Angin malam berembus dingin menyapu lereng Bukit Bayang. Di balik rimba yang remang, Azalia melompat ringan ke atas dahan pohon beringin tua, menghilang ditelan kegelapan malam bersama bayangannya. Langkah kakinya tak bersuara sama sekali saat mendarat di atas kayu berlumut. Jubah bertudung kelam yang dikenakannya menyatu sempurna dengan keheningan hutan. Dari ketinggian itu, mata tajamnya menyapu lembah yang terhampar di bawah.
“Keadaan aman di atas, Risha,” bisik Azalia amat pelan, suaranya nyaris seperti desir angin yang melintasi dedaunan.
Risha, yang berdiri kaku di bawah bayang-bayang akar besar beringin, mengangguk pelan. Ia menyerap energi sekitar, menajamkan pendengarannya hingga suara gesekan daun terkecil pun sanggup ia bedakan.
“Jangan lengah, Azalia. Hawa membunuh di perbatasan selatan terasa lebih pekat dari biasanya,” sahit Risha seraya mengelus gagang pisau lempar di pinggangnya. “Musuh tidak pernah tidur di bawah langit kelam seperti ini.”
“Aku tahu,” balas Azalia sambil merayap lebih tinggi menuju dahan teratas. “Namun Perguruan Lembah Sunyi mempercayakan pengawasan malam ini kepada kita. Kita tidak boleh membiarkan satu jengkal pun tanah ini ditembus tanpa sepengetahuan kita.”
“Lembah ini terlalu tenang,” kata Risha dengan nada cemas. “Ketenangan sebelum badai selalu terasa paling menyesakkan.”
“Justru karena itulah kita di sini,” kata Azalia dari balik dedaunan. “Risha, periksa area lembah sebelah barat. Pastikan jalur air tidak disusupi.”
“Sudah kuperiksa sepuluh menit lalu,” sahut Risha cepat. “Jalur air jernih, tapi ada bau racun es yang membakar rumput liar di tepi sungai. Pasukan Golongan Hitam pasti sudah berada di radius dua mil dari sini.”
Azalia menahan napasnya sejenak. Ia mengatur ritme detak jantungnya agar sejajar dengan gelombang alam sekitar, sebuah teknik pengasingan diri khas yang ia pelajari selama bertahun-tahun. Dari balik cabang pohon yang lebat, ia memutar pandangannya ke arah jalan setapak yang membelah bukit.
“Kau benar,” gumam Azalia. “Aroma belerang dan busuk makin menguat. Mereka makin dekat.”
“Gunakan matamu baik-baik, Azalia,” imbau Risha seraya bergeser ke balik semak beracun. “Jika mereka melangkah lebih jauh, kita harus bertindak cepat sebelum mereka menyadari kehadiran kita.”
“Tetap di posisimu, Risha. Aku akan memperluas jangkauan pandangan,” ujar Azalia mantap.
Dengan gerakan sehalus bulu burung, Azalia melompat ke dahan pohon lain yang lebih menjulang. Bayangannya bergerak menembus kegelapan tanpa menyisakan jejak, seolah-olah ia adalah bagian dari malam itu sendiri.
❖ ❖ ❖
Di bawah sana, Risha memicingkan matanya menatap kegelapan hutan yang kian membeku. Ia menarik cermin perak kecil bersudut delapan dari balik saku bajunya. Dengan gerakan jemari yang terampil, ia menangkap berkas cahaya bulan yang menusuk di antara celah kanopi pohon, lalu memantulkannya perlahan ke arah dahan beringin tua.
Satu pantulan pendek. Dua pantulan panjang.
Azalia yang berada di dahan atas menangkap sinyal tersebut. Ia memiringkan kepalanya, menatap ke bawah.
“Ada apa, Risha?” bisik Azalia melalui teknik pemancaran suara terarah.
“Ada regu pengintai musuh yang mendekat,” sahut Risha melalui gerakan bibir yang dibarengi pantulan sinyal bulan berikutnya. “Tiga ratus langkah dari posisi bawah. Jumlah mereka lima orang, bergerak dalam formasi baji.”
“Apakah mereka membawa obor?” tanya Azalia.
“Tidak,” balas Risha lambat. “Mereka bergerak dalam gelap. Pakaian mereka serbahitam, berzirah tipis. Pasukan elit Bayangan Es.”
“Tetap bersembunyi di balik akar,” perintah Azalia. “Jangan letupkan hawa murnimu sedikit pun.”
“Mereka mengendus area sekitar,” bisik Risha seraya merapatkan tubuhnya ke tanah yang basah. “Pimpinan regu mereka memegang kompas pemantau hawa murni.”
“Sial,” desis Azalia. “Kompas itu sanggup mendeteksi pemusatan energi sekecil apa pun.”
“Apa kita harus menetralisir mereka sekarang?” tanya Risha, jemarinya sudah menjepit dua jarum perak tipis di antara sela jari tangannya.
“Jangan dulu,” cegah Azalia tegas. “Membunuh mereka sekarang akan memicu alarm regu induk. Biarkan mereka lewat di bawah posisiku. Aku akan mengawasi pergerakan mereka dari atas.”
“Perhatikan langkah mereka, Azalia. Salah satu dari mereka membawa bilah berlapis racun es,” peringat Risha.
“Aku melihatnya,” kata Azalia, matanya menatap tajam ke lima bayangan yang mulai merayap melintasi semak belukar di bawah beringin tua. “Mereka sangat hati-hati. Setiap langkah diteliti dengan cermat.”
“Cahaya bulan mulai tertutup awan,” desis Risha. “Ini kesempatan kita untuk tetap tak terlihat.”