepatune sak rega motor matik seken?!" Cindy terbahak serak, membetulkan letak kacamata berbingkai bulatnya. "Wis, meneng kene sek. Ojo nang endi-endi. Aku tak metu sediluk nang embong mburi stasiun, pesen Tahu Telur Pak Jayus sing bumbu petise legendaris sak Jawa Wetan. Nek lambemu durung kelebon petis udang Sidoarjo, sampeyan durung sah dadi menungso Jawa Timur! Iki tablete kantor tak seleh kene yo, ojo diutek-utek, batrene kari telung puluh persen!"

Sebelum Fathan sempat membalas dengan sindiran sarkastis andalannya, Cindy sudah melesat lincah keluar melalui pintu kaca geser, meninggalkan aroma minyak kayu putih dan bedak bayi yang samar tertinggal di udara.

Fathan menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang tembus pandang. Di sana, pantulan wajahnya tampak asing. Pipinya yang dahulu pucat terawat kini kecokelatan terpanggang matahari tropis. Lingkaran hitam di bawah matanya adalah prasasti dari malam-malam insomnia yang tak pernah usai. 

*Kenapa aku harus peduli pada rasa petis udang?* batin Fathan muram. Selama dua puluh lima tahun hidupnya, makanan adalah asupan kalori terukur dari koki pribadi yang disajikan di atas piring porselen dingin, dimakan sendirian di ruang makan seluas empat ratus meter persegi, sementara sang ayah hanya hadir dalam wujud dokumen persetujuan transfer bank dan deretan sekretaris bertampang robot. Di rumah megah itu, Fathan tidak pernah merasa lapar akan makanan; ia kelaparan akan sebuah kehadiran yang tulus. Dan perjalanan ini—perjalanan konyol keliling nusantara yang dipaksakan ayahnya—awalnya ia sangka hanyalah siksaan psikologis untuk menghukum kesombongannya.

Namun kesunyian di ruang tunggu itu tiba-tiba koyak oleh dengungan bertubi-tubi.

*Bzzzt! Bzzzt! Bzzzt! Ting-ting-ting!*

Fathan menoleh. Tablet operasional kantor berbalut sarung silikon hijau toska milik Cindy yang tergeletak di samping cangkir teh melompat-lompat di atas meja marmer. Layar kaca tablet itu menampilkan puluhan gelembung notifikasi hijau dari aplikasi WhatsApp yang masuk bagai air bah tanggul jebol.

Awalnya Fathan hendak mengabaikannya demi sopan santun privasi. Namun, satu nama grup di bilah atas notifikasi seketika menyengat pupil matanya:

**[Ar Rimbai Babysitter Club (38 Korlap Siaga 1)]**

Jantung Fathan serasa berhenti berdetak selama satu ketukan penuh. *Babysitter Club? Tiga puluh delapan korlap?*

Dengan jari yang sedikit gemetar, terdorong oleh rasa penasaran dan sengatan kecurigaan yang membakar egonya, Fathan meraih tablet tersebut. Layarnya tidak terkunci. Begitu ia menggeser kunci layar, pemandangan yang terhampar di depannya seketika meruntuhkan seluruh martabat feodal yang selama ini ia junjung tinggi.

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Bagian II: Prahara Grup WhatsApp dan Histeria Martabat

🍜 🍲 🍧

"Ya Tuhan... apa-apaan ini?!" bisik Fathan tercekat, matanya melotot selebar cangkir porselen. Pemandu: Cindy Puspita & Cut Meurah. Cindy yang ceplas-ceplos bertemu Cut Meurah yang tegas; kolaborasi komedi tanpa tanding. ✨ Daya Pikat: Saling ledek gaya bicara daerah masing-masing saat membongkar aib Fathan

Tahu Telur Bumbu Petis & Es Sinom Kunyit Asam Segar

Tahu dan telur bebek dikocok lalu digoreng garing berbentuk sarang burung tinggi, disiram saus petis udang bertekstur kental manis pedas dengan taburan tauge dan kacang tanah.

Layar obrolan itu bergerak begitu cepat bagai papan bursa saham yang sedang panik. Dan subjek tunggal dari seluruh lalu lintas pesan itu tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.

Pesan teratas dikirim oleh Cindy lima menit yang lalu:

Lihat selengkapnya