KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Perkenalan Fathan dan Galin

"Selamat datang di tempat persembunyian sementara kita, Arka. Tempat ini cukup aman dari jangkauan faksi luar, setidaknya untuk beberapa jam ke depan," ujar Tera sambil meletakkan gulungan peta usang di atas meja kayu yang mulai lapuk.

Arka mengangguk pelan, matanya menyapu sekeliling interior kedai tua yang remang-remang. Aroma kayu tua dan debu tebal berpadu dengan udara malam yang dingin. "Kita tidak bisa terlalu lama bersantai di sini, Tera. Para pengikut Golongan Hitam pasti sudah mencium jejak kita sejak insiden di gerbang selatan."

"Kau benar, Arka. Karena itulah aku tidak datang sendirian ke tempat ini," balas Tera sambil tersenyum tipis, lalu menoleh ke sudut ruangan yang gelap. "Kalian berdua, keluarlah. Tunjukkan diri kalian kepada pemimpin baru kita."

Dua sosok tubuh yang tinggi tegap melangkah keluar dari bayang-bayang ruangan. Cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip memperlihatkan postur tubuh mereka yang luar biasa besar, dibalut jubah pelindung tebal berbahan kulit naga yang sudah tergores di berbagai sisi. Di punggung masing-masing, terselip sebuah perisai baja legam berukir lambang perisai kembar—simbol khas pelindung garis depan.

"Nama saya Fathan, Tuan Arka. Mulai detik ini, perisai saya adalah dinding pertahanan pertama dan terakhir bagi keselamatan Anda," ucap Fathan dengan suara berat yang menggelegar, bernada penuh ketegasan dan rasa hormat. Ia membungkuk setengah badan, gestur kesetiaan mutlak seorang prajurit sejati.

"Dan saya Galin, saudara kembar Fathan. Jangan khawatir soal keselamatan punggung Anda, Tuan. Selama kami masih bernapas, tidak ada satu bilah pedang pun dari Golongan Hitam yang bisa menyentuh ujung jubah Anda," timpal Galin dengan seringai tipis penuh keyakinan.

Arka memperhatikan kedua pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Aura kekuatan dan ketahanan fisik yang kuat terpancar jelas dari diri mereka. "Aku pernah mendengar reputasi perisai kembar dari Lembah Besi. Kehadiran kalian di sini adalah sebuah kehormatan besar bagiku, Fathan, Galin."

"Kehormatan itu milik kami, Tuan," jawab Fathan cepat. "Kami telah bersumpah untuk mendedikasikan hidup demi mengawal kebangkitan kelompok ini. Tidak ada kata mundur dalam kamus kami."

Tera melipat kedua tangannya di dada, merasa lega melihat sambutan yang hangat di antara mereka. "Mereka berdua bukan hanya sekadar prajurit biasa, Arka. Ketahanan fisik mereka telah diuji dalam berbagai pertempuran besar melawan pasukan elit kerajaan. Mereka adalah tembok hidup yang tidak akan pernah runtuh."

"Ketahanan fisik adalah modal dasar, Tera. Tapi kecerdasan membaca situasi di medan perang jauh lebih penting," kata Arka, menguji mental kedua pengawal barunya.

"Kami tahu betul risiko dari tugas ini, Tuan Arka," sahut Galin mantap. "Musuh kita licik dan bergerak dalam diam, tetapi perisai kami diciptakan untuk meredam segala bentuk serangan mendadak. Anda bisa mempercayakan lini pertahanan sepenuhnya kepada kami."

Suasana kedai sempat melonggar sejenak oleh obrolan strategi ringan antara Arka dan Tera, sementara Fathan dan Galin berdiri tegak di dekat pintu masuk, mengawasi setiap sudut jalanan luar dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan meskipun baru saja menempuh perjalanan panjang melintasi hutan perbatasan.

"Apakah perbekalan kita masih cukup untuk bertahan hingga esok pagi?" tanya Arka kepada Tera sambil menunjuk kantong logistik di lantai.

"Cukup untuk malam ini, tetapi kita harus segera mencari jalur evakuasi alternatif sebelum fajar menyingsing," jawab Tera serius.

Sebelum Arka sempat memberikan tanggapan lebih lanjut, keheningan malam yang sunyi mendadak pecah oleh suara hantaman keras dari arah luar kedai. Suara kayu yang patah dan desau angin tajam menandakan ada marabahaya besar yang datang menerjang tanpa peringatan.

❖ ❖ ❖

Brak!

Pintu depan kedai hancur berkeping-keping dalam satu tendangan kuat, menghujani ruangan dengan serpihan kayu yang tajam. Sekelompok pembunuh bayaran Golongan Hitam bersetelan hitam legam dan bermasker besi melompat masuk secara bersamaan, mengacungkan pedang pendek beracun yang berkilau di bawah temaram lampu.

"Kepung mereka! Jangan biarkan satupun dari mereka keluar hidup-hidup dari tempat ini!" teriak salah seorang pemimpin pembunuh bayaran dengan suara serak yang mengerikan.

Arka langsung bangkit dari kursi, menarik belati dari balik jubahnya. "Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraan kita!"

"Tetap di belakang kami, Tuan Arka!" seru Fathan tanpa ragu, melompat ke depan dengan gerakan yang sangat cepat untuk ukuran tubuh besarnya. Ia mencabut perisai baja dari punggungnya dan menancapkannya ke lantai kayu, menciptakan barikade kokoh.

Galin menyusul di samping saudaranya, memasang posisi kuda-kuda yang kokoh sambil memutar perisai di tangan kirinya. "Rupanya anjing-anjing Golongan Hitam belum jera setelah insiden di lembah kemarin!"

"Habisi mereka!" seru para pembunuh bayaran itu serempak, menerjang maju seperti sekawanan serigala lapar yang siap mencabik-cabik mangsanya.

Tujuh orang pembunuh bayaran langsung menyerang ke arah Fathan dengan tebasan membabi buta mengarah ke titik-titik vital. Suara dentingan logam beradu nyaring memekakkan telinga memenuhi ruangan sempit kedai tersebut.

"Terlalu lambat!" bentak Fathan. Ia memutar perisainya dengan tenaga penuh, menghantam dada salah seorang penyerang hingga terpental menembus dinding papan kedai.

Di sisi lain, Galin menyambut terjangan tiga pembunuh bayaran yang datang dari arah samping. Dengan gerakan siku yang terlatih, ia memukul jatuh musuh pertama sebelum bilah beracun sempat menyentuh kulitnya.

Lihat selengkapnya