KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Peran Zahra dan Chafia dalam mengobati

Malam di sekitar kedai seolah kehilangan kehangatannya, berganti dengan udara dingin yang menusuk tulang dan membawa serta bau anyir darah yang terbawa angin dari perbatasan desa. Di halaman belakang kedai yang biasanya sunyi dan hanya diisi oleh suara jangkrik, kini berubah drastis menjadi kamp darurat yang penuh sesak. Tenda-tenda darurat yang terbuat dari kain terpal usang dan kain seadanya didirikan dengan tergesa-gesa demi menampung puluhan warga sipil. Mereka adalah para pengungsi malang yang berhasil meloloskan diri dari gelombang pembantaian keji yang dilakukan oleh gerombolan Golongan Hitam di desa tetangga. Tangisan anak-anak kecil yang ketakutan bercampur dengan rintihan kesakitan para orang tua yang mengalami luka parah menggema di setiap sudut tenda, menciptakan atmosfer keputusasaan yang begitu pekat.

"Tolong... ibumu ada di sebelah sana, Nak, tenanglah," bisik seorang pria paruh baya dengan pakaian terkoyak, mencoba menenangkan cucunya yang terus menangis di atas tikar tipis yang digelar langsung di atas tanah berlumpur.

Di tengah kekacauan dan kepedihan yang melanda tenda darurat tersebut, Zahra tampak bergerak lincah dari satu pasien ke pasien lainnya tanpa kenal lelah. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh peluh dan noda jelaga. Tangannya yang terampil terus membersihkan luka robek menggunakan air hangat dan kain bersih, sembari membisikkan kata-kata penenang kepada setiap korban yang hampir putus asa.

"Bertahanlah, Pak. Lukanya sudah saya bersihkan, sebentar lagi rasa sakitnya akan mereda," ucap Zahra dengan suara lembut namun tegas, berusaha menyalurkan ketenangan di tengah situasi yang sangat mencekam ini.

Pasien tersebut mengangguk lemah, menatap wanita muda itu dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih, Nona Zahra... Jika bukan karena kebaikan hati kalian di kedai ini, kami mungkin sudah mati membeku atau dihabisi oleh para iblis Golongan Hitam di jalanan."

"Jangan bicara yang berat-berat dulu, istirahatlah yang tenang," balas Zahra sambil tersenyum tipis, meski di dalam lubuk hatinya ia sendiri merasa cemas luar biasa melihat gelombang pengungsi yang terus berdatangan tanpa henti.

Sementara itu, di sudut tenda yang lain, beberapa warga membantu membaringkan seorang wanita muda yang mengalami luka sayatan parah di bagian bahu akibat tebasan pedang beracun. Situasi ini menuntut penanganan medis yang cepat dan akurat, karena racun dari senjata Golongan Hitam terkenal sangat mematikan dan dapat menyebar ke seluruh tubuh hanya dalam hitungan jam. Zahra segera bergegas menghampiri korban tersebut, menyiapkan botol-botol kecil berisi serbuk penawar racun dan perban bersih yang tersimpan di dalam keranjang kayu di sisinya.

Kehadiran para pengungsi ini bukan sekadar ujian fisik bagi Zahra, melainkan juga ujian mental yang sangat berat. Setiap wajah penuh derita yang ia temui adalah pengingat nyata akan kekejaman dunia persilatan di luar sana yang tidak pernah mengenal ampun terhadap orang-orang lemah. Namun, di tengah kesibukan yang luar biasa itu, Zahra sadar bahwa ia tidak boleh goyah. Ia adalah tumpuan harapan terakhir bagi puluhan nyawa yang sedang berjuang melawan maut di tenda darurat belakang kedai ini.

❖ ❖ ❖

Keadaan di dalam tenda darurat mendadak semakin tegang ketika Zahra bergeser untuk menangani seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun yang meronta-ronta kesakitan di atas ranjang bambu darurat. Kulit di sekujur lengan dan dada anak itu melepuh parah, memerah kehitaman akibat siraman minyak beracun yang merupakan ciri khas senjata rahasia milik pasukan terdepan Golongan Hitam. Setiap kali sentuhan kain kasa mengenai lukanya, bocah itu menjerit pilu hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ngilu di dada.

"Tahan sebentar, Nak, Bibi mohon tahan sebentar..." suara Zahra bergetar hebat saat ia melihat kondisi luka bakar kimia tersebut yang ternyata jauh lebih parah dari perkiraannya semula.

Zahra segera mengambil tabung bambu berisi salep penawar khusus untuk luka bakar akibat racun hitam. Namun, begitu tutup tabung itu dibuka, alisnya langsung berkerut dalam. Tabung tersebut ternyata sudah hampir kosong. Hanya tersisa sedikit pasta berwarna kehijauan di dasarnya—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk menutupi seperempat dari luka bakar di tubuh anak lelaki tersebut.

"Ya ampun..." gumam Zahra tertahan, jantungnya berdegup kencang dilanda kepanikan yang mendadak.

Seorang relawan desa yang membantu Zahra mendekat dengan wajah pucat. "Nona Zahra, bagaimana ini? Persediaan salep penawar racun minyak hitam kita di kotak obat utama sudah habis sama sekali. Ini adalah botol terakhir yang kita miliki."

Zahra menelan ludahnya yang terasa kelat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling tenda, menghitung jumlah korban lain yang bernasib serupa—setidaknya ada belasan orang yang mengalami luka bakar akibat minyak beracun yang sama dan membutuhkan pengobatan serupa dalam waktu dekat. Jika persediaan obat ini habis sekarang, maka korban-korban berikutnya tidak akan bisa diselamatkan dan hanya tinggal menunggu waktu sampai racun itu merusak organ internal mereka.

"Dengarkan saya," kata Zahra dengan nada berusaha tetap tenang di hadapan para relawan, meskipun keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Kita harus membagi sisa salep ini secara sangat tipis hanya untuk mencegah rasa sakit terburuk sementara waktu. Jangan sampai ada yang kehabisan total sebelum kita menemukan solusi."

Lihat selengkapnya