KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Tera, gadis anggun berpikiran dingin

Malam itu, angin laut bertiup kencang, menghantam tebing karang terjal di pesisir selatan. Ombak besar pecah berderai, menebarkan buih putih yang berkilau di bawah sinar bulan sabit. Di atas salah satu batu karang yang menjorok tajam ke laut, sesosok bayangan mendarat tanpa suara.

Tera berdiri di sana dengan anggun. Gaun malamnya berkibar lembut ditiup angin garam, namun posturnya tetap kaku, dingin, dan penuh kewaspadaan. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, mengunci sosok seorang pemuda bernama Arka yang berdiri beberapa meter darinya. Tidak ada rasa gentar di wajahnya yang jelita; yang ada hanyalah ketenangan mutlak yang hampir menyerupai kematian.

Arka merapatkan jubahnya, mencoba menahan terpaan angin dingin yang menusuk tulang. Napasnya sedikit memburu setelah perjalanan panjang menyusuri tebing curam tersebut. Ia menatap gadis di hadapannya dengan campuran rasa kagum dan cemas.

"Kau tidak seharusnya datang ke tempat ini, Tera," ucap Arka, suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak yang menggulung di bawah mereka. "Tempat ini berbahaya. Mereka yang mencarimu tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan."

Tera tidak langsung menjawab. Ia perlahan melangkah maju, sepatunya bergeming di atas batu basah tanpa terpeleset sedikit pun. Gerakannya begitu terukur, menunjukkan kontrol tubuh yang luar biasa sempurna.

"Bahaya?" Tera akhirnya bersuara, nadanya datar, dingin, dan menusuk langsung ke dalam kesadaran Arka. "Bagi siapa, Arka? Bagi mereka yang datang mencariku, atau justru bagimu yang sejak tadi gemetar ketakutan di balik jubahmu itu?"

Arka mendengus pelan, mencoba mempertahankan harga dirinya di hadapan sang gadis. "Aku tidak gemetar karena takut. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu. Sekelompok pembunuh bayaran dari faksi utara telah dikerahkan untuk menangkapmu hidup-hidup."

"Biarkan mereka datang," balas Tera singkat, pandangannya beralih menatap cakrawala malam yang gelap gulita. "Aku sudah lelah bersembunyi dari para pengecut yang hanya berani menyerang dalam kegelapan. Jika mereka ingin darahku, mereka harus datang sendiri dan mengambilnya dari ujung pedangku."

Suasana di antara mereka mendadak menjadi sangat sunyi, terlepas dari suara deburan ombak yang terusmenerus menghantam karang. Arka menelan ludah, menyadari bahwa gadis di depannya bukan sekadar bangsawan pelarian biasa. Di balik keanggunan fisiknya, tersimpan kekuatan mengerikan yang siap meledak kapan saja.

"Kau terlalu meremehkan mereka," kata Arka memperingatkan, suaranya sedikit bergetar. "Mereka bukan prajurit biasa. Mereka adalah bayangan yang tidak memiliki belas kasihan."

Tera melirik sekilas ke arah Arka, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyuman tipis yang sinis. "Dan aku adalah badai yang akan melenyapkan bayangan itu tanpa ampun."

❖ ❖ ❖

Sebelum Arka sempat merespons perkataan Tera, udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi dingin yang tidak wajar. Suhu turun drastis dalam hitungan detik, membuat embun di atas bebatuan karang langsung membeku menjadi kristal es kecil.

Kring!

Sebuah suara logam bergesekan dengan cepat terdengar dari kegelapan semak belukar di atas tebing. Dari balik kegelapan malam, belasan sosok bertopeng hitam bermunculan bagaikan hantu. Mereka adalah sekelompok bandit bayangan, pembunuh berdarah dingin yang terkenal kejam di seluruh daratan pesisir.

"Awas!" seru Arka panik, langsung menghunus pedang pendek dari balik pinggangnya.

Sekelompok bandit bayangan itu tidak membuang waktu untuk berbicara. Memanfaatkan situasi yang kacau dan tiupan angin laut yang kencang, mereka menyerang Tera dan Arka secara serentak dari berbagai arah. Ada yang melompat dari atas tebing membawa belati beracun, ada pula yang merayap cepat di atas karang rendah untuk memotong jalur pelarian mereka.

Arka mengayunkan pedangnya dengan liar ke depan, menangkis serangan pertama dari seorang bandit yang melompat ke arahnya. Benturan logam beradu nyaring, memercikan bunga api di tengah kegelapan malam.

"Mereka mengepung kita!"teriak Arka di tengah kesibukannya menangkis tusukan bertubi-tubi. "Terlalu banyak, Tera!"

Tera sama sekali tidak terlihat panik. Dengan postur tubuh yang tetap tegak dan anggun, ia membiarkan para bandit itu mendekat dalam jarak yang sangat dekat. Matanya mengawasi setiap pergerakan musuh dengan ketepatan seorang pemburu berpengalaman.

Lihat selengkapnya