KEMELUT TERATAI KEMBAR

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Latihan awal Arka dan Tera

Matahari pagi baru saja merayap naik, memantulkan sinarnya yang keemasan di atas rerumputan hijau di lapangan terbuka Desa Telaga Biru. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kesejukan pegunungan. Di sisi barat lapangan, dua sosok sahabat mereka, yakni Kirana dan Bayu, berdiri bersidekap dada sambil mengamati jalannya latihan dengan ekspresi serius campur cemas. Di tengah lapangan yang lapang itu, Arka dan Tera berdiri saling berhadapan dengan jarak hanya tiga langkah. Suasana di sekitar mereka terasa begitu senyap, seolah alam pun turut menahan napas menyaksikan awal dari sebuah ujian yang maha berat.

"Ingat, kunci dari sinkronisasi tenaga dalam bukan terletak pada siapa yang paling kuat, melainkan pada keikhlasan kalian untuk saling menerima aliran energi satu sama lain," seru Kirana dari pinggir lapangan, memberikan instruksi dengan suara yang sengaja dilembutkan.

Arka menghela napas panjang, mencoba merilekskan otot-otot di tubuhnya yang masih terasa kaku. Ia menatap gadis berkerudung putih di hadapannya dengan pandangan menyelidik. Kemarin mereka baru saja melewati insiden di tepi danau yang menegangkan, dan kini, atas desakan para tetua perguruan, mereka dipaksa untuk menyatukan kekuatan melalui latihan sinkronisasi chi dasar.

"Jangan menatapku seperti itu," ucap Tera ketus, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar dingin dan penuh ketidakpercayaan. "Jika kau tidak serius dalam latihan ini, lebih baik kita batalkan sekarang juga daripada kekonyolanmu mencelakai kita berdua."

Arka tersenyum tipis, berusaha meredam rasa jengkel yang mulai merayap di dadanya. "Aku sangat serius, Nona Tera. Justru aku khawatir kau terlalu tegang hingga membuat aliran tenaga dalammu membeku sebelum kita mulai."

"Aku tidak butuh ceramah dari seseorang yang baru kemarin belajar dasar pernapasan perguruan!" balas Tera tajam, sorot matanya menyorotkan ketidaksukaan yang amat sangat terhadap sikap santai Arka.

"Sudahlah, jangan mulai berdebat lagi," potong Bayu dari pinggir lapangan sambil mengangkat kedua tangan ke udara. "Cepat mulai sebelum matahari semakin tinggi dan membakar kepala kalian."

Arka mengangguk pelan. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, membuka telapak tangan ke depan, siap menyambut prosesi penyatuan energi yang diperintahkan. Tera pun melakukan hal yang sama, meski gerakannya tampak kaku dan penuh kehati-hatian, seolah ia sedang menyentuh seekor binatang buas yang sewaktu-waktu bisa menerkamnya. Jarak di antara telapak tangan mereka perlahan-lahan mulai menyusut, menepis jarak yang memisahkan kedua watak yang bagaikan minyak dan air itu.

❖ ❖ ❖

Saat ujung jari mereka akhirnya saling bersentuhan, sebuah sensasi kejut langsung menjalar ke seluruh saraf tubuh Arka. Alih-alih menyatu dengan damai, kedua aliran tenaga dalam mereka justru mendadak bergolak hebat. Suara dengungan frekuensi tinggi berderak di udara di antara telapak tangan mereka, memunculkan percikan-percikan api kecil berwarna biru keputihan.

"Arka! Tahan posisimu!" seru Kirana panik melihat ketidakstabilan energi yang tiba-tiba muncul.

Arka menggertakkan giginya, merasakan beban tekanan yang luar biasa besar menekan dadanya. Watak dasar Arka yang mengalir bebas bagai angin pegunungan bertubrukan langsung dengan sifat Tera yang keras, kaku, dan membentengi diri bagai karang terjal di tengah samudera. Ego di dalam diri mereka masing-masing menolak untuk tunduk atau sekadar menyesuaikan diri dengan frekuensi lawan.

"Kenapa tenaga dalammu keras sekali?" teriak Arka di tengah deru angin kecil yang tercipta akibat benturan energi tersebut.

"Karena kau tidak memiliki disiplin dalam mengendalikan fokusmu!" jawab Tera dengan napas tersengal-sengal, berusaha setengah mati menahan dorongan energi Arka yang terus mendesak masuk ke jalur meridiannya. "Tarik kembali chi-mu! Kau membuat jalur energiku kacau!"

"Aku tidak sedang mendesakmu! Ini reaksi alami dari pertentangan watak kita!" bela Arka, urat-urat di lehernya menonjol keluar karena mengerahkan seluruh tenaga untuk menjaga agar telapak tangan mereka tidak terlepas akibat tolakan energi yang semakin liar.

Lihat selengkapnya