Kembara Rasa

Amrullah Ibrahim
Chapter #43

Sidang Meja Makan Konglomerat

Sidang Meja Makan Konglomerat: Taruhan Terakhir di Ar Rimbai Mansion. Wilayah:** Kawasan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (DKI Jakarta). Kuliner: Jamuan Michelin Star Prancis vs Sepiring Nasi Rawon Rempah Nusantara. Pemandu: Sarah Amanda & Bianca Maharani. Berdiri tegak membela Fathan di hadapan dewan komisaris konglomerasi

✨ Daya Pikat: Sikap profesional yang tak lagi tunduk pada intimidasi uang

J═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan I: Menembus Gerbang Dingin Ar Rimbai

Kemeja Tenun Sederhana di Depan Kamera Pengawas 360 Derajat Dharmawangsa

🍜 🍲 🍧

Hujan gerimis khas Jakarta Selatan membasahi deretan palem kipas yang berdiri kaku di balik pagar tempa setinggi empat meter di kawasan Dharmawangsa. Gerbang Ar Rimbai Mansion terbuka tanpa suara mekanik yang berarti—hanya desis pelumas hidrolik senilai puluhan juta rupiah, menyambut kedatangan sang putra mahkota yang telah berbulan-bulan dinyatakan 'hilang dalam pengembaraan tak bernilai' oleh siaran internal dewan komisaris.

Fathan melangkah menembus lorong marmer putih Carrara. Ia tidak mengenakan setelan jas Tom Ford yang biasa disiapkan pelayan pribadinya. Tubuhnya yang kini tampak lebih kokoh dibalut kemeja tenun ikat Toraja berkancing kayu kelapa, celana katun hitam pekat, dan sepasang sandal kulit buatan perajin Magetan yang telah mengarungi debu pelabuhan hingga lumpur pedalaman Papua.

Di sisi kiri dan kanannya, Sarah Amanda dan Bianca Maharani berjalan dengan punggung tegak tak bergeming. Sarah mendekap sebuah keranjang anyaman pandan beraroma daun jeruk purut dan rempah segar yang basah, sementara Bianca—dengan tatapan mata setajam silet yang biasa melucuti kesombongan eksekutif Sudirman—membawa tas kulit berisi buku catatan rantai pasok bumbu Nusantara.

Empat orang satpam bertubuh tegap dengan earpiece melingkar di leher serempak menunduk sungkan, meski sorot mata mereka menatap heran pada beban yang dijinjing Fathan: sebuah tas goni berlapis terpal yang memuat bongkahan batu vulkanik hitam legam seberat tujuh kilogram.

"Mas Fathan..." bisik Sarah, melirik kamera pengawas 360 derajat yang berputar lambat di langit-langit berukir emas gaya Renaisans. "Hawanya kayak ruang isolasi rumah sakit bintang lima. Dinginnya menusuk, tapi nggak ada tanda-tanda kehidupan yang bernapas lega di sini."

Bianca mendengus pelan, merapikan selendang tenunnya dengan senyum tipis bernada satire khas anak gaul Senopati. "Which is literally definisi luxury trap, Sar. Di luar kelihatan prestigious banget seharga triliunan rupiah, tapi di dalem sini, udara yang disirkulasi AC sentral ini cuma kumpulan karbon dioksida orang-orang yang paranoid kehilangan portofolio saham. Look at those guards, senyum aja harus nunggu memo direksi dulu."

Fathan menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan pintu ganda kayu jati tua setinggi tiga meter yang membatasi foyer dengan Grand Dining Hall. Ia menatap pantulan dirinya di cermin Venesia berbingkai perak. Di balik pantulan itu, ia melihat bayangan bocah sepuluh tahun yang dulu duduk sendirian di meja makan raksasa, menunggu ayahnya pulang dari London atau New York, hanya untuk ditemani sepiring pasta dingin tanpa rasa dan sepucuk memo berlogo garuda emas: 'Ayah sedang closing deal. Habiskan makannya, jadilah penerus yang rasional.'

"Dua puluh tahun aku memakan kepalsuan di balik pintu ini," desis Fathan pelan, suaranya bergetar namun sarat keteguhan. "Hari ini, kita tidak datang untuk meminta pengakuan atas warisan. Kita datang untuk membebaskan jiwa seorang ayah yang tertimbun di bawah tumpukan marmer."

═━═━═━═ Kembara Rasa ═━═━═━═


Adegan II: Benturan Dua Dunia: Cobek Merauke di Atas Marmer Italia

Histeria Marmer Carrara 500 Juta dan Arogansi Canard à l'Orange

🍜 🍲 🍧

Pintu mahogani terdorong terbuka. Gemerlap lampu kristal Bohemia berbobot dua ton membiaskan cahaya keperakan yang angkuh ke atas meja perjamuan sepanjang sepuluh meter. Di ujung meja, duduk Pak Broto Ar Rimbai. Wajahnya yang bergaris tegas dipahat oleh empat dekade pertempuran korporasi. Rambut kelabunya tersisir rapi tanpa sehelai pun yang memberontak. Di sekelilingnya, lima anggota dewan komisaris duduk dengan cangkir porselen Meissen, menatap Fathan layaknya jaksa penuntut umum menanti pesakitan yang mangkir.

Di sebelah kanan Pak Broto, berdiri Chef Antoine Dufour—koki berkebangsaan Prancis berselempang bintang Michelin yang didatangkan khusus dari Lyon dengan kontrak setara anggaran satu puskesmas di Halmahera. Di atas piring porselen Limoges berdiameter raksasa, teronggok sajian utama perjamuan malam itu: *Canard à l'Orange sous-vide* berhias lembaran emas 24 karat, dengan genangan reduksi anggur Bordeaux seukuran koin lima ratus rupiah.

"Kau terlambat empat puluh menit, Fathan," suara Pak Broto membelah kesunyian, berat dan bergaung bagai palu sidang mahkamah arbitrase. "Dan kau membawa aroma pasar becek ke dalam ruang tempat keputusan akuisisi tambang benua ditandatangani."

Pak Hendra, komisaris senior berpipi tambun, berbisik sinis seraya melirik Sarah dan Bianca. "Broto, ini anakmu mau mediasi warisan keluarga atau mau buka lapak sembako di Dharmawangsa? Siapa dua perempuan udik yang berani masuk tanpa undangan protokoler ini?"

Sarah melangkah setengah depa ke depan, dagunya terangkat anggun. "Maaf, Bapak Komisaris yang terhormat. 'Udik' yang Anda sebut ini adalah putri-putri tanah air yang tangannya memilah benih padi dan merawat rempah agar orang-orang di ruangan ini tidak mati kelaparan sambil menghitung lembar dividen."

Bianca menyambung dengan intonasi santai namun menusuk tepat di ulu hati etiket borjuis. "Excuse me, Pak Hendra. Secara supply chain integrity, keranjang pandan ini bernilai lebih tinggi dari tas Birkin istri Anda. Bumbu di dalam sini dipetik dengan doa, bukan hasil spekulasi reksadana yang minggu lalu hampir bikin perusahaan Anda diselidiki OJK."

Pak Hendra tersedak teh earl grey-nya hingga terbatuk-batuk. Sebelum Pak Broto sempat membanting sendok peraknya, Fathan melangkah pasti menuju tengah meja perjamuan. Tanpa ragu, ia merogoh tas goni miliknya, mengangkat sebuah cobek batu vulkanik hitam legam seberat tujuh kilogram yang dibawanya langsung dari tepian Sungai Maro, Merauke.

---

*BRAAAKKK!*

Lihat selengkapnya