Cahaya fajar merayap malas melalui celah-celah jendela kayu berjeruji, menyoroti debu yang menari-nari di udara kamar loteng yang sempit. Aroma kayu tua bercampur bau jerami basah mendominasi indra penciuman Arka saat ia perlahan membuka matanya. Rasa sakit yang semalam menghujam dada kirinya kini mereda, menyisakan denyut tumpul yang mengingatkannya pada pertempuran sengit di hutan kabut. Ia menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kesadaran di tempat asing yang sunyi ini.
"Kau sudah bangun, Arka?" Suara Tera terdengar lembut dari ranjang di sudut seberang ruangan.
Arka menoleh dan mendapati gadis itu sedang duduk bersila, memijat pelipisnya yang masih menyisakan sisa kelelahan. "Ya, baru saja," jawab Arka seraya bangkit perlahan, merapikan jubahnya yang kusut. "Di mana kita sebenarnya? Semalam aku terlalu lelah untuk mengenali bentuk ruangan ini."
Tera menatap sekeliling kamar loteng tersebut dengan mata menyipit. "Ini adalah kedai perbatasan terakhir sebelum memasuki wilayah Pegunungan Bayangan. Orang-orang yang menyelamatkan kita malam tadi mengatakan bahwa tempat ini dikelola oleh jaringan persilatan netral yang sangat terpercaya. Mereka sudah biasa menyembunyikan para pelarian dari kejaran Golongan Hitam."
Arka melangkah mendekati jendela, mengintip keluar ke arah jalanan kecil di bawah yang masih sepi. "Meski aman, kita tidak boleh tinggal terlalu lama di sini. Golongan Hitam pasti sudah mengendus arah pelarian kita. Kitab Teratai Agung yang kita bawa terlalu berbahaya jika jatuh ke tangan mereka."
"Aku tahu, Arka," balas Tera sambil berdiri, merapikan ikatan pedang di pinggangnya. "Tapi setidaknya tubuh kita butuh sedikit waktu untuk pulih sepenuhnya. Tanpa tenaga dalam yang prima, kita tidak akan mampu melewati Lembah Kematian di depan sana."
"Aku tidak yakin kita punya waktu luang sebanyak itu," kata Arka serius, matanya menatap tajam ke arah tangga kayu tua yang menjadi satu-satunya akses masuk ke kamar loteng tersebut. "Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku sejak subuh tadi. Suasana di luar kedai ini terlalu sunyi, tidak seperti biasanya."
Tera mengernyitkan dahi, merasakan ketegangan yang tiba-tiba merayap di udara. "Maksudmu... mereka telah menemukan kita secepat ini?"
"Aku harap aku salah," bisik Arka, tangannya secara perlahan meraba hulu pedang yang terselip di punggungnya.
Suasana di dalam kamar mendadak berubah dingin. Hembusan angin pagi yang masuk melalui celah dinding kayu membawa bau asing yang tidak biasa—bukan bau debu kedai atau aroma masakan dapur, melainkan bau baja dingin dan aura tenaga dalam yang sangat kuat. Arka dan Tera saling bertukar pandang dalam diam. Keduanya tahu persis apa arti kehadiran aura tersebut: bahaya besar sedang mendekat.
❖ ❖ ❖
Belum sempat Arka melangkah lebih dekat ke arah pintu, suara derit engsel kayu yang berkarat memecah keheningan pagi. Pintu kamar loteng itu terbuka lebar dengan dorongan halus namun bertenaga, memperlihatkan pemandangan yang membuat napas Arka tertahan seketika.
Di ambang pintu, berdiri delapan orang berpenampilan pendekar dengan jubah perjalanan yang basah oleh embun pagi. Mereka berdiri mengelilingi tempat tidur tempat Arka dan Tera baru saja beristirahat, membentuk lingkaran rapat yang menutup jalur keluar. Wajah kedelapan orang itu menyiratkan kecemasan yang mendalam, mata mereka menatap kedua anak muda di hadapan mereka dengan campuran rasa lega dan kekhawatiran yang luar biasa.
"Siapa kalian?!" seru Arka tajam, tubuhnya langsung memasang kuda-kuda bertarung dengan tangan mencengkeram hulu pedang erat-erat.
"Tenanglah, anak muda," ucap salah satu pendekar bertubuh tegap di barisan depan dengan suara parau namun menenangkan. "Kami tidak berniat buruk kepada kalian."
"Kalian mengepung kamar kami tanpa suara, dan sekarang meminta kami untuk tenang?" Tera menyela dengan nada dingin, tangannya sudah melesat mencabut setengah bilah pedangnya dari sarung. "Kalian adalah mata-mata Golongan Hitam, kan?"
"Bukan! Demi langit dan bumi, kami bukan musuh kalian!" seru pendekar wanita berambut dikepang satu yang berdiri di sebelah kiri, wajahnya tampak sangat cemas melihat reaksi defensif Arka dan Tera. "Jika kami berniat membunuh kalian, kalian berdua sudah kehilangan nyawa sejak fajar tadi saat masih terlelap."
Arka memicingkan matanya, mengamati setiap gerak-gerik kedelapan orang di hadapannya. Secara penampilan, mereka memang mengenakan jubah khas pengembara persilatan bebas, bukan seragam hitam kelam milik para algojo musuh. Namun, di dunia persilatan yang kejam ini, penampilan bisa sangat menipu. Aura tenaga dalam yang mengalir dari tubuh kedelapan orang itu terasa sangat matang dan terlatih, menandakan bahwa mereka bukanlah pendekar sembarangan.
"Jika kalian bukan musuh, lalu apa kepentingan kalian mendatangi kamar loteng terpencil ini tanpa diundang?" tanya Arka tegas, sorot matanya menyelidik tajam.
"Kami datang karena sebuah panggilan nurani dan takdir," jawab pendekar bertubuh tegap tadi sambil melangkah selangkah lebih maju, mengabaikan ancaman pedang Tera. "Nama saya Ki Ranu, dan mereka adalah saudara-saudara seperguruanku dari berbagai aliran persilatan nusantara. Kami telah berkelana selama berminggu-minggu demi mencari keberadaan kalian."
"Mencari kami?" Tera mendengus sinis, genggamannya pada pedang semakin erat. "Jangan mengarang cerita. Bagaimana kalian bisa tahu keberadaan kami di kedai terpencil ini?"
"Karena resonansi," sahut seorang pendekar pria paruh baya di barisan belakang dengan tenang. "Resonansi Kitab Teratai Agung yang kalian bawa di dalam bungkusan itu."