KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Bayangan Teratai Belum Terikat

Ruang bawah tanah Kedai Daun Teja yang berbau kayu lembap dan rempah tua menjadi tempat bernaung bagi tujuh orang muda yang tampak letih. Cahaya remang dari lentera minyak di sudut ruangan memantulkan bayangan-bayangan panjang di dinding batu yang kasar. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu tebal bertindak sebagai pusat gravitasi kelompok tersebut. Seluruh anggota duduk melingkar dengan wajah tegang, menatap gulungan bambu berkain merah yang baru saja dibeberkan oleh Rian, sang pengembara informasi.

"Ini bukan lagi sekadar kabar angin yang berembus di pasar," ujar Rian memecahkan keheningan, suaranya serak namun terdengar jelas. "Pasukan lapis baja Perguruan Naga Emas sudah menyeberangi Sungai Sungai Hitam sejak kemarin malam. Paling lambat dalam tiga hari, mereka akan sampai di garis batas perguruan kita."

"Tiga hari?" bisik Sari, jemarinya meremas pinggiran lengan bajunya dengan cemas. "Bukankah garis pertahanan di bukit barat masih dijaga oleh pasukan sekutu?"

"Pasukan sekutu sudah kocar-kacir," potong Rian tegas. Ia menunjuk peta di atas meja. "Ksatria Naga Emas tidak datang sendirian. Mereka dipimpin langsung oleh Tiga Tetua Pembantai. Pukulan meraka menghancurkan perisai kayu hanya dalam sekali hantam."

"Artinya musuh tidak lagi berniat bernegosiasi," sambung Damar, pemuda bertubuh tegap yang bertengger di pojok ruangan seraya memangku pedang besarnya. "Mereka datang untuk meratakan tanah ini."

Arka, yang duduk bersedekap di sisi meja, mengangguk pelan. Senyum ramah yang biasanya menghiasi wajah pemuda itu kini lenyap, digantikan oleh garis bibir yang lurus dan penuh perhitungan. "Terima kasih atas laporannya, Rian. Sekarang kita tahu seberapa tipis batas waktu yang kita miliki."

"Tapi Arka," sela Bayu, anggota tertua dalam kelompok itu, "bagaimana dengan persenjataan kita? Tanpa bantuan dari sekutu luar, pertahanan balai utama tidak akan sanggup menahan gempuran Tiga Tetua itu lebih dari setengah hari."

"Senjata konvensional tidak akan berguna melawan serangan hawa murni tingkat tinggi mereka," ujar Arka halus, namun sarat penekanan. "Satu-satunya benteng yang tersisa untuk kita adalah kekuatan rahasia yang tersimpan dalam perguruan ini sendiri."

"Maksudmu... kitab kuno itu?" tanya Sari dengan mata membesar.

"Benar," jawab Arka tenang, matanya berganti menatap seorang gadis berambut hitam panjang yang duduk membisu di sebelahnya. "Satu-satunya alasan kita bisa bertahan dari invasi ini adalah jika kita mampu membangkitkan ajaran tertinggi yang selama ini tertidur."

Gadis itu, Tera, mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang tajam dan dingin bagaikan es di puncak gunung menatap lurus ke arah kumpulan anggota yang menanti jawaban.

"Bicara memang mudah, Arka," cetus Tera dingin, mengibaskan ujung selendang birunya. "Tapi kenyataan di lapangan tidak seindah rencana yang kaususun di atas kertas."

❖ ❖ ❖

Arka menarik gulungan kain merah kedua dari balik jubahnya lalu menggelarnya perlahan di atas meja, tepat di sebelah peta pertahanan Rian. Kitab Teratai Agung, sebuah manuskrip usang dengan tulisan tinta emas yang berkilau redup di bawah temaram lentera, kini terpampang nyata.

"Kalian semua perlu tahu situasi kita yang sebenarnya," kata Arka seraya menunjuk dua diagram bundar yang saling tumpang-tindih di dalam kitab. "Kitab Teratai Agung mengandung warisan tertinggi Perguruan Angin Sejuk dan Lembah Es: Jurus Teratai Kembar. Ini adalah jurus pertahanan dan penyerangan mutlak yang diciptakan untuk menghadapi ancaman sekelas Tiga Tetua Naga Emas."

"Jika jurus itu seluar biasa itu, kenapa tidak langsung kita gunakan untuk menghantam mereka dari atas bukit?" tanya Damar penasaran, mencondongkan tubuhnya ke depan.

Tera terkehak pelan—sebuah tawa kecil yang hampa tanpa kehangatan. "Kau berpikiran terlalu sederhana, Damar. Kitab ini bukan sekadar deretan petunjuk jurus yang bisa dipelajari dalam semalam lalu dipraktekkan begitu saja."

"Apa maksudmu, Tera?" tanya Sari bingung.

"Beban energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan Jurus Teratai Kembar sangatlah dahsyat," jelas Arka, mengambil alih pembicaraan dengan nada sabar. "Satu tubuh manusia tidak akan sanggup menampung alirannya tanpa hancur dari dalam. Jurus ini menuntut dua orang penguasa hawa murni murni untuk membagi beban tersebut secara seimbang."

"Dan dua orang itu adalah kau dan Tera?" tebak Bayu, matanya berganti menatap Arka dan Tera.

"Tidak ada pilihan lain," jawab Arka jujur. "Hanya kami berdua yang memiliki tingkatan hawa murni dasar yang cukup matang. Saya menguasai Angin Sejuk yang berkarakter hangat dan fleksibel, sementara Tera memegang Hawa Es Abadi yang padat dan tajam."

"Kedengarannya seperti perpaduan yang sempurna," puji Rian.

Lihat selengkapnya