Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #42

Dapur Darurat Tepi Kali Mas

Dapur Darurat Tepi Kali Mas. Wilayah: Surabaya, Jawa Timur. Kuliner Khas: Gulai Nasi Rempah Nusantara 38 Bumbu Persatuan - Pemandu: Neng Salma & Siti Rahmah

Salma membawakan bumbu manis Parahyangan, Rahmah membawakan teknik rendang Minang. ✨ Daya Pikat: Kombinasi senyum manis Priangan dan wibawa diplomasi Minang

Gulai Nasi Rempah Nusantara 38 Bumbu Persatuan. Nasi pulen dimasak dengan bumbu kluwek Rawon, serai rendang Padang, daun kesum Pontianak, dan kuah kuning kenari Tidore, disajikan dengan daging suwir pedas manis.

═━═━═━═ Kembarsa Rasa ═━═━═━═


Bagian I: Puing Kehormatan di Bantaran Keruh

🍜 🍲 🍧

Air Kali Mas malam itu mengalir lamban, pekat serupa lelehan aspal cair yang menolak bercermin pada temaram lampu merkuri kota Surabaya. Di atas tanggul tanah yang merekah oleh kemarau, terpal biru warung makan Mbah Sri berkibar gelisah ditiup angin selat yang asin dan berdebu mesiu knalpot bemo. 

Bagi Fathan Ar Rimbai, bau air sungai yang membusuk ini bukan sekadar pencemaran perkotaan; itu adalah aroma keputusasaan yang ganjil, persis seperti bau ruang bawah tanah rumah leluhurnya di Menteng tempat piala-piala perak berdebu dibiarkan berkarat tanpa pernah lagi disinggahi kehangatan keluarga.

"Jancuk temenan koen, Mbah! Ojo kakehan lambe!" bentakan parau membelah derit kayu bambu. Suara itu milik Cak Basuki—seorang pria gempal berleher beton dengan rajah burung garuda cacat di lengan kanannya, pemimpin kelompok penagih utang yang disegani di sepanjang tepian pabean Cantian. 

Telunjuknya yang berkuku tebal menuding lurus ke hidung Mbah Sri, perempuan berusia tujuh puluh tahun yang tubuhnya sudah melengkung bagai arit pemotong padi. "Surat perjanjian iki ceto! Nek sampek jam wolu bengi iki limangatus porsi manganan kanggo kuli dermaga ora cumepak nang mejo, tenda iki tak bongkar rata karo tanah! Sertifikat tanahmu langsung mlebu brankas juraganku!"

Mbah Sri hanya bergeming, jemarinya yang legam oleh minyak jelaga mencengkeram erat sudip besi berkarat. Sudip itu adalah satu-satunya warisan almarhum suaminya, pejuang laskar rakyat yang gugur di jembatan seberang. Matanya tidak berkedip, tetapi getar di dagunya yang keriput menelanjangi ketakutan seorang ibu yang sebentar lagi bakal ditelan gelapnya malam tanpa atap.

"Cak, sampeyan iki lak yo menungso se?" suara Siti Rahmah memotong tajam. Gadis Minang itu melangkah maju dengan sepasang mata elang yang menyala. Tangannya terlipat di depan dada, posturnya tegak menantang tiga pemuda bertato yang menyeringai di belakang Cak Basuki. "Uda Fathan baru tibo dari stasiun. Lima ratus porsi dalam tigo jam? Awak ndak takut samo gertak sambal mode ko! Nan punyo tanah ko urang tuo, di mano utak kurenah kalian?!"

"Weh, weh, mbak ayu omong opo iki? Bahasa planet ngendi maneh?" sahut salah satu anak buah Basuki bertopi miring, terkekeh renyah sambil memainkan sebilah pisau lipat. "Iki Suroboyo, Cik! Duduk Ranah Minang! Nang kene weteng luwe ora kenek disumpel pantun! Utang yo utang, bayar yo bayar!"

Fathan berdiri mematung di sudut warung, kedua tangannya terbenam dalam saku jaket linen mahalnya. Koper kulit buatan Florence yang dibawanya diletakkan di atas peti kayu telur. Di dalam rongga dadanya, sebuah palu godam menghantam rusuknya berkali-kali. 

*Kenapa aku harus selalu berdiri di tepi bencana orang lain?* batinnya berbisik pedih. Kenangan masa kecilnya tersembul tanpa permisi: ruang makan marmer di kediaman ayahnya, seorang diplomat kaku yang menolak memakan masakan ibunya hanya karena sup asparagusnya kurang garam setengah gram. Ayahnya menyuruh pelayan membuang seluruh hidangan ke tempat sampah tepat di depan mata ibunya yang menangis tersedu dalam gaun suteranya. Sejak hari itu, Fathan menganggap dapur adalah medan penghinaan, tempat di mana manusia memperdagangkan martabat demi sesuap pujian kosong.

Namun, menatap mata Mbah Sri yang memandang kali keruh itu—seolah sedang menatap kuburan masa depannya sendiri—sesuatu yang beku di ulu hati Fathan retak seketika.

"Tiga jam," Fathan bersuara. Nada suaranya dingin, terukur, dan terlalu tenang untuk sebuah pasar malam yang nyaris meledak dalam perkelahian darah.

Cak Basuki menoleh, menyipitkan matanya yang merah. "Sopo koen, Gus? Arek borjuis kesasar lapo melu-melu urusan kene?"

"Namaku Fathan. Dan lima ratus kuli pelabuhanmu akan makan malam ini sampai mereka menjilat piring bambunya hingga mengilap," kata Fathan seraya melangkah ke tengah tenda. "Tapi dengan satu syarat: jika lima ratus piring itu habis dan mereka mengakui ini gulai terenak yang pernah menyentuh kerongkongan mereka, kau bakar surat sitaan itu di depan api tungku ini."

Cak Basuki tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menyaingi deru lokomotif barang di kejauhan. "Wani nantang aku, Le? Deal! Nek enak temenan, utange tak anggep lunas detik iki! Tapi nek sego bumbumu ambyar koyo bathang tikus Kali Mas... koper kulitmu karo sak isine tak buang nang kali, trus mbah iki melu aku!"

═━═━═━═ Kembarsa Rasa ═━═━═━═


Bagian II: Jenderal Hello Kitty & Huruhara Wajan Semeter

🍜 🍲 🍧

Keberanian aristokrat Fathan bertahan tepat lima belas menit—sampai Neng Salma, dengan senyum manis tanpa dosa khas tanah Priangan, menyerahkan selembar kain padanya.

"Mangga dianggo heula, A Fathan. Supados acuk sutrana teu kotor ku gejed minyak," tutur Salma lembut, matanya mengerjap jenaka.

Fathan menatap benda di tangannya dengan pupil membesar horor. Itu bukan celemek kanvas hitam bergaya bistro Michelin yang biasa ia kenakan di akademi kuliner Eropa. Itu adalah celemek kain parasut berwarna merah muda menyala, dengan gambar kepala kucing kartun *Hello Kitty* berbusur polkadot ungu, lengkap dengan saku depan berenda bertuliskan: *Princess Manja*.

"Salma... kamu bercanda?" desis Fathan dengan rahang mengeras. "Aku ini lulusan Le Cordon Bleu Paris. Aku membawa nama besar Ar Rimbai Creation!"

"Ya ampun, Uda Fathan! Sadar, Da!" teriak Siti Rahmah dari samping tungku bata sambil membanting sebilah parang ke atas talenan kayu nangka. *Brakkk!* Batang serai hancur berkeping-keping. "Iko bukan Paris! Iko Kali Mas! Api tungku ko ndak nanyo sertifikat diplomasimu! Pakai itu atau baju jutaan rupiahmu berubah jadi lap pel pelabuhan!"

Tanpa menunggu persetujuan Fathan, Rahmah menyambar tali celemek itu dan menyimpulkannya kencang di punggung Fathan hingga sang pemuda terbatuk kecil.

"Ampun Gusti... ketok ayu tenan sampeyan, Mas," celetuk Cak Leman, tukang becak berkaus oblong sobek yang sukarela meniup pipa bambu peniup arang. "Koyo perawan kencur dodolan dawet ayu nang Stasiun Semut!"

"Cak Leman, tiup arangnya, jangan mengomentari maskulinitasku!" semprot Fathan dengan muka memerah padam seperti cabai rawit setan.

Lihat selengkapnya