Desir angin malam membawa aroma debu dan sisa-sisa arang dari reruntuhan Pertapaan Langit Biru yang telah hancur lebur beberapa hari lalu. Di bawah naungan langit tanpa bintang, Arka melangkah pelan dengan napas yang memburu. Di sampingnya, Tera berjalan seraya memegang lengan jubahnya yang robek akibat gesekan semak duri. Keduanya tidak berniat mencari masalah, tetapi takdir seolah sengaja menyeret kaki mereka mendekati zona terlarang tersebut.
"Kita tidak seharusnya berada di sini, Arka," bisik Tera, matanya awas menatap bayangan-bayangan gelap yang menjulang di balik reruntuhan pilar batu raksasa. "Pasukan Golongan Hitam masih menyisihkan orang-orangnya untuk memburu sisa artefak di tempat ini. Jika mereka melihat kita..."
"Kita hanya berniat mencari tempat berlindung untuk melepas lelah, Tera. Hujan badai akan segera turun," jawab Arka tenang, meski jemarinya menggenggam erat gagang pedang di pinggangnya. "Lagi pula, siapa yang menyangka reruntuhan ini begitu luas? Kita sudah berjalan jauh dari jalur utama."
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka berubah dingin secara drastis. Suhu yang semula hangat oleh sisa musim panas mendadak merosot hingga membuat bulu kuduk merinding. Suara angin yang tadinya menderu seketika lenyap, digantikan oleh keheningan mutlak yang menekan dada.
"Arka... dengar itu," ucap Tera tertahan, menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia mencengkeram lengan Arka lebih erat.
Dari tengah-tengah tumpukan puing batu pualam yang terkubur, sebuah getaran halus merambat lewat tanah. Getaran itu membesar, berdenyut seirama dengan detak jantung mereka sendiri.
"Tanah ini... bergetar," kata Arka, matanya membelalak saat melihat retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaan tanah di hadapan mereka.
Dari celah-celah retakan tersebut, pendar cahaya keemasan yang menyilaukan mulai memancar keluar, menembus kegelapan malam bagaikan ribuan jarum cahaya. Cahaya itu bukan cahaya biasa; ia memancarkan energi purba yang begitu masif, membuat udara terasa berat dan menyesakkan. Arka dan Tera terhuyung ke belakang, kehilangan keseimbangan seketika saat tarikan gravitasi di area itu mendadak berubah arah.
"Arka! Apa ini?!"teriak Tera tertutup suara dengungan energi yang semakin lama semakin memekakkan telinga.
"Aku tidak tahu! Jangan lepaskan tanganku!" seru Arka balas berteriak, mengerahkan seluruh tenaga untuk menggapai tangan Tera di tengah pusaran angin mendadak yang menderu kencang.
Namun, kekuatan tarikan itu jauh melampaui kemampuan fisik manusia biasa. Sebelum jari-jari mereka sempat saling mengunci erat, sebuah gelombang kejut energi emas menyergap tubuh keduanya, mengangkat mereka dari permukaan tanah dan menyeret mereka langsung ke pusat reruntuhan.
❖ ❖ ❖
Silau cahaya emas yang menyembur dari pusat reruntuhan tidak hanya menyambar Arka dan Tera, melainkan juga membentuk sebuah kubah raksasa transparan yang berkilau di udara. Kubah itu mengembang dengan cepat, menciptakan batas tak kasat mata yang melingkupi radius satu li persegi dari lokasi reruntuhan.
Di luar kubah cahaya tersebut, sepasukan prajurit berzirah hitam legam dengan lambang bulan sabit merah di dada mendadak menghentikan kuda-kuda mereka. Pemimpin pasukan, seorang jenderal bermata satu bernama Baikal, menarik tali kekang kudanya hingga meringkik kencang.
"Jenderal! Ada anomali energi dari arah reruntuhan!" lapor seorang prajurit pengintai yang datang menderu dengan kuda hitamnya.
Baikal menyipitkan mata tunggalnya, menatap kubah emas berkilau yang kini memantulkan bayangan langit malam. "Kitab Teratai Agung... itu pasti kemunculannya! Cepat, kepung area itu! Jangan biarkan siapa pun mendahului kita, terutama mangsa dari sekte lain!"
Prajurit Golongan Hitam segera bergerak serempak, menghunuskan pedang panjang beracun dan merangsek maju menuju batas kubah. Namun, begitu ujung pedang pemimpin barisan depan menyentuh dinding cahaya emas, sebuah pantulan gelombang kejut yang dahsyat melontarkan mereka seketika. Puluhan prajurit terpental mundur, mengerang kesakitan dengan kuda-kuda yang lari ketakutan.
"Sial! Pertahanan macam apa ini?" geram Baikal, melompat turun dari kudanya dan mendekati dinding cahaya tersebut. Ia mengalirkan tenaga dalam tingkat tinggi ke telapak tangannya, lalu menghantamkannya ke permukaan kubah.
BARRR!
Sebuah ledakan balik membuat Baikal terdorong mundur tiga langkah, telapak tangannya hangus mengepulkan asap hitam. Dinding cahaya itu sama sekali tidak bergeming. Dari dalam puing-puing, sebuah objek berbentuk gulungan naskah kuno yang dikelilingi kelopak teratai mulai melayang perlahan ke udara.