Malam telah sepenuhnya menelan hutan perbatasan, menyisakan perkemahan kecil yang kini terbungkus dalam kesunyian yang pekat. Hanya derak kayu bakar yang sesekali pecah di dalam perapian yang menjaga suasana agar tidak benar-benar mati. Beberapa jam sebelumnya, area ini masih dipenuhi dengan keringat, teriakan instruksi, dan benturan senjata kayu yang saling beradu. Latihan hari itu memang sangat melelahkan, sebuah ujian ketahanan yang dirancang untuk memeras sisa-sisa tenaga mereka hingga ke titik nadir.
Arka menyandarkan punggungnya pada batang pohon ek besar, memejamkan mata sembari merasakan denyut nadi di pelipisnya yang masih terasa berdenyut. Di sekelilingnya, rekan-rekan seperjuangannya telah terlelap, kelelahan setelah seharian penuh berlatih teknik bela diri dan strategi pertahanan. Zahra, gadis yang paling rajin di antara mereka, baru saja masuk ke dalam tenda setelah memastikan semua perlengkapan tertata rapi.
Namun, di tengah kesunyian itu, Arka tidak bisa tidur. Pikirannya masih melayang pada bagaimana Tera, gadis yang biasanya tampak tak tersentuh oleh emosi, terus-menerus menekan dirinya hingga batas kemampuan. Tera tidak pernah mengeluh, tidak pernah membiarkan orang lain melihat kerapuhannya, namun Arka bisa merasakan bahwa gadis itu sedang memikul beban yang sangat berat—beban yang tak seorang pun tahu selain dirinya sendiri.
"Masih belum bisa tidur, Arka?" suara Zahra muncul dari balik tenda, pelan dan penuh kehangatan.
Arka membuka mata dan tersenyum tipis. "Ya, otaku masih bekerja terlalu keras sepertinya."
"Minumlah ini," Zahra menyodorkan sebuah cangkir kayu berisi teh herbal yang masih mengepulkan uap tipis. "Ini campuran daun mint dan bunga melati liar. Sangat bagus untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau."
Arka menerima cangkir itu dengan rasa terima kasih. Aroma hangat yang menguar dari teh tersebut memang memberikan efek relaksasi yang instan. "Terima kasih, Zahra. Kau selalu tahu apa yang kami butuhkan."
"Jangan terlalu memikirkan latihan besok," sahut Zahra dengan nada bercanda. "Tera mungkin memang keras, tapi dia hanya menginginkan kita selamat di medan pertempuran nanti. Dia tidak sekejam yang terlihat."
Arka terdiam sejenak, memandangi api yang mulai mengecil. "Aku tahu itu. Hanya saja, aku penasaran apa yang ada di balik dinding es miliknya itu. Dia tampak seperti seseorang yang terus-menerus berlari dari sesuatu, bahkan saat dia sedang diam sekalipun."
Zahra hanya menghela napas panjang dan menepuk bahu Arka sebelum beranjak menuju tendanya. "Terkadang, orang yang terlihat paling kuat adalah orang yang paling butuh seseorang untuk sekadar duduk di sampingnya, Arka. Mungkin kau bisa mencoba mencari tahu itu malam ini."
Arka memerhatikan punggung Zahra yang menghilang di balik tenda. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya, menantang keberanian yang selama ini dia simpan rapat-rapat. Dia bangkit berdiri, meletakkan cangkir kosongnya, dan mulai melangkah menjauh dari pusat perkemahan, menuju tebing karang kecil di mana dia melihat siluet seorang gadis duduk sendirian sedari tadi.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Arka teredam oleh rerumputan tebal. Semakin mendekat, dia bisa melihat dengan jelas sosok itu. Tera duduk sendirian di atas batu besar yang menghadap langsung ke arah langit malam. Rambut hitamnya tergerai bebas, tertiup angin malam yang dingin, namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada taburan bintang yang berkilau di cakrawala.
Arka berhenti di jarak yang cukup aman. Dari sudut pandang ini, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tera sedang memeluk kedua lututnya dengan erat, seolah-olah ia sedang mencoba melindungi dirinya dari dunia luar yang kejam. Bahunya sedikit merosot, tidak lagi tegak dan kaku seperti biasanya. Ada gurat kerapuhan di sana—sebuah ekspresi yang biasanya disembunyikan rapat-rapat di balik tatapan matanya yang tajam dan dingin.
"Tera?" panggil Arka pelan, hampir berupa bisikan agar tidak mengejutkannya.
Gadis itu tidak menoleh, namun bahunya menegang seketika. "Kenapa kau di sini, Arka? Seharusnya kau sudah beristirahat untuk latihan besok subuh."
Suaranya tidak terdengar tajam seperti biasanya, melainkan sedikit parau, seolah ada gumpalan emosi yang sedang ia coba telan. Arka perlahan melangkah maju, menapaki batu-batu kecil dengan hati-hati.
"Aku juga tidak bisa tidur," jawab Arka jujur. Ia berhenti tepat di bawah batu besar itu, mendongak menatap profil samping Tera yang tertimpa cahaya bintang. "Langit malam ini sangat indah, bukan? Sepertinya ini pertama kalinya aku benar-benar berhenti untuk melihatnya sejak kita memulai perjalanan ini."