KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Sejarah kelam Kitab Teratai Agung

Angin pagi berembus lembut menelusuri celah-celah bebatuan di Lembah Sunyi, membawa aroma embun segar yang bercampur dengan wangi bunga liar. Tempat ini seolah terisolasi dari hiruk-pikuk dan kekejaman dunia persilatan yang tak pernah kenal belas kasihan. Di sepanjang jalan setapak berbatu, anak-anak berlarian mengejar kupu-kupu dengan tawa renyah yang memecah keheningan fajar. Tidak ada suara pedang beradu, tidak ada teriakan kebencian, dan yang terpenting, tidak ada bayangan kematian yang biasanya selalu menghantui setiap jengkal tanah di daratan utama.

"Bibi Mei, apakah benar di luar sana orang-orang saling membunuh hanya demi sehelai gulungan jurus?" tanya seorang anak lelaki bernama Kian sambil menarik ujung jubah wanita paruh baya yang sedang menjemur hasil panen gandum.

Bibi Mei menghentikan gerakannya, tersenyum hangat sambil mengusap kepala bocah itu dengan lembut. "Itu hanya cerita dongeng para pengelana untuk menakut-nakuti anak nakal, Kian. Di Lembah Sunyi ini, kita hidup beriringan dengan damai. Leluhur kita telah berpesan bahwa kedamaian adalah harta yang paling berharga."

Kian mengangguk puas, lalu kembali berlari menyusul teman-temannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Bibi Mei tidak sepenuhnya percaya pada kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Sebagai salah satu penduduk yang telah lama tinggal di dekat kuil tua, ia tahu persis bahwa ketenangan yang dinikmati Lembah Sunyi bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Tempat ini dulunya adalah pusat dari segala malapetaka, sebuah monumen bisu dari pertumpahan darah yang disengaja agar terlupakan oleh waktu.

Di sudut lain lembah, Raditya sedang duduk bersila di teras rumah kayunya. Ia sedang mengasah bilah pedang tua warisan ayahnya, sebuah ritual harian yang lebih berfungsi sebagai penjaga ketenangan pikiran ketimbang persiapan untuk bertempur. Baginya, dunia di luar lembah hanyalah lautan darah yang tidak ada ujungnya.

"Raditya! Apakah kau tidak lelah terus memandangi besi berkarat itu setiap hari?" suara riang Lian memecah lamunannya. Gadis itu datang membawa bakul berisi buah-buahan segar yang baru dipetik dari kebun belakang.

Raditya tersenyum tipis, memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung kayu. "Besi ini bukan sekadar senjata, Lian. Ini adalah pengingat bahwa ketenangan yang kita miliki saat ini sangatlah rapuh. Layaknya lapisan es tipis di atas danau musim dingin."

Lian tertawa kecil, duduk di sebelah Raditya sambil melempar sebuah apel merah ke pangkuan pemuda itu. "Kau terlalu banyak membaca gulungan kuno milik Ayah. Lembah ini sudah damai selama tiga generasi. Tidak ada pendekar gila yang akan datang kemari. Jalur menuju lembah tertutup oleh kabut beracun dan tebing curam yang mustahil dilewati."

"Semoga saja kau benar," jawab Raditya pelan, meski matanya menatap tajam ke arah jajaran pegunungan utara yang tampak membiru di kejauhan.

Suasana pagi yang hangat itu berlanjut dengan aktivitas warga yang menenangkan. Para petani menggarap ladang dengan senyum di wajah mereka, sementara para pandai besi menempa alat-alat pertanian alih-alih senjata perang. Tidak ada satupun penduduk yang menyadari bahwa fondasi kedamaian palsu yang mereka banggakan selama puluhan tahun telah mulai retak dari dalam. Sejarah kelam yang terkubur dalam-dalam di bawah altar batu kuil tua perlahan-lahan mulai bangkit, bersiap menghapus setiap senyuman dan tawa yang menghiasi Lembah Sunyi.

❖ ❖ ❖

Pergantian hari menuju sore membawa kejanggalan yang langsung merayap ke kulit setiap orang. Tanpa peringatan apapun, suhu udara di Lembah Sunyi mendadak menurun drastis. Embun pagi yang tadinya menguap perlahan kini berubah menjadi kristal-kristal es tipis yang menutupi daun-daun di sepanjang jalan. Warga yang tadinya beraktivitas di luar ruangan mulai merapatkan pakaian mereka, saling bertukar pandang dengan wajah penuh kebingungan.

"Ibu, kenapa mendadak dingin sekali? Padahal matahari masih tinggi," keluh Kian sambil memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil.

Bibi Mei yang sedang berada di dekat sumur desa merasakan firasat buruk menyengat dadanya. Hembusan angin yang menerpa wajahnya bukan lagi angin pegunungan yang menyegarkan, melainkan angin hampa yang membawa aroma karat dan darah basi. "Masuklah ke dalam rumah, Kian. Jangan ke mana-mana."

Di saat yang bersamaan, Raditya melesat cepat dari kediamannya menuju ke arah kuil tua di ujung lembah. Firasatnya mengatakan bahwa penurunan suhu ini memiliki hubungan langsung dengan sumber energi aneh yang ia rasakan sejak siang tadi. Sesampainya di halaman kuil, ia mendapati pintu batu utama telah terbuka sedikit, padahal tempat itu selalu dikunci rapat oleh para tetua desa.

Lian menyusul beberapa saat kemudian dengan napas tersengal-sengal. "Raditya! Ada apa? Kenapa semua ternak di desa tiba-tiba gelisah?"

"Jangan mendekat, Lian," bisik Raditya tajam, menghunus pedangnya setengah inci dari sarungnya.

Dengan langkah hati-hati, Raditya mendorong pintu batu kuil yang terasa begitu dingin di tangan. Begitu ruangan bagian dalam terlihat, napas keduanya tertahan. Di atas altar batu tempat pemujaan leluhur, terbentang sebuah gulungan kuno yang memancarkan pendar cahaya merah lembayung. Yang mengerikan, gulungan itu tampak basah oleh darah segar yang terus merembes keluar dari lipatannya, mengalir membasahi permukaan batu altar yang dingin.

"Darah... dari mana darah itu berasal?" suara Lian bergetar hebat, jemarinya mencengkeram lengan Raditya erat-erat.

Raditya mendekati altar dengan langkah berat. Begitu ia mencium bau amis yang menyengat, memorinya bergejolak. Meskipun ia belum pernah melihat gulungan itu secara langsung, cerita-cerita dari ayahnya mengenai artefak terlarang langsung berputar di kepalanya. Gulungan itu adalah peninggalan dari era pembantaian besar-besaran, benda terkutuk yang menjadi rebutan para iblis dunia persilatan di masa lalu: Kitab Teratai Agung.

Lihat selengkapnya