Aroma belerang dan darah membusuk mengendap pekat di udara dingin Gua Tengkorak. Di dalam celah guratan batu purba yang terpencil di Lereng Gelap, ratusan obor minyak jarak menyala berkelip, memancarkan cahaya jingga remang yang menari-nari di atas lantai batu licin. Ratusan pria berantai besi dan berikat kepala hitam berbaris rapi dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada suara helaan napas yang berani berembus terlalu kencang. Semua mata tertuju pada singgasana batu hitam berduri di balik kepulan asap tipis.
Sesosok tubuh tinggi tegap duduk kaku di atas singgasana tersebut. Tubuhnya terbungkus jubah kain terpal tebal berwarna kelam, sementara wajahnya tersembunyi sepenuhnya di balik topeng besi berkarat dengan ukiran taring menganga. Udara di sekelilingnya seolah tersedot masuk ke dalam dingin yang membekukan.
“Apakah tempat ini cukup tersembunyi untuk merencanakan kehancuran mereka, Panglima Gagak?” suara dari balik topeng besi terdengar sangat berat, menggema pelan namun sanggup menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya.
Seorang pria bertubuh kurus tinggi dengan jubah bulu burung hitam segera maju satu langkah. Ia berlutut kaku di atas batu yang tajam, menundukkan kepala sejajar dengan tanah.
“Semua sudah sesuai perintah, Pimpinan,” sahut Panglima Gagak dengan nada gemetar. “Gua Tengkorak berada di luar jangkauan radar maupun intipan Perguruan Lembah Sunyi. Tak ada satu pun satria aliran putih yang tahu kita telah berkumpul di sini.”
Tokoh bertopeng besi menggerakkan jarinya, mengetuk-etuk sandaran tangan singgasana batu. Bunyi benturan logam dan batu berdetak konstan, layaknya dentang jam kematian yang makin mendekat.
“Perguruan putih selalu mengira mereka telah memusnahkan kita dua puluh tahun lalu,” bisik sang pemimpin bertopeng besi. Ia berdiri perlahan, membuat jubah tebalnya menghempas udara dingin gua. “Mereka terbuai oleh kedamaian palsu, membiarkan pedang mereka tumpul dan ilmu silat mereka membusuk dalam kenyamanan.”
“Titah Pimpinan adalah takdir kami!” teriak massa Golongan Hitam di bagian belakang, berseru serempak hingga dinding-dinding batu melepaskan debu purba.
Sang pemimpin bertopeng besi mengangkat tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit berpelat baja. Seketika itu pula, seluruh ruangan kembali sunyi senyap tanpa suara.
“Mulai malam ini, nama Golongan Hitam tidak lagi menjadi bisikan ketakutan di warung rempah,” tegasnya pelan, namun mengandung daya tekan hawa murni yang luar biasa tebal. “Kita akan mengukir nama ini di atas tulang-belulang para ketua perguruan!”
Dua prajurit bertubuh kekar melangkah maju membawakan sebuah wadah perunggu raksasa berisi darah segar liar. Sang pemimpin mencelupkan jemarinya ke dalam wadah tersebut, lalu melukiskan garis merah melintang di atas lantai singgasana.
“Sumpah darah telah diikat,” ucapnya dingin. Gua Tengkorak bergemuruh hebat, menyambut titah dan deklarasi bangkitnya sang pimpinan baru yang misterius.
❖ ❖ ❖
Keheningan yang membakar setelah sumpah darah tiba-tiba terputus oleh derap langkah terburu-buru. Seorang pria bertubuh tambun dengan zirah besi retak-retak merangkak masuk melalui celah gua. Ia adalah Panglima Serigala, penanggung jawab pasukan tempur wilayah utara.
“Ampun... ampunkan hamba, Pimpinan!” jerit Panglima Serigala, dahinya menempel rapat di tanah berdebu.
Sang pemimpin bertopeng besi melangkah turun dari anak tangga singgasana secara perlahan. Setiap langkah kaki berbalut sepatu besi itu memancarkan hawa pembunuh yang makin pekat.
“Bicara sebelum lidahmu membusuk, Serigala,” ancam sang pemimpin pendek.
“Wilayah perbatasan utara... pasukan kita dipukul mundur oleh pendekar Perguruan Teratai Putih,” bisik Panglima Serigala dengan suara penuh ketakutan. “Mereka... mereka telah mengantisipasi sergapan kita, Pimpinan. Kami gagal merebut benteng gerbang barat.”
Suara hembusan angin dari balik topeng besi terdengar berat. Panglima Gagak yang berdiri di samping singgasana membelalakkan mata, tahu betul konsekuensi dari berita buruk ini.
“Gagal?” tanya sang pemimpin bertopeng besi dengan nada sangat tenang—suatu ketenangan yang jauh lebih mengerikan daripada ledakan kemarahan. “Aku memberimu tiga ratus prajurit pilihan dan racun pemakan tulang. Bagaimana mungkin benteng perbatasan utara masih berkeledai putih?”
“Mereka memiliki formasi pedang baru, Pimpinan! Hamba... hamba terpaksa menarik diri daripada seluruh pasukan habis!” teriak Panglima Serigala mencoba membela diri.
Tanpa gerakan peringatan, lengan sang pemimpin bertopeng besi menyambar ke udara. Udara Gua Tengkorak terdistorsi seketika. Sebuah tekanan udara kasatmata menghantam dada Panglima Serigala hingga pria tambun itu terangkat dua meter di udara, memegangi lehernya yang seolah tercekik rantai tak terlihat.
“Kau tidak menarik diri, Serigala. Kau melarikan diri bagai anjing kurap,” desis sang pemimpin.
“Pimpinan... beri hamba... satu kesempatan lagi...” megap-megap suara Panglima Serigala dengan wajah melotot kebiruan.
“Kegagalan di perbatasan utara adalah ancaman bagi seluruh pergerakan kita. Aku tidak membutuhkan pengecut di jajaran panglima,” bentak sang pemimpin bertopeng besi.