Kabut tipis masih merayap pelan di atas permukaan air, memeluk kelopak-kelopak bunga teratai yang mekar anggun dalam warna merah muda pucat. Pagi itu, suasana di sekitar danau teratai terasa begitu sunyi, hampir terlampau sunyi bagi Arka yang baru saja melarikan diri dari kejaran orang-orang Perguruan Bayangan Hitam. Insiden di gerbang barat desa kemarin sore masih menyisakan denging nyaring di telinganya. Bentrokan fisik, suara benturan pedang yang memekakkan telinga, serta tatapan tajam sang ketua utusan yang menuntut penyerahan gulungan pusaka warisan leluhurnya, terus berputar di dalam kepalanya tanpa henti.
Arka menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih memburu. Ia melangkah mendekati tepian air, berjongkok, lalu membasuh wajahnya dengan air danau yang terasa dingin menggigit kulit.
"Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan gulungan itu," gumam Arka pelan pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh desau angin pagi yang menggoyang rimbunnya pepohonan salix di sekeliling danau.
Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada, dan menatap pantulan wajahnya sendiri di atas riak air yang tenang. Pikirannya berkecamuk. Sebagai pewaris tunggal dari garis keturunan penjaga gerbang timur, beban berat kini berada di pundaknya. Setiap keputusan yang ia ambil bukan lagi tentang keselamatan dirinya sendiri, melainkan tentang kelangsungan rahasia besar yang telah dijaga oleh keluarganya turun-temurun.
"Apakah aku harus terus berlari?" tanyanya lagi, kali ini nada suaranya menyiratkan kepenatan yang teramat sangat.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyerap ketenangan alam sekitar untuk menjernihkan batinnya yang keruh. Namun, kedamaian semu itu tidak berlangsung lama. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara ranting patah yang diinjak oleh sesuatu yang bergerak sangat cepat. Arka langsung membuka matanya, insting bertarungnya seketika bangkit. Ia merendahkan kuda-kuda tubuhnya, tangan kanannya refleks meraba gagang pedang kayu yang terselip di pinggangnya. Matanya tajam memindai setiap jengkal sudut pandang di balik semak-semak belukar yang mengelilingi tepian danau.
❖ ❖ ❖
Tanpa diduga, permukaan air danau yang semula tenang tiba-tiba bergolak hebat seolah ada pusaran raksasa yang mengamuk di dasarnya. Buih-buih putih mendidih ke permukaan, memecah kesunyian pagi dengan suara gemuruh yang menggetarkan tanah tempat Arka berpijak.
"Apa yang terjadi di bawah sana?" seru Arka terkejut, melangkah mundur dua langkah untuk menjaga jarak aman dari tepi air.
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, sebuah bayangan putih melesat keluar dari dalam air dengan kecepatan kilat. Sosok itu bagaikan kilatan petir yang menembus kabut, meluncur lurus ke arah Arka dengan ujung pedang baja berkilau tajam yang terhunus sempurna. Sosok tersebut adalah seorang gadis berkerudung putih, dengan kain penutup wajah yang menyembunyikan sebagian besar parasnya, namun menyisakan sepasang mata kelam yang memancarkan kebencian mendalam serta kemarahan yang meluap-luap.
"Mati kau, keparat Golongan Hitam!" teriak gadis itu dengan suara nyaring yang menusuk pendengaran, penuh tekanan tenaga dalam tingkat tinggi.
Arka terkesiap hebat. Serangan itu datang begitu cepat dan tanpa peringatan apa pun, membuat otaknya harus berputar sepersekian detik untuk memutuskan tindakan. Pedang gadis itu mengarah tepat ke titik mematikan di dada bagian kanannya. Desingan angin akibat tajamnya mata pedang bahkan sudah terasa menyentuh kulit Arka sebelum bilah besi itu benar-benar tiba di hadapannya.
"Tunggu! Kau salah paham!" pekik Arka keras, mencoba menghentikan laju serangan dengan suara lantang, namun teriakan itu diabaikan begitu saja oleh sang gadis.
Gadis berkerudung putih itu tidak mengendurkan serangannya sedikit pun. Gerakannya semakin beringas, seolah kehadiran Arka di tempat itu adalah sebuah dosa besar yang harus dibayar seketika dengan nyawa.
❖ ❖ ❖