KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Hadirnya Kamil, Rafar, dan Yafid

Malam merangkak lambat, menyisakan keheningan pekat yang mencengkeram sudut-sudut kedai tua di ujung perbatasan. Aroma kayu basah dan sisa minyak lampu berbaur di udara, menciptakan suasana yang menyesakkan. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sebatang lilin hampir padam, bayangan tiga orang pria tampak memanjang di dinding kayu yang lapuk.

Di tengah malam yang sunyi di dalam kedai, Kamil membentangkan peta kulit domba di atas meja kayu. Suara gemeresik kulit yang kaku terdengar nyaring di tengah keheningan, memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di antara mereka. Kamil menatap lembaran peta itu dengan mata tajam, jemarinya yang kasar menelusuri garis-garis tinta yang telah memudar dimakan usia.

"Waktu kita tidak banyak," ucap Kamil dengan suara serak namun tegas, matanya beralih menatap dua rekan dihadapannya. "Pasukan musuh bergerak lebih cepat dari perkiraan awal. Jika kita menunda keberangkatan ini barang semalam saja, pintu keluar terakhir dari kota ini akan sepenuhnya terkunci."

Rafar mengangguk pelan, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil memperhatikan setiap jengkal peta yang terbentang. Wajahnya menyiratkan kelelahan, namun sorot matanya tetap menyala tajam penuh kewaspadaan.

"Kau benar, Kamil. Tapi masalahnya bukan sekadar cepat atau lambat," balas Rafar dengan nada suara rendah. "Pertanyaannya adalah rute mana yang masih menyisakan celah untuk kita lewati tanpa memicu alarm dini dari pos-pos terdepan mereka."

Yafid, yang duduk di sisi lain meja dengan kepala tertunduk dan jemari mengetuk-ngetuk permukaan kayu, mengangkat wajahnya. Ia menghela napas panjang sebelum ikut berbicara.

"Golongan Hitam bukan pasukan sembarangan, Rafar. Mereka menggunakan sistem pengawasan berlapis. Setiap jengkal tanah di luar tembok kota ini sudah diawasi oleh mata-mata bayaran mereka," ujar Yafid memperingatkan.

Kamil menggelengkan kepala perlahan, mencoba meredakan keraguan yang mulai merayap di antara mereka. "Karena itulah kita bertiga ada di sini. Tiga kepala dengan tiga sudut pandang berbeda. Kita tidak sedang merencanakan jalan-jalan santai, kita sedang merancang garis hidup kita."

"Garis hidup yang bisa berubah menjadi tali gantungan jika salah melangkah," sahut Rafar tajam.

"Maka dari itu, jangan biarkan rasa takut mendikte akal sehat kita," jawab Kamil tegas. "Mari kita bedah situasi ini dari apa yang kau temukan di lapangan, Rafar."

❖ ❖ ❖

Rafar mendekatkan tubuhnya ke meja, meraih sebatang ranting kecil untuk menunjuk beberapa titik di atas peta kulit domba tersebut. Alisnya berkerut dalam, menandakan beban pikiran yang sedang dianalisisnya secara mendalam.

"Aku baru saja kembali dari peninjauan sektor utara dan timur dua jam lalu," kata Rafar memulai pemaparannya.

Rafar menganalisis pola patroli musuh dan menyimpulkan bahwa seluruh jalan utama telah ditutup oleh pasukan elit Golongan Hitam.

Suasana kedai mendadak terasa semakin dingin. Yafid mencondongkan tubuhnya, menatap lekat pada titik-titik yang ditunjuk oleh Rafar di atas peta.

"Seluruhnya? Tanpa terkecuali?" tanya Yafid memastikan, nada suaranya menyiratkan ketidakpercayaan.

"Tanpa terkecuali," jawab Rafar tandas. "Jalan perdagangan utama, jalur gerobak logistik, bahkan jalan setapak kecil yang biasa digunakan para pemburu liar kini telah dijaga ketat oleh unit infanteri berat mereka. Mereka mendirikan pos-pos pantau setiap lima ratus meter. Formasi pertahanan berlapis."

Kamil mengatupkan rahangnya rapat-rapat. "Ini gila. Berapa banyak pasukan yang mereka kerahkan untuk menutup semua akses itu?"

"Cukup untuk membuat seekor burung pun kesulitan terbang tanpa terlihat," jawab Rafar dingin. "Mereka mengerahkan setidaknya tiga batalyon Golongan Hitam, lengkap dengan anjing pelacak jenisHound Darah yang memiliki penciuman tajam. Jika kita nekat menerobos jalan utama, kita sama saja berjalan langsung ke dalam kandang algojo."

Yafid mengusap dagunya, berpikir cepat. "Kalau jalur darat utama sudah tertutup total, bagaimana dengan jalur air? Sungai Arus Deras di sebelah barat?"

"Sudah diblokade dengan jaring besi dan pos jaga terapung," potong Rafar cepat sebelum Yafid sempat meneruskan asumsinya. "Mereka tahu persis kebiasaan pelarian para buronan. Tidak ada celah di sana."

"Sial," umpat Yafid pelan, bersandar kembali ke kursinya dengan rasa frustrasi yang kentara. "Mereka menutup setiap pintu keluar seolah-olah kita ini adalah pasukan invasi besar, padahal kita hanya segelintir orang."

"Karena mereka tidak ingin ada satu pun saksi hidup yang lolos membawa informasi tentang pergerakan rahasia mereka di kota ini," kata Kamil dingin. Ia menatap peta itu sekali lagi, mencari alternatif yang tampaknya mustahil ditemukan. "Jika jalan utama tertutup dan jalur air diblokade, itu berarti kita hanya menyisakan jalur alam liar."

"Jalur alam liar yang mana, Kamil?" tanya Rafar menatap tajam. "Jangan katakan kau sedang memikirkan..."

Lihat selengkapnya