Halaman belakang Perguruan Angin Sejuk terasa riang oleh gesekan dedaunan bambu. Udara pagi yang basah merayap pelan, membawa aroma tanah kering yang baru saja disiram embun. Arka duduk bersila di atas bangku kayu tua yang permukaannya sudah licin tergerus zaman. Jemarinya yang cermat dan cekatan mengikat serat kain putih pada pangkal sayap seekor burung merpati pos. Burung itu gemetar kecil, namun tatapan matanya yang bulat perlahan menenang dalam rengkuhan tangan Arka.
"Tahan sebentar, Kawan," bisik Arka lembut. Suaranya serendah desir angin pagi. "Obat racikan Guru memang sedikit menyengat, tapi sayapmu akan pulih sebelum matahari mencapai puncak."
Burung merpati itu berkokok pelan, seolah mengerti ucapan pemuda di hadapannya. Arka tersenyum kecil. Lesung pipit tipis menghiasi pipi kirinya, menghidupkan suasana halaman yang sunyi. Ia mengelus kepala burung itu dengan ujung jari telunjuknya, membiarkan makhluk kecil itu merasakan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya.
"Guru selalu bilang," gumam Arka pada diri sendiri, matanya menerawang ke arah pepohonan rindang yang memagari kompleks perguruan. "Kekuatan sejati seorang pendekar bukan diukur dari seberapa keras pukulan yang bisa meretakkan batu, melainkan dari seberapa lembut tangannya mampu menopang nyawa yang rapuh."
Bayangan sang guru, Mbah Wirya, mendadak melintas jelas di ingatan Arka. Lelaki tua berambut perak itu selalu duduk di bangku yang sama, memegang cangkir teh tanah liat yang berasap. Mbah Wirya tidak pernah mengajarkan jurus dengan bentakan atau cambukan. Baginya, Perguruan Angin Sejuk berdiri bukan untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk menjadi peneduh bagi mereka yang kehilangan arah.
"Persahabatan dan kasih sayang, Arka," suara serak Mbah Wirya seolah berkumandang kembali di telinganya. "Itu adalah jangkar jiwa. Tanpa jangkar itu, jurus sehebat apa pun hanya akan menjadikanmu monster yang kesepian."
Arka menghela napas panjang, merapikan ikatan perban terakhir pada sayap si merpati. Ia berdiri, lalu menempatkan burung itu di dalam sangkar kayu tebal yang terbuka pintunya, membiarkannya beristirahat di bawah naungan pohon kayu manis. Selaku pewaris tunggal yang tersisa di perguruan ini, tanggung jawab berat kini terhampar di pundaknya. Namun, tak pernah sekalipun wajahnya menunjukkan rasa putus asa. Senyum hangat selalu menjadi perisainya.
"Arka! Ada tamu di depan!" suara panggilan dari murid muda, Sari, memecahkan kelengangan halaman belakang.
Arka menoleh, mengusap tangannya pada kain apron kain kepunyaannya. "Siapa yang datang pagi-pagi begini, Sari? Apakah paman penjual beras?"
"Bukan," panggil Sari dengan nada cemas dari balik lorong. "Mereka... mereka memakai jubah berkilat. Kelihatannya dari Perguruan Naga Emas."
Arka memiringkan kepalanya sedikit, merapikan ikatan rambutnya yang agak longgar. Senyum ramahnya tidak memudar, namun matanya berkilat cerdas. "Ah, Perguruan Naga Emas. Mari kita temui mereka dengan senyuman terhangat."
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Arka terdengar ringan saat ia memasuki balai utama perguruan. Di tengah ruangan yang bersahaja itu, berdiri tiga orang pria berbadan tegap dengan jubah sutra merah berhias sulaman benang emas. Di dada mereka, lambang naga yang mencengkeram pedang terpampang gagah. Pemimpin rombongan itu, seorang pria paruh baya dengan kumis melengkung tipis bernama Ki Ravindra, berdiri dengan tangan bersedekap.
"Selamat datang di Perguruan Angin Sejuk," sapa Arka hangat sambil menundukkan kepala secara hormat. "Suatu kehormatan bagi tempat sederhana ini menerima kedatangan utusan dari Perguruan Naga Emas yang agung. Ada yang bisa saya bantu, Paman?"
Ki Ravindra tidak membalas penghormatan itu. Matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya dihiasi tiang-tiang kayu jati tua dan beberapa lukisan kaligrafi yang mulai memudar. Raut wajahnya penuh dengan kemurkaan terselubung dan kecemasan yang ditutupi keangkuhan.
"Tidak usah berbelit-belit, Anak Muda," potong Ki Ravindra dengan suara berat menggelegar. "Kami datang bukan untuk minum teh atau mendengarkan omong kosong tata krama."
"Ah, sayang sekali," sahut Arka santai, berjalan mendekati meja kayu dan menuangkan air hangat ke dalam cangkir. "Padahal teh daun serai hari ini baru saja diseduh. Sangat baik untuk menenangkan pikiran yang tegang."
"Simpan tehmu!" bentak Ki Ravindra sambil mengibaskan tangannya, membuat udara di ruangan itu mendadak berdesir keras. "Kami ke sini mengemban perintah Ketua Perguruan Naga Emas. Serahkan Kitab Pusaka Angin Sejuk dan Pedang Nilam Petaling milik gurumu!"
Sari yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya, ketakutan melihat gertakan itu. Namun Arka tetap tenang. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja tanpa menumpahkan setetes pun air.
"Pusaka warisan perguruan?" Arka mengusap dagunya perlahan. "Untuk apa Perguruan Naga Emas yang sudah memiliki puluhan kitab tingkat tinggi menginginkan pusaka dari perguruan kecil kami ini?"
"Demi keselamatan kelompokmu sendiri!" tegas Ki Ravindra, melangkah maju satu tindakan. "Dunia persilatan sedang bergejolak. Perguruan kecil seperti milikmu akan terlindas tanpa perlindungan dari kami. Serahkan pusaka itu sebagai jaminan perlindungan, atau tempat ini akan diratakan dengan tanah sebelum minggu ini berakhir!"