KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Serangan mendadak Golongan Hitam

Malam di Lembah Sunyi seharusnya menjadi saat yang paling sakral. Angin gunung berhembus lembut menyapu dedaunan pinus, membawa kesejukan yang menenangkan jiwa para pertapa yang sedang bermeditasi. Di dalam aula utama yang diterangi cahaya temaram dari puluhan lilin giok, Ki Ageng Wira duduk bersila di atas lantai batu marmer putih. Napasnya teratur, menyatu dengan keheningan malam.

Namun, kedamaian itu mendadak pecah tanpa peringatan.

Sebuah suara ledakan yang menggelegar mengguncang tanah, meretakkan dinding batu di sisi barat kompleks pertapaan. Getarannya begitu kuat hingga beberapa lilin giok terjatuh dan pecah berkeping-keping.

"Ada apa itu?" seru Ki Ageng Wira, matanya terbuka tajam, memancarkan binar energi tenaga dalam yang matang. Ia langsung bangkit berdiri, jubah putihnya berkibar tertiup angin tekanan tenaga dalam yang mendadak liar di luar.

Murid utamanya, Arya, berlari masuk ke dalam aula dengan napas tersengal-sengal. Wajah pemuda itu pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Guru! Kita diserang! Gerbang utama hancur lebur dalam sekejap!" teriak Arya dengan suara bergetar hebat.

"Tenanglah, Arya! Jangan biarkan panik menguasai pikiranmu. Siapa yang berani mengusik Lembah Sunyi?" tanya Ki Ageng Wira dengan nada tegas namun tetap tenang, berusaha meredam kepanikan muridnya.

"Golongan Hitam, Guru! Mereka datang dalam jumlah yang sangat banyak!" jawab Arya, mencengkeram gagang pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Pimpinan mereka... mereka menggunakan panah beracun dan jimat peledak tingkat tinggi. Penjagaan gerbang sama sekali tidak sempat memberikan perlawanan berarti!"

Ki Ageng Wira mengerutkan keningnya. Alis putihnya yang tebal hampir menyatu. "Golongan Hitam... rupanya dendam lama belum juga padam. Cepat, bunyikan lonceng peringatan darurat sebanyak tiga kali! Kumpulkan seluruh murid di halaman tengah sekarang juga!"

"Baik, Guru!" Arya segera membalikkan badan dan berlari keluar menuju menara lonceng.

Suara dentang lonceng pertapaan membelah langit malam yang kelam, menggema ke seluruh penjuru lembah, memperingatkan seluruh penghuni bahwa bahaya besar sedang mengancam eksistensi Lembah Sunyi.

❖ ❖ ❖

Belum sempat gema lonceng ketiga mereda, situasi di luar aula utama berubah menjadi lautan neraka. Ratusan prajurit berzirah hitam legam menerobos masuk melalui gerbang utama yang kini tinggal puing-puing berasap. Mereka bergerak seperti gerombolan hantu malam, mengenakan topeng besi bergambar tengkorak menyeringai.

Tanpa ampun, para penyerang itu mulai membakar bangunan-bangunan suci di sekitar kompleks pertapaan. Obor-obor beracun dilemparkan ke atap ijuk dan kayu jati, menciptakan kobaran api merah yang melahap bangunan dengan cepat. Udara yang tadinya dingin dan segar kini berubah menjadi sesak, dipenuhi oleh bau belerang dan asap pekat.

"Sebar racun pemati rasa ke seluruh penjuru angin!" perintah seorang komandan pasukan berzirah hitam dengan suara serak dan kejam dari atas kuda hitam legamnya.

Beberapa prajurit di barisan depan segera melemparkan tabung-tabung bambu kecil ke udara. Tabung-tabung itu meledak di langit malam, mengeluarkan kabut ungu beracun yang mulai turun perlahan menyelimuti halaman pertapaan.

Sejumlah murid Lembah Sunyi yang berlari keluar untuk melakukan perlawanan tiba-tiba terhuyung-huyung.

"Argh... tenggorokanku... rasanya terbakar!" teriak salah seorang murid muda, menjatuhkan pedangnya ke tanah sebelum akhirnya jatuh pingsan akibat terhirup racun tersebut.

"Tahan napas kalian! Jangan hirup kabut itu!" seru Ki Ageng Wira yang melangkah keluar mendampingi para tetua pertapaan. Ia mengalirkan tenaga dalamnya ke telapak tangan, lalu mendorongnya ke depan, menciptakan hembusan angin kuat yang berhasil meniup sebagian kabut ungu menjauh dari kerumunan muridnya.

Lihat selengkapnya